Mengenal Seni Tatah Sungging, Proses dan Detail Pembuatan Wayang Kulit

oleh -
Tatah sungging
Sulis Priyanto (36), seorang pengrajin Tatah Sungging sekaligus seorang dalang wayang kulit. (KH/ Edi Padmo)

WONOSARI, (KH),— Pagelaran Wayang kulit tentu tidak asing bagi masyarakat Gunungkidul. Seni ini sering dipentaskan dalam agenda upacara adat, hajatan, atau acara-acara resmi pemerintah. Wayang kulit adalah warisan seni leluhur yang termasuk budaya adiluhung.

Dalam pementasannya, sang dalang semalam suntuk akan mengisahkan lakon tertentu. Dimana dalam lakon itu terkandung banyak sekali ilmu ataupun tuntunan bagi kehidupan.
Menggelar pentas Wayang, tentu tidak bisa lepas dari tokoh-tokoh pewayangan dengan berbagai karakter dan sifat masing-masing.

Tokoh wayang ini dibuat dari bahan kulit, dengan proses pembuatan yang disebut “tatah sungging” atau kerajinan Wayang kulit.

Bagaimana proses atau cara atau tahapan merubah selembar kulit mentah menjadi tokoh-tokoh wayang dengan berbagai karakter ini, KH berbincang dengan Sulis Priyanto (36), seorang pengrajin Tatah Sungging sekaligus seorang dalang wayang kulit.

Sulis Priyanto atau akrab dipanggil Sulis Bronjong ini merupakan warga Padukuhan Gelung, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Pria berambut gondrong yang lahir pada 5 mei 1985 ini, memang telah menentukan profesi Seniman sebagai pilihan hidupnya.

“Sejak kecil saya memang sangat menyukai wayang,” ujarnya membuka obrolan kami, Rabu (4/8/2021).

“Waktu itu tahun 1997, saya masih kelas 6 SD, saya sudah mulai membuat wayang sendiri, walau belum layak digunakan untuk pementasan, tapi sudah bisa untuk hiasan dinding, sudah mulai ada yang memesan,” lanjutnya.

Sulis melanjutkan, kegemaran dia terhadap seni wayang ini dia lanjutkan dengan belajar pada banyak sesepuh penatah penyungging di wilayah Gunungkidul dan Bantul.

“Saya pernah belajar tatah sungging pada almarhum Ki Suhar Cermo Jiwandana, almarhum Ki Sutarno, almarhum Ki Wisnu Prabata, Ki Sujaka,”

“Saya juga berguru pada sesepuh tatah sungging di Bantul, Ki Ganda Suharno, Ki Thutun, Ki Margiono, Ki Sulis Simun Cerma jaya, dan pengrajin Wukirsari Imogiri,” imbuhnya lagi.

Belajar pada para sesepuh itu, Sulis tidak sekedar belajar tentang teknik tatah sungging, tapi juga belajar tentang dunia pedalangan dan seluk beluknya. Secara Formal Sulis Priyanto berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI).

“Saat di bangku kuliah, saya tidak berhenti untuk belajar tatah sungging pada para senior, jadi tidak sebatas di kampus, sehingga produk tatah sungging garapan saya mulai banyak dikenal dan dipakai oleh para dalang di Gunungkidul maupun DIY,” lanjut Sulis.

Tentang tatah sungging sendiri, Sulis menerangkan, bahwa seni Tatah sungging sebetulnya tidak hanya kerajinan membuat tokoh wayang, tapi juga bentuk kerajinan yang lain yang berbahan dasar dari kulit.

“Teknik tatah sungging ini biasa diterapkan tidak hanya pada pembuatan wayang, tapi bisa kerajinan kap lampu, kipas, hiasan hiasan dinding, dan berbagai jenis kerajinan berbahan dasar kulit, tapi memang selama ini tatah sungging identik dengan seni memahat wayang,” terangnya.

Menurut Sulis, pada dasarnya seni Tatah Sungging ini berasal dari dua kata kerja atau kegiatan, yaitu Tatah (menatah/memahat) dan Sungging (mewarnai).

“Jadi pada intinya Tatah sungging ini adalah seni memahat dan mewarnai benda kerajinan, termasuk wayang yang berbahan dasar kulit. Kelihatan cukup sederhana tapi prosesnya panjang dan harus teliti,” ungkapnya.

Sulis melanjutkan, proses Tatah sungging dimulai dari memilih jenis kulit yang akan dipakai. Kulit yang dipakai biasanya adalah kulit Sapi, Kambing, atau Kerbau, kemudian pengolahan kulit, penatahan/pemahatan, dilanjutkan proses mewarnai/menyungging dan yang terakhir adalah finishing.

“Untuk Sungging wayang biasanya memakai kulit Kerbau, karena lebih lentur, mudah ditatah dan tidak terpengaruh suhu udara,”

“Setelah itu, proses selanjutnya kulit direndam, agar kulit menjadi lunak, dengan begitu bulu dan sisa daging yang masih menempel lebih gampang dibersihkan, proses selanjutnya kulit dikerok dan dijemur sampai kering,” lanjut Sulis lagi.

Setelah kulit kering dan siap digunakan, kemudian dilanjutkan pembentukan pola (ngeblak), sesuai tokoh wayang yang akan dibuat.

“Pada proses Ngeblak ini harus hati hati, karena ini adalah membuat bentuk dasar wayang, ada pakemnya, tidak boleh keliru, karena nanti akan berpengaruh pada karakter tokoh wayang yang akan dibuat,” terangnya.

Setelah proses pola dasar terbentuk, selanjutnya dilakukan penatahan/pemahatan detail bentuk dan ornamen yang ada didalamnya. Setelah selesai, maka jadilah bentuk wayang “putihan”, atau belum diwarna. Proses selanjutnya adalah penyunggingan/pewarnaan dan finishing.

“Setelah wayang selesai, kemudian diberi penyangga/gapit. biasanya gapit terbuat dari tanduk kerbau, bambu, atau bahan fiber,” imbuh Sulis.

Tatah Sungging
Sulis Priyanto. (KH/ Edi Padmo)

Sulis mengakui, karena detail bentuk wayang dan ornamen ini ada pakemnya, maka dia harus sangat teliti dan cermat. Sehingga, satu tokoh wayang penggarapannya bisa berhari-hari.

“Waktu pengerjaan ya relatif, tergantung ukuran, untuk wayang Kayon bisa 3 minggu, Putren 3 hari, Bambangan 5 hari, Bokongan 7 hari, Katongan 7 hari, Gagahan 7 hari, Raton 15 hari, Kewanan 5 hari, Panakawan 7 hari, Rampogan 2 minggu,” ujarnya detail dengan istilah-istilah dalam pewayangan.

Saat disinggung soal modal untuk membuat satu wayang, Sulis menyebut angka antara 200 sampai 800 ribu, tergantung dari bentuk tokoh wayang yang dibuat.

“Saat ini kendala yang saya hadapi adalah bahan yang semakin berkurang kualitas dan harga bahan yang semakin meninggi, sehingga saya sering kesulitan dan “rikuh” membandrol harga kepada pemesan,” tambah dia.

Sebagai seorang Dalang, Sulis Priyanto sudah mempunyai jam terbang yang lumayan tinggi. Berbagai kota di Jawa sudah dia jelajahi, bahkan dia pernah diundang untuk pementasan Wayang di Bali dan Kalimantan Timur.

“Pengaruh Pandemi dan PPKM ini sangat terasa bagi seniman seperti saya, order tatah sungging sepi, job pentas mendalang saya dan teman teman dalang lainnya juga sepi. Bahkan job yang sudah masuk banyak yang dibatalkan, semoga Pandemi segera berakhir, dan keadaan normal kembali,” harapnya.

Sulis juga berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi terbaik bagi para seniman di masa Pandemi seperti ini, sehingga mereka masih bisa bertahan “nguri-uri” warisan budaya leluhur.

“Yogyakarta dan Gunungkidul mempunyai adat, seni dan budaya yang luar biasa, sebagai orang muda, kita tidak boleh melupakan warisan adiluhung ini. Karena, jika tidak kita yang “nguri-uri” , maka generasi akan “kepaten obor” atau kehilangan budaya dan makna jati diri kita sebagai bangsa,” pungkas Sulis mengakhiri obrolan kami. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar