Dheni Rintis Bisnis Batik Sejak Kuliah, Setelah Lulus Sibuk Layani Order

oleh -
Dheni Nugroho, pemuda asal Ponjong pemilik brand Guru Batik. (KH)
iklan dispar

SLEMAN, (KH),– Lulus sekolah atau kuliah lalu baru cari kerja itu paradigma lama. Setidaknya ungkapan tersebut cocok untuk lelaki kelahiran Padukuhan Tembesi, Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta, Dheni Nugroho. Ia, memilih menekuni bisnis batik sejak di bangku perkuliahan.

Saat dihubungi akhir pekan lalu, pemuda berusia 26 tahun ini mengaku memulai usaha sejak memasuki semester 7 sekitar tahun 2015 lalu. “Awal usaha saat dimulai dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) seputar usaha batik, lalu seiring berjalannya waktu tahun 2016 kelompok bubar namun usaha batik saya rebranding jadi Guru Batik sampai sekarang,” kata Dheni.

Dirinya mengaku sempat ingin berhenti menggeluti usahanya ketika melanjutkan studi S2. Namun keikutsertaannya pada bebebrapa program kompetisi penghargaan dari pemerintah dan Unesco serta beberapa program lain, hingga akhirnya terpilih menjadi top 10 Youth Creative Competition tahun 2017 semangatnya kembali menyala melanjutkan bisnis batik.

Nama yang Dheni tawarkan untuk produk batiknya yakni Guru Batik. Diakui nama tersebut terdengar sedikit aneh. Bingung, sempat Dheni alami saat hendak membuat Brand batiknya itu.

“Untuk mengingat jasa kampus Universitas Negeri Yogyakarta yang menjadi fasilitator kami berwirausaha kami beri nama Guru Batik. Kampus saya, UNY juga terkenal sebagai pencetak guru,” jelas pemuda yang baru saja wisuda S2 Prodi Pendidikan Matematika ini mengungkap latar belakang brand.

Linier dengan merek, Dheni lantas melambungkan slogan Guru Batik menjadi merek batiknya guru-guru se Indonesia. Selain menjual secara online, Dheni juga menyewa lapak di Plaza UNY lantai 2 di Jl. Gejayan No. 168, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Adapun motif batik dibuat tim Guru Batik, sebagian dari mahasiswa ISI dan mahasiswa seni di UNY. Tak pernah dirinya meniru motif batik yang beredar di pasaran. Uniknya, motif batik yang dihasilkan sebagian besar bertema mata pelajaran sekolah.

Hingga sekarang, pria yang masih melajang ini tak memiliki tempat sebagai produksi batik. Dirinya bekerja sama dengan pembatik-pembatik baik di Gunungkidul dan Yogyakarta.

“Sebulan laku antara 200 hingga 300 potong kain batik. Semua mata pelajaran nanti akan kami bikin motif batik,” imbuh Dheni.

Mengenai harga batik cap kombinasi tulis yang ia buat, dijual dengan harga mulai dari Rp. 100 hingga 300 ribu. Untuk meraih omset tinggi dalam sekali jual Dheni menawarkan pembuatan seragam ke guru-guru dalam setiap satuan pendidikan atau ke komunintas tertentu. (Kandar)

Komentar

Komentar