Situs Gembirowati, Menerawang Jauh Pertengahan Abad ke-16

oleh -
Juru Pelihara Situs Gembirowati, Joko Priyono saat bertugas merawat area situs. KH/ Kandar
iklan dispar
Juru Pelihara Situs Gembirowati, Joko Priyono saat bertugas merawat area situs. KH/ Kandar
Juru Pelihara Situs Gembirowati, Joko Priyono saat bertugas merawat area situs. KH/ Kandar

PURWOSARI, (KH)— Gunungkidul merupakan wilayah yang memiliki banyak cerita tutur dan sejarah perjalanan sebuah peradaban. Jejaknya ada baik sejak dari zaman prasejarah hingga sejarah. Bukti-bukti tersebut ada dengan ditemukannya berbagai situs di berbagai wilayah di Gunungkidul.

Salah satu peninggalan zaman dahulu yakni Situs Gembirowati. Bangunan kuno ini berada di Padukuhan Watu Gajah, Desa Girijati, Kecamatan Purwosari, Gunungkidul. Lokasinya di sebelah barat daya Gunungkidul. Bangunan ini merupakan situs yang dilindungi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY.

Juru Pelihara (Jupel) Situs Gembirowati, Joko Priyono saat ditemui di komplek situs mengatakan, setahu dia, tempat ini merupakan salah satu tempat yang digunakan sebagai pesanggrahan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Menjelaskan berdasar deskripsi pada papan informasi yang tersedia, petugas yang baru beberapa bulan bertugas di lokasi tersebut mengatakan, dalam Oudheidkundige Verslag (OV) 1925 FDK Bosch dalam tulisannya mengenai peninggalan-peninggalan di sekitar Kali Opak menyinggung adanya situs Gembirowati.

“Dia (FDK Bosch) berpendapat bila melihat gaya arsitektur bangunan melalui bentuk pilar dan hiasan diperkirakan peninggalan ini dibangun pada pertengahan abad ke 16. Sebagai tempat Pesanggrahan/ istirahat HB II pada masa pemerintahannya selama tiga periode pada kurun waktu 1792-1828,” jelas Joko.

Situs di atas tanah Sultan Ground (SG) dengan luas kurang lebih 11.930 meter persegi tersebut, berada pada perbukitan kapur dengan ketinggian 126,50-130 m di atas permukaan laut. Suasana di sekitar memang cukup sejuk. Pemanfaatan oleh penduduk sekitar digunakan untuk bertanam padi, ketela dan berbagai tanaman lain seperti pisang.

“Selain itu di sekitar situs masih terdapat pohon-pohon yang berumur sangat tua, seperti Randu Alas, Gayam, Klepu, Pule, dan Ancar yang tingginya antara 15 hingga 25 meter. Pada tahun 1982 dilakukan studi pengumpulan data kemudian pada tahun 1984/1985 dilaksanakan studi kelayakan oleh SPSP DIY,” lanjut Warga Bantul ini.

Kegiatan pengumpulan data dan studi kelayakan dilanjutkan dengan kegiatan penggalian yang dilaksanakan oleh SPSP DIY pada tahun 1991 bekerjasama dengan jurusan arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM). Pada tahun 1992 kemudian dilakukan pemugaran oleh SPSP DIY.

Situs yang berada tidak jauh dari Pantai Parangtritis ini berbentuk dua buah dinding yang memanjang dengan arah barat timur, Sisa bangunan teras yang pertama yang berada di bawah berukuran panjang 22,70 meter dan lebar 0,5 meter, serta tinggi 1,04 meter. Sedangkan sisa bangunan kedua yang berada di atas teras pertama berukuran panjang 16,82 meter lebar 0,5 meter dan tinggi 1,20 meter. Kedua teras yang terpisah pada jarak 2,10 meter dihubungkan oleh tangga.

Pada bagian dinding terdapat panel-panel dengan hiasan geometris dan karang laut. Unsur-unsur pada situs Gembirowati mempunyai kemiripan dengan unsur hiasan pada bangunan-bangunan masa klasik dan masa Islam.

Cerita rakyat mengenai keberadaan situs tersebut terdapat beberapa versi, sesuai Penuturan Joko, salah satunya ialah cerita Dewi Citrowati. Ia menikah dengan saudara kandungnya, Sri Dipo Kusumo, hal tersebut terjadi lantaran mereka berpisah sejak kecil, sehingga tidak tahu.

Orangtua mereka  tahu akan hubungan perkawinan satu darah tersebut, sehingga mereka dibuang atau diasingkan di daerah pesisir selatan Pulau Jawa. Dewi Citrowati yang dibuang oleh ayahnya ini kemudian mendirikan pesanggrahan Gembirowati. (Kandar)

Komentar

Komentar