Erlangga: Dari Wayang Kardus Hingga Mimpi Menjadi Dalang dan Dosen Seni

Erlangga Desta Wardhana sedang belajar menjadi dalang di rumahnya. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Erlangga Desta Wardhana lahir di Dusun Tukluk, Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, pada 20 Desember 2011. Ia tumbuh di lingkungan pedesaan yang sederhana bersama keluarga yang mendukung penuh minatnya pada seni tradisi.

Sehari-hari, remaja yang akrab dipanggil Angga ini tercatat sebagai siswa kelas VIII SMPN 1 Karangmojo. Di sekolahnya, ia tetap mengikuti pelajaran umum, tetapi di luar kelas, dunia pedalangan menjadi ruang utama untuk berkembang.

Bacaan Lainnya

Sejak bayi, Angga sudah menunjukkan ketertarikan pada wayang kulit. Saat masih berusia tiga bulan, orang tuanya membawanya merantau ke Jakarta. Kesehatannya sering terganggu. Ia mudah sakit dan pernah mengalami kejang tanpa penjelasan medis yang jelas.

Namun, ada kejadian yang tidak terlupakan. Ketika orang tuanya memutar CD pertunjukan wayang, tangis Angga berhenti. Ia tampak tenang, matanya berbinar. Sejak itu, wayang menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Tenang setiap dengar gamelan dan suara dalang,” kata ayah Angga, Suwarsono saat ditemui pada suatu petang di kediamannya. Sejak saat itu mendengar lantunan suara sekaligus melihat pertunjukkan wayang di layar kaca menjadi rutinitas.

Selain wayang, Angga juga tertarik pada campursari. Ia sering kagum melihat penyanyi Soimah tampil dengan busana Jawa. Kekagumannya tak ubahnya dengan melihat pertujukkan wayang kulit. Adapun dalang panutannya tetap para dalang besar. Awalnya Ki Manteb Sudarsono menjadi idolanya. Setelah Ki Manteb wafat, Angga menaruh hormat pada Ki Seno Nugroho.

Minat Angga disalurkan dengan cara sederhana. Ayahnya membuatkan wayang dari kardus bekas. Banner lusuh dijadikan kelir. Dari situ Angga berlatih memainkan tokoh kuda, gajah, atau ksatria sambil menonton VCD pertunjukan.

Setiap kali ayahnya pulang dari perantauan, mereka pergi ke Wonosari untuk membeli wayang. Angga selalu dibiarkan memilih sendiri. Filosofi sang ayah sederhana: kecintaan yang tulus muncul dari pilihan hati.

Pada usia lima tahun, Angga mulai belajar di Sanggar Pengalasan, Karangmojo. Awalnya ia hanya menonton. Namun begitu bisa membaca dan menulis, ia diperbolehkan masuk ke sanggar belajar pedalangan lebih serius.

Dukungan ibunya, Sunarni, sangat besar. Ia setia mengantar Angga berlatih meski harus menempuh jalan jauh dan naik-turun cukup tajam. Untuk keamanan, tubuh kecil Angga diikat ke tubuh ibunya saat dibonceng motor.

“Kadang saya ketiduran di jalan, tapi ibu tetap semangat nganter latihan,” cerita Angga menimpali.

Dari Rasulan Hingga Festival

Angga mulai tampil di acara Rasulan dusun sebagai dalang pembuka (mucuki). Dari panggung kecil inilah kepercayaan dirinya tumbuh.

Dunia lomba membuka kesempatan lebih luas. Ia pernah mewakili Ponjong dalam Festival Dalang Anak tingkat kabupaten. Meski harus bergiliran dengan peserta lain, pengalaman itu penting untuk membangun tekadnya.

Prestasi Angga pun terus meningkat:

  • Juara I Geguritan tingkat Kabupaten 2022

  • Juara IV Festival Wayang Kulit tingkat Kabupaten 2022

  • Juara III Festival Wayang Golek tingkat Kabupaten 2023

  • Juara II Festival Wayang Golek tingkat Kabupaten 2023

  • Juara I FLS2N Musik Tradisional tingkat Kabupaten 2025

Erlangga Desta Wardhana menerima piala dan piagam juara II pada Festival Wayang Golek di Gunungkidul. (ist)

Setiap hadiah lomba ia sisihkan untuk membeli wayang. Koleksinya kini semakin banyak dan menambah variasi tokoh yang bisa dimainkan.

“Kalau dapat hadiah, saya lebih senang beli wayang. Rasanya seperti punya teman baru di panggung,” katanya.

Bakat seni Angga tidak muncul begitu saja. Buyutnya, Nantiyo, dikenal sebagai pengendang tayub. Kakeknya juga pernah menjadi sutradara ketoprak. Lingkungan keluarga yang akrab dengan kesenian membuat minat Angga semakin kuat.

“Barangkali Angga ingin melanjutkan apa yang sudah ada di keluarga. Tapi lebih dari itu, Angga bisa mengembangkan supaya anak-anak muda juga cinta wayang,” ujar Suwarsono.

Disiplin dan Mimpi Masa Depan

Latihan menjadi rutinitas penting. Pagi sekolah, sore hingga malam ia belajar pedalangan dan karawitan. Ia juga bergabung dengan Sanggar Kendhalisodo untuk mendalami tari, agar gerakannya saat memainkan wayang lebih halus.

Orang tua selalu mendampingi. Setiap latihan dan pementasan direkam untuk bahan evaluasi. Angga tak lupa belajar mengatur uang. Honor pentas ia gunakan untuk membeli kain lurik, blangkon, hingga kambing sebagai tabungan.

Pada 2020, ayahnya memutuskan berhenti merantau. Kini ia mengelola kebun dan ladang di rumah demi bisa mendampingi Angga lebih penuh.

Rencana pendidikan Angga cukup jelas. Setelah lulus SMP, ia ingin masuk SMKI jurusan karawitan. Selanjutnya ia ingin kuliah di ISI jurusan pedalangan.

“Saya pengin jadi dalang, tapi juga dosen seni. Biar bisa ngajar dan berbagi ilmu,” kata Angga.

Sebagai dokumentasi, ia membuat kanal YouTube Erlangga_Chanel. Kanal ini menjadi arsip perjalanan pentas wayang sekaligus tempat belajar bagi dirinya sendiri.

Dari wayang kardus hingga panggung festival, perjalanan Erlangga Desta Wardhana menunjukkan bagaimana seni tradisi bisa tumbuh di generasi muda. Dukungan keluarga, disiplin belajar, dan kecintaan pada budaya Jawa menjadi modal utamanya.

“Wayang itu bukan cuma tontonan. Buat Angga, wayang adalah kehidupan. Sepertinya kepingin memainkan wayang, sampai kapan pun,” tukas Ayah Angga.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait