Kelir, Karton, dan Cita-Cita: Kisah Hasnan Menjadi Dalang Muda

Hasnan Fathul Rafa sdang berlatih memainkan Wayang Kulit di rumahnya. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Hasnan Fathul Rafa lahir di Monggol, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Ia merupakan putra pasangan Amin Fauzi dan Puji Rahayu. Sejak kecil jalan hidup Hasnan sudah dekat dengan suasana pedesaan yang kental dengan tradisi.

Pada usia 4 tahun, sebelum ia masuk bangku sekolah dasar, kakak dari Husein Wafiq Rafaza ini mulai menunjukkan ketertarikan luar biasa pada wayang. Saat momen Rasulan atau hajatan lain yang menampilkan pertunjukan wayang di sekitar rumahnya, ia selalu diajak serta oleh orang tuanya menyaksikan.

Bacaan Lainnya

Di saat anak-anak lain sibuk berlarian, Hasnan justru memilih duduk di dekat kelir, tak jauh dari dalang. Serius memperhatikan jalannya pertunjukan. Bayangan tokoh wayang yang menari-nari di layar putih itu membuatnya terpesona. Setiap tokoh yang muncul memantik rasa ingin tahunya. Saat pertunjukan, ia tak bosan-bosan bertanya kepada orang tuanya tentang nama tokoh, karakter, dan jalan cerita.

“Kalau ada pertunjukan, Hasnan itu langsung duduk dekat kelir. Padahal kadang acaranya sampai tengah malam,” ujar sang ayah, Amin Fauzi, mengenang masa-masa awal ketertarikan putranya belum lama ini saat ditemui di kediamannya.

Melihat semangat itu, Amin dan istrinya, Puji Rahayu, tak tinggal diam. Mereka membelikan poster tokoh-tokoh pewayangan agar Hasnan bisa mengenal para Pandawa dan Kurawa di luar panggung. Poster itu bukan hanya hiasan kamar, melainkan bahan bacaan yang ia pelajari malam demi malam. Ketika rasa ingin tahunya makin besar, orang tuanya pun mencarikan buku wayang dan video pertunjukan.

Di bangku TK, Hasnan mulai meminta wayang sendiri. Orang tuanya membelikan wayang kertas. Namun karena terlalu sering dipakai bermain, wayang itu cepat rusak. Amin lalu membuatkan sendiri dari karton, bahkan dari mika agar lebih awet.

“Ya kami coba buatkan pakai bahan seadanya. Yang penting dia bisa main dan belajar,” ujar Amin sambil tersenyum.

Saat Hasnan duduk di kelas 3 SD, mereka memutuskan agar anaknya menimba ilmu ke Sanggar Pengalasan di Wiladeg, Karangmojo. Jarak yang cukup jauh dari rumah tak menyurutkan semangat. Kadang ayahnya mengantar, kadang pula simbahnya, Supardi, seorang pengrawit senior yang juga menjadi mentor kesenian di keluarga mereka.

Di sanggar itulah Hasnan belajar pedalangan secara terstruktur: sabetan, suluk, catur, hingga pakem-pakem Yogyakarta. Dari berbagai lomba yang diikuti, ia sering meraih uang pembinaan. Hingga akhirnya ia berhasil menabung sekitar Rp1,7 juta—jumlah yang ia gunakan untuk membeli satu paket wayang split berisi 26 tokoh.

“Itu uang dari hasil lomba yang dia kumpulkan sendiri. Dia memang pengin banget punya wayang sendiri, jadi kami biarkan dia belajar menghargai usaha,” tutur Amin.

Tahun 2023 menjadi tonggak baru. Hasnan mewakili Kecamatan Saptosari dalam Festival Pedalangan Anak tingkat Kabupaten Gunungkidul. Ia tampil penuh percaya diri. Suaranya mantap, sabetannya hidup, dan penguasaan cerita sangat kuat. Tak heran, ia meraih Juara 1 tingkat kabupaten, lalu melaju ke tingkat provinsi mewakili Gunungkidul dan meraih Juara 4 DIY.

Tak berhenti, ia menjajal Festival Wayang Golek. Meski berbeda dari wayang kulit yang biasa ia mainkan, namun mengesankan, Hasnan lagi-lagi meraih Juara 1.

Untuk menambah ilmu, Hasnan rajin menonton pertunjukan dalang idolanya, Ki Seno Nugroho, di YouTube. Ia sudah hafal berbagai lakon besar seperti Gathotkaca Lahir, Babat Alas Wanamarta, hingga Babat Alas Nggrastina. Ia membaca naskah-naskah pedalangan seperti membaca buku cerita, menghafal suluk, membayangkan adegan, dan menghidupkannya kembali di kelir buatan ayahnya di rumah.

Amin tak hanya menjadi ayah, tapi juga penyokong utama. Suatu hari, saat Hasnan akan tampil membawakan Wayang Kancil dalam lakon bertokoh hewan, koleksi wayangnya belum lengkap. Maka Amin pun turun tangan, membuat sendiri tokoh-tokoh binatang dari bahan seadanya.

“Kalau Hasnan ada pentas dan wayangnya kurang, ya saya buatkan. Nggak tega juga lihat anaknya sudah semangat tapi kekurangan alat,” ujarnya.

Semua pengorbanan itu, kata Amin, bukan beban. “Selama dia punya rutinitas positif dan jauh dari hal-hal negatif, buat kami itu sudah cukup. Soal biaya, capek, itu urusan belakangan.”

Antara Kelir dan Cita-Cita

Kini, Hasnan duduk di kelas VI SD Trowono 3. Ia tetap menjadi anak biasa yang bermain bola sore hari, bercengkrama dengan teman sebaya, tapi juga anak yang rajin berlatih dalang hampir setiap malam.

Untuk masa depan, ia sudah menata langkah: ingin masuk SMPN Saptosari, lanjut ke SMKI, dan akhirnya kuliah di ISI Yogyakarta. Ia ingin menjadi dalang profesional sekaligus guru seni, agar bisa menularkan kecintaan pada budaya kepada generasi berikutnya.

Wayang bukan sekadar tontonan baginya. Ia adalah panggilan, jalan hidup, dan cita-cita yang terus dibangun dari kelir sederhana di ruang tamu rumahnya.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait