Kerajinan Enceng Gondok dan Kulit Batang Pisang di Semanu Berdayakan 450 Ibu Rumah Tangga

oleh -
Rasida. (KH/ Kandar)

SEMANU, (KH),– Kerajinan perkakas rumah tangga berbahan baku enceng gondok di Semanu mampu menyediakan lapangan kerja bagi ibu rumah tangga di sekelilingnya.

Bahkan, ibu rumah tangga tangga yang terberdayakan jumlahnya cukup banyak. Saat ini setidaknya ada 450 ibu rumah tangga yang tergabung menjadi tenaga kerja dengan skema part time.

Printis kerajinan enceng gondok, Rasida mengungkapkan, usaha yang dirintis sejak 2007 ini menghasilkan produk perkakas rumah tangga berbentuk keranjang atau wadah dalam berbagai bentuk. Ada bentuk balok, tabung dan kubus.

“Selain menggunakan enceng gondok, saya juga manfaatkan kulit batang pisang dan seagrass. Bahan baku didatangkan dari Gresik Bojonegoro, Grobogan, Ambarawa dan Ngawi,” kata lelaki kelahiran 1972 ini.

Sejak dirintis tahun 2007, peningkatan permintaan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Praktis, ibu rumah tangga yang terlibat semakin banyak.

Mulanya, jumlahnya puluhan. Lama-lama bertambah hingga mencapai 450-an ibu rumah tangga. Mereka membantu menyiapkan produk pesanan perusahaan eksportir yang melayani pembeli dari berbagai negara. Diantaranya Perancis, Jerman, Amerika dan Meksiko.

Ibu rumah tangga dikirimi bahan baku, lantas dikerjakan. Diantara 12 karyawan tetap yang bekerja di rumah produksi dengan brand Ridho Craft ini lantas dalam dua hari sekali berkeliling mengambil produk setengah jadi yang dikerjakan ibu rumah tangga.

Lebih jauh bapak 4 anak ini mengutarakan, dalam sehari dirinya menerima 200-an produk setengah jadi. Karyawan di tempat produksi kemudian melalukan proses lanjutan, seperti pengeleman, pemberian cairan anti jamur, penjemuran dan finishing kerapian termasuk pewarnaan.

“Seminggu bisa kirim tiga kali, setiap kirim mencapai 250 produk,” ujar Rasida.

Aneka keranjang produk Ridho Craft sedang jemur. (KH/Kandar)

Melayani buyer dari manca negara, Rasida tak asal-asalan melepas produk. Sebab satu saja kesalahan fatal atas produk yang dijual bisa distop untuk satu rit kiriman yang bersamaan.

“Jamur menjadi perhatian serius. Jangan sampai produk terdapat jamur. Orang luar paling anti,” terang dia.

Ditanya awal mula menekuni usaha kerajinan itu, Rasida bercerita. Mulanya dirinya merupakan pekerja pada sentra kerajinan rotan. Sejak pemberlakuan otonomi daerah, temapatnya bekerja kesulitan memperoleh bahan baku. Lama-lama gulung tikar. Pria asal Cirebon ini kemudian pulang ke kediaman istri di Ngeposari, Semanu.

Saat mendapat tawaran untuk membuat produk serupa dengan kerajinan rotan sebelumnya, dirinya lantas berinisiatif menawarkan produk dengan bahan baku yang lain. Sample produk berbahan enceng gondok diterima. Kemudian dirinya berkreasi dengan bahan lain, yakni kulit batang pisang dan seagrass.

Permintaan produk dari luar negeri semakin tinggi. Aneka keranjang yang ia buat banyak dimanfaatkan untuk wadah kayu di dekat perapian di dalam rumah. Sebagian dimanfaatkan untuk menaruh buku. Kalau di pasar lokal, produknya banyak digunakan untuk menaruh pot bunga.

“Harga dari saya mulai Rp 20.000 hingga Rp 400 ribuan. Tergantung ukuran dan varian jenisnya,” tukas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar