Melacak Kisah Bupati Pertama Gunungkidul

oleh -
Makam bupati Pontjodirjo. Foto : KH/Kandar

Karena itulah, sempat ada perintah dari Kasultanan Yogyakarta untuk dilakukan penggantian bupati. Bupati agar dijabat Panji Harjodipuro. Namun, Pontjodirjo belum bersedia. Sebagaimana budaya yang berlaku, bahwa penggantian kepemimpinan berdasarkan umur atau setelah pemimpin yang hendak diganti meninggal dunia.

Setelah Pontjodirjo meninggal, tidak berselang lama Panji Harjodipuro juga meninggal, sehingga sebagai gantinya adalah Raden Tumenggung Prawirosetiko, seorang Ronggo asal Sumingkar (Sambipitu).

Sebelum meninggal Pontjodirjo berpesan, agar disemayamkan di kediamannya. Oleh karena itu, keberadaan pemakaman yang ada saat ini diyakini dahulu kala adalah kediaman sekaligus kantor bupati masa kepemimpinan Pontjodirjo. Ia merupakan bupati terakhir di Pati dan bupati pertama setelah pusat pemerintahan pindah ke Wonosari.

Semasa memerintah, peninggalan besar yang Pontjodirjo lakukan, adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Pati, Ponjong Ke Wonosari atas perintah dari Kasultanan Yogyakarta. Perpindahan pusat pemerintahan terjadi pada waktu ada perubahan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta. Kasultanan Ngayogyakarta yang tadinya hanya Hutan Bunder ke timur hingga perbatasan Mangkunegaran (Solo), ada penambahan wilayah, yakni Patuk. Sehingga dirasa lokasi Kantor Bupati di Ponjong terlalu ke timur, tidak berada di tengah.

Lokasi yang dianggap berada di tengah untuk pusat pemerintahan, posisinya berada di sebuah hutan, yakni Alas Nongko Dhoyong (Wonosari saat ini). Jika diukur dari Wonosari ke barat hingga Patuk dengan Wonosari ke arah timur hingga Tambakromo perbatasan Gunungkidul sebelah timur, jaraknya tidak terpaut jauh. Begitu juga jarak dari Wonosari hingga pesisir selatan dibanding ke arah utara hingga perbatasan Klaten, jaraknya hampir sama.

Perpindahan pusat pemerintahan dipercayakan kepada Panji Harjodipuro. Pelaksana babat Alas Nongko Dhoyong adalah Demang Wanapawira. Hutan pun berhasil dibuka.

Seiring perpindahannya, pembangunan terus berlangsung. Pada Masa Bupati dijabat oleh Tumenggung Mertodiningrat, Sewoko Projo dibangun tahun 1901 (belum jelas, apakah pembangunan pertama kali atau rehab) dibarengi pembangunan jalan. Kanan-kiri sepanjang jalan dari Patuk hingga Ngungap, Baran, ditanami pohon jati.

Adapun cerita silsilah keluarga, Pontjodirjo memiliki istri tidak hanya satu. Ada yang dari Serpeng Semanu dan ada yang dari Yogyakarta (Yudonegaran). Cerita yang dituturkan Sukiman, Pontjodirjo hanya memiliki anak keturunan dengan istri dari Yogyakarta, tetapi tidak jelas berapa jumlahnya. Setelah ia meninggal, diperkirakan istri dan anaknya kembali ke Yogyakarta. Ada yang menyebutkan, anaknya bernama Ngabdul Mataram.

Sukiman sendiri mengaku, ia merupakan anak turun saudara Pontjodirjo, yakni Nyi Minto Wijoyo. Dalam sebutan Jawa, dirinya merupakan Udek-udek atau keturunan generasi ke-6. Lelaki bercucu 15 dan memiliki buyut 5 ini masih memiliki ingatan tajam. Dirinya hafal urutan bupati Gunungkidul dari pertama hingga terakhir.

Tahun 1985 dirinya ikut menjadi bagian dalam menentukan hari jadi Kabupaten Gunungkidul. Bersama tokoh lain ia turut bermusyawarah di Bangsal Sewokoprojo. Tepatnya berada di ruang bagian belakang. Setelah selesai musyawarah dengan suatu mufakat, dirinya menerima uang saku Rp 5 ribu. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar