30 Tahun Marni Tinggal di Rumah Reot, Pemkab Gunungkidul Melalui Baznas Bangun Rumah Baru

Bupati Guungkidul dan Baznas mengunjungi penerima program penanganan RTLH. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Marni (75) warga Dusun Bendorubuh, Kelurahan Semugih, Kapanewon Rongkop tersenyum lega. Sebentar lagi rumah reot yang ia tinggali selama puluhan tahun akan dibangun lebih layak. Proses pembangunan dipastikan akan segera berlangsung usai Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih melakukan pengecekan langsung bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Gunungkidul, Senin (9/3/2026).

Untuk kesekian kalinya bupati melakukan kunjungan ke rumah warga yang akan mendapat bantuan program penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pengecekan lapangan ini menjadi bagian dari verifikasi kelayakan terhadap calon penerima bantuan dari pemerintah.

Bacaan Lainnya

“Ini adalah potret masyarakat kita. Ternyata masih ada warga yang tinggal dalam kondisi seperti ini,” kata Bupati mengungkapkan keprihatinan.

Dalam kunjungan, bupati mendapati fakta menyedihkan. Rumah lansia yang tinggal bersama anaknya ini dindingnya tak permanen. Compang- camping berlubang aneka papan menjadi penutup. Tanpa ada sanitasi, dapur, dan kamar tidur yang layak.

“Melalui Baznas sebelumnya sudah diidentifikasi, Banngunan rumah tak layak yang ditinggali selama 30 tahun ini berada di tanah ‘OO’ (red: tanah negara). Sehingga nanti akan menempati lahan baru di tanah saudaranya,” tutur Endah.

Agar program ini tidak salah sasaran, proses penentuan penerima dilakukan melalui verifikasi lapangan yang ketat oleh pendamping sosial dan pemerintah setempat berdasarkan data Desil.

Dalam kesempatan ini bupati mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial. Ia menghimbau warga agar aktif melapor jika menemukan tetangga yang tinggal di hunian tidak layak. Dengan kolaborasi antara pemerintah, Baznas, dan laporan aktif masyarakat, target Gunungkidul bebas dari rumah tidak layak huni diharapkan dapat segera tercapai.

Marni akan menerima bantuan tanpa diminta mengeluarkan biaya swadaya. Seratus persen bangunan baru dengan ukuran minimal 4×6 meter persegi akan dianggarkan oleh Baznas.

Untuk tahun anggaran 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menyiapkan strategi khusus untuk mengejar target ribuan unit bedah rumah. Bupati menjelaskan terdapat dua skema bantuan yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi penerimanya. Pertama, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS): Dditargetkan terhadap lebih dari 1.000 KK. Skema ini diperuntukkan bagi warga yang masih memiliki kemampuan ekonomi atau fisik untuk berkontribusi secara swadaya.

Adapun yang ke-2, Bantuan Penuh (100%): Dikhususkan bagi warga kategori Desil 1 (prasejahtera ekstrem). Pada kategori ini, pemerintah melalui Baznas menanggung seluruh biaya pembangunan tanpa membebani warga dengan biaya tambahan apa pun.

Marni merasa terharu atas bantuan yang ia terima. Saat menyambut dan bercakap dengan rombongan bupati serta Tim Baznas ia sempat menitikkan air mata.

“Kami sangat berterimakasih. Kami senang mendapat perhatian dari pemerintah,” ucapnya singkat.

Kebahagiaan serupa dirasakan oleh Saminem, seorang petani warga Melikan, Rongkop yang rumahnya hampir roboh. Dengan penuh haru, ia menyampaikan rasa syukur.

Maturnuwun Ibu Bupati, sampun rawuh ningali ndalem kulo. Kulo kalih anak-anak nggih sampun dibantu dibangunke, mergi sakderenge ndalem kulo niku nunut gek arep ambruk,” (Terimakasih Ibu bupati sudah meninjau rumah saya. Saya dan anak-anak dibantu pembangunan rumah, sebab sebelumnya rumah saya mau robog sehingga numpang tinggal) ungkap Saminem.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait