Gunakan Limbah Kayu Jadi Media Lukisan, Sarjono Sibuk Layani Pesanan

oleh -
Sarjono saat ditemui di Kandang Pawuhan. (KH/Kandar)
iklan dispar

WONOSARI, (KH),– Meski sibuk mengurus bisnis kuliner seafood, Florentinus Sarjono (40) selalu meluangkan waktu untuk melukis. Warga Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul ini belakangan banyak mendapat order lukisan dengan media kayu.

Ditemui di kediamannya, Sarjono mengaku bahwa mulanya ia lebih banyak memiliki aktivitas bekerja sebagai koki. Belasan tahun lamanya. Kota Jakarta dan Solo menjadi tempat perantauan dengan masing-masing durasi waktu yang tidak sebentar.

Ketertarikan dirinya dengan seni lukis sudah ada semenjak dirinya bekerja di sebuah resto di Jakarta Tahun 2001. Disela sibuk bekerja ia mencuri waktu main dan berkumpul bersama pelukis. Di sebuah komunitas ia ‘nimbrung’ belajar. Bapak dua anak ini belajar bagaimana teknik terang-gelap, sket, perpaduan warna dan lain-lain.

“Saya menemukan keasyikan. Usai pulang kerja, malam hari saya melukis dulu sebelum tidur. Yang penting corat coret saja,” kenang Sarjono, Sabtu (10/10/2020).

Mulanya Sarjono melukis memakai pensil dengan media kertas. Kemudian berganti dengan cat air di atas kanvas. Bersama komunitas seni rupa di Kota Tangerang pernah pula ia ikut pameran. Waktu itu ia gunakan kesempatan mutlak untuk belajar. Tentu saja materi dari hasil melukis bukan menjadi prioritas.

Tahun 2013 dirinya memutuskan pulang. Ia berkeinginan bekerja tidak jauh dari tanah kelahiran. Sebentar di Jogja, lalu pindah ke Solo. Namun saat itu, kegemarannya melukis kesulitan mendapat alokasi waktu.

“Saya pernah vakum. Lagi-lagi memutuskan pulang. Oktober 2019 lalu kemudian memberanikan diri buka rumah makan di Wonosari,” terang dia.

Keinginannya pulang juga atas keresahannya bekerja terus menerus dengan perusahaan atau pengusaha selama belasan tahun. Dirinya berkeinginan memiliki usaha sendiri. Meski pandemi merebak, usaha kuliner seafood mantap ia buka. Pengalaman yang tidak sebentar sebagai koki membuat olahan kuliner yang dijajakan dengan cepat diterima publik. Pelanggan yang jajan dalam setiap harinya berangsur semakin ramai. Dirinya kemudian mampu mengangkat karyawan untuk usahanya itu.

Sarjono kemudian kembali mampu meluangkan waktu untuk melukis. Ia menemui beberapa seniman di Gunungkidul. Bicara soal perkembangan seni rupa termasuk peluang-peluangnya. Atas saran rekan seniman, ia dianjurkan untuk melanjutkan melukis dan mengangkat atau memadukan ciri khas serta potensi di Gunungkidul.

“Kata teman saya, terus saja melukis namun temukan sesuatu yang baru dan berbeda. Kata teman saya pula Gunungkidul itu identik dengan batu dan kayu,” ujar lelaki yang memilih style kepala plontos ini.

Lukisan karya Sarjono. (KH/Kandar)

Dirinya lantas merenung. Pertemuannya dengan beberapa seniman menjadi bahan pemikiran. Sarjono berinisiatif melukis tak lagi menggunakan media kanvas, melainkan menggunakan kayu. Karya realis pertama ia coba buat pada papan kayu bekas dimulai.

“Gagal. Cat air berubah warna pada papan kayu. Saya coba browsing dan menemukan teknik untuk menanganinya,” imbuh dia.

Mengalami 2 hingga tiga kali gagal, Sarjono akhirnya menemukan cara yang pas untuk melukis di papan kayu. Karya pertama, Bunda Teresa diminati Pendeta di Yogyakarta. Sembari mengantar lukisan seharga Rp 300 ribu itu dirinya meminta doa agar usahanya, baik dalam berkesenian dan berwirausaha mendapat kemudahan.

Pasca lukisan pertama itu, pesanan demi pesanan datang. Ada yang meminta lukisan wajah, ada pula yang membeli karya tokoh-tokoh nasional. Setidaknya ada 25 lukisan yang telah ia buat untuk konsumen.

“Saat ini masih antri 7 lukisan,” sambung Sarjono. Disela mengurus bisnis kuliner, ia selesaikan satu persatu pesanan lukisan.

Untuk mendukung pemasaran, dirinya juga bermain media sosial. Baik Instagram maupun Facebook. Kecepatan arus informasi digital tersebut diakui sangat membantu pengenalan lukisan di papan kayu karyanya. Sehingga tak jarang pemesan datang justru dari luar kota.

Lebih jauh disampaikan, Sarjono mengaku mematok tarif dengan harga wajar. Beberapa pertimbangan soal operasional tak dipungkiri menjadi tolok ukurnya. Diantaranya kebutuhan cat, bahan papan kayu dan lain-lain.

“Ya termasuk butuh kopi dan rokok,” katanya sambil ketawa.

Dirinya mencontohkan, untuk lukisan kayu 1 wajah dengan ukuran 40 x 30 centi meter dipatok Rp 500.000, Ukuran 60 x 70 centimeter lukisan dua wajah kisaran harganya Rp 1.200.000.

Namun demikian, ia tak selalu mengejar materi dari setiap karyanya. Kata dia, kepuasan batin atas karya tak melulu setelah menerima fulus dari hasil penjualan. Suatu ketika ada pemesan yang mengaku ingin mengabadikan foto anggota keluarga dalam lukisan. Namun si pemesan tak memilik cukup uang. Si pemesan tetap dibuatkan lukisan sesuai yang diinginkan. Saat lukisan diambil, pemesan membawakan beras. Sarjono ikhlas dan bangga menyerahkan lukisan lantas menerima apa yang diberikan si pemesan.

“Rasanya puas melihat orang lain suka dan senang dengan karya saya,” tukas Sarjono.

Cukup lama KH bincang-buncang dengan Sarjono di kandang sapi yang didirikan di halaman rumah. Kandang itu ia gunakan sebagai tempat menelurkan karya. Tempat berekspresi itu ia namani ‘Kandang Pawuhan’. Pawuhan memiliki arti tempat sampah. Sesuai dengan media lukis yang ia gunakan, yakni kayu-kayu bekas. Akan tetapi, justru bahan atau media limbah kayu itu yang membuat banyak orang tertarik. Kondisinya yang apa adanya, seperti berlubang dan kasar justru banyak diterima atau diminati konsumen. (Kandar)

Komentar

Komentar