Hasil Kerajinan Padukuhan Mendang Diekspor ke Jerman

oleh -
iklan dispar

TANJUNGSARI, kabarhandayani.– Hasil anyaman rotan sintetis yang dijalankan Subur Warga Padukuhan Mendang 1, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari menembus pangsa pasar Eropa. Selama ini subur dan belasan anak buahnya telah dipercaya beberapa perusahaan furniture besar di Yogyakarta guna memenuhi permintaan ekspor di beberapa negera.
Barang-barang furniture yang biasa dikerjakan meliputi peralatan meja makan, kursi, spring bed, sofa, dan tempat sampah. Selain itu, Subur juga melayani perbaikan furnitur dari konsumen lokal.
“Saat ini yang kami kerjakan seperangkat meja makan dan kursi taman. Ini orderan yang akan dikirim ke Jerman. Bulan ini kami harus mengerjakan 300 unit kursi makan. Kami belum bisa mengambil order terlalu banyak karena masih kuatir belum bisa memenuhi target,” terang Subur, Rabu (8/8/2014).
Dalam menyelesaikan order, Subur dibantu hingga 13 karyawan bila order yang harus dikerjakan dalam jumlah banyak. Namun saat ini yang aktif sekitar 5 hingga 6 orang. Sistem pembayaran yang diterapkan adalah sistem borong.
“Saya menerima order dari perusahaan sistemnya borong, jadi teman-teman yang ada di sini juga sistem borong. Dalam pengerjaan 1 unit barang seperti kursi atau meja nilainya berbeda-beda tergantung tingkat kesulitan pengerjaan. Kalau yang agak mudah sekitar Rp 35 ribu tiap unit, tapi kalau yang rumit mencapi 65 ribu bahkan bisa lebih,” lanjutnya.
Subur awalnya adalah seorang karyawan perusahaan furniture di bidang pekerjaan yang sama dengan yang ia geluti sekarang. Dengan alasan untuk membantu teman-temannya yang belum bekerja, Subur mencoba mengambil pengerjaan penganyaman dari perusahaan tempatnya bekerja untuk dikerjakan di rumah.
“Awalnya saya bertujuan untuk membantu teman-teman yang belum bekerja, ternyata perusahaan mengabulkan dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan, dan cukup lumayan hasilnya,” kata Subur.
Beni, salah satu pekerja kepercayaan Subur menuturkan, dalam sehari ia mampu menyelesaikan 2 unit kursi. Bagi para pekerja junior, biasanya mampu menyelesaikan 1 unit saja.
“Sebenarnya ya belum tentu juga tergantung efekitfnya waktu. Kalau misalkan tetangga sedang ada hajatan atau gotong rotong rutin ya jadi berkurang hasilnya,” kata Beni.
Perusahaan yang bekerjasama dengan Subur tidak mengharuskan dirinya untuk hanya mengerjakan pesanan dari perusahaan tersebut saja. Namun ia bisa mengerjakan order dari perusahaan lain atau bahkan menerima pesanan dari warga setempat.
“Bisa saja kalau warga mau pesan, kita menyediakan berbagai desain bagus. Kita juga melayani repair kursi-kursi yang telah rusak,” katanya.
Subur mengakui untuk melayani permintaan lokal, terbatas pada jumlah tertentu karena keterbatasan modal. Pelayanan yang lebih ditekankan saat ini adalah pada pelayanan repair perlengkapan furniture karena membutuhkan modal finansial yang relatif sedikit namun lebih menguntungkan.
“Kita juga melayani teman-teman dan warga luar yang mau belajar. Kalau sudah bisa, nantinya bisa bekerja sama dan kita carikan order bagi mereka,” ujarnya.
Kesempatan ini merupakan peluang bagi siapa pun yang ingin belajar dan mendapatkan penghasilan tetap atau pun tambahan secara mandiri. Cara ini sebenarnya dapat membantu mengentaskan warga tuna karya yang selama ini terus mencari tempat kerja.
Belum lagi kalau pemerintah lebih memberikan ruang gerak dan apresiasi riil seperti pelatihan, monitoring usaha, dan modal usaha, niscaya pengangguran di Gunungkidul dapat dikurangi. Kerajinan furniture ini cukup menjajikan karena pangsa pasarnya telah merambah dunia, sehingga kekuatiran akan kehilangan pekerjaan dan pemasaran sangat kecil.
Desain menarik, minimalis, dan elegan sangat membuat hasil kerajinan Subur ini begitu banyak diminati. Produk ini terbukti laku keras di Jerman, Jepang, dan pangsa pasar Asia lainnya.
Seperti model kursi yang tertera pada gambar, menurut Subur jenis kursi tersebut di pasaran Eropa mencapai harga Rp 700 ribu/unit. Namun untuk pasaran lokal, harga tersebut masih sangat memungkinkan untuk bisa ditekan karena biaya produksi yang relatif lebih kecil. Subur sangat yakin, bila telah memiliki modal cukup, ia bisa memasarkan produk ini di pasaran lokal Pulau Jawa dengan skala besar. (Maryanto/Hfs)

Komentar

Komentar