Watoe Abang Resto: Pilihan Berkuliner Di Jalan Manthous Km.1

oleh
Watoe Abang Resto.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Berada di Jalan Manthous Km.1, Siyono, Logandeng, Playen, Gunungkidul. Watoe Abang Resto memberi alternatif tempat dan menu kuliner di sebelah barat kota Wonosari. Jalan Manthous adalah Jalan Siyono-Playen, dari arah Ibukota Kabupaten Gunungkidul menjadi jalur wisata menuju Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencana. Juga menjadi jalur menuju obyek-obyek Pantai Gunungkidul disebelah barat. Seperti Pantai Ngrenehan, Ngobaran, Sepanjang, Pantai Ngeden dll.

Menemukan lokasi Watoe Abang Resto tidaklah sulit. Selain dengan gmaps (watoe abang), Watoe Abang Resto dapat ditemukan dengan menilik bangunannya yang unik. Sebuah limasan yang depannya berdiri 2 kandang sapi dan batu alam merah tua berada di halaman cukup menarik perhatian. Sebuah rumah makan yang didalamnya terdapat beberapa koleksi alat-alat pertanian kuno seperti garu, luku, lesung, dan alat rajang tembakau sebagai dekorasinya.

Sop Iga Watoe Abang.

Dengan menu spesial Sop Iga dan Iga Bakar, Watoe Abang juga menyediakan berbagai menu berbahan baku lain seperti daging ayam, daging bebek, daging menthok, burung puyuh dan ikan. Semua disajikan dengan variasi bakar, goreng, kuah dan gongso. Beberapa sambal juga bisa menjadi pilihan dalam menikmati menu di Watoe Abang, ada Sambel Lethek, Sambel Bawang, Sambal Terasi dan Sambel Khas Lesehan Biasane dan lain-lain. Selain makanan berbahan baku daging, Watoe Abang menyajikan menu-menu berbahan baku sayuran. Ini disajikan untuk para konsumen yang tidak mengkonsumsi daging atau produk-produk berbahan baku hewani. Mengingat vegan dan vegetarian telah menjadi salah satu pilihan orang banyak sebagai gaya hidup sehat. Gudangan, sayuran berbumbu sambal kelapa. Pecel, sayuran berbumbu sambal kacang, rawis, sayur lombok dan lain-lain.

Selain makanan dan minuman yang tertulis pada daftar menu. Watoe Abang juga menyediakan prasmanan dengan menu angkringan. Hal ini disediakan untuk para konsumen yang ingin makan cepat, sederhana dan murah dengan tetap menikmati suasana resto. Bahkan Watoe Abang juga menyediakan menu-menu “Special Of The Day” dimana makanan dan minuman hanya tersedia di hari-hari tertentu. Menu “Special Of The Day” inipun bervariasi. Bisa tergantung musim bahan baku, bisa tergantung ketersediaan di pasar, bisa tergantung pada pesanan sebagian besar konsumen.

Iga Bakar Watoe Abang.

“Bahkan tidak jarang konsumen kami membuat menu sendiri lalu kami memasaknya. Biasanya ini untuk rombongan, arisan, reuni, gathering, ultah, syukuran, rombongan wisata keluarga. Jadi intinya kami selalu siap menyediakan menu-menu pesanan sesuai kebutuhan dan konsep acara” jelas pemilik resto, Nanik Tri Rahayu.

Selain menu yang tersedia di meja prasmanan, semua menu dimasak setelah dipesan. Mungkin konsumen harus menunggu pesanan agak lama, karena semua dimasak setelah dipesan. Sambil menunggu pesanan makanan, konsumen bisa menikmati suasana dan bangunan Watoe Abang Resto, konsumen bisa memesan berbagai macam minuman seperti Teh Poci, Aneka Jus dan Aneka Kopi Nusantara seperti Kopi Lampung, Flores, Temanggung dan lain-lain. Kopi hanya disajikan dengan cara “Tubruk”. Bahkan Resto ini menyediakan buku-buku bacaan di salah satu sudutnya. Buku-buku yang bisa dibaca sambil menunggu pesanan.

“Menyeduh kopi dengan cara dituang air panas seperti di Watoe Abang ini adalah cara asli orang kampung menikmati kopi-kopi yang dipanen dari perkebunannya sendiri dimasa lalu. Esspreso, Capucino, Kopi Latte dan lainnya atau berbagai teknik penyeduhan itu adalah cara-cara modern yang sudah banyak ditawarkan di banyak Coffee Shop. Kami tetap memilih dengan cara tubruk saja. Biar ampasnya bisa di cecap” terang pemilik resto ini. Konsumen mungkin akan dibuat kaget, karena penyajian kopi di resto ini menggunakan gula batu disamping cangkirnya. Dan menu minuman pun tersedia “Mocktail Of The Day” atau minuman special yang hanya tersedia pada hari-hari tertentu.

Aneka Jus Watoe Abang.

Sejarah panjang pemilik resto dalam menggeluti dunia kuliner di Gunungkidul dimulai dari sebuah lesehan di depan pasar hewan Siyono Harjo yang lama sejak akhir tahun 90an. Hal inilah yang membuat konsep lesehan tetap ditawarkan. Karena bagaimanapun, makan dengan cara lesehan memiliki sensasi yang berbeda.
Selain 2 kandang di depan dan limasan yang bisa menampung 40 an orang. Konsep makan sambil lesehan juga tersedia di lantai atas. Menampung 20-30 orang, biasa digunakan untuk arisan, rapat, atau kumpul-kumpul sambil lesehan dan slonjoran.

“Rumah Makan ini, memadukan sejarah panjang kami di dunia kuliner Gunungkidul. Menu yang biasa tersedia di lesehan kami, Lesehan Biasane Siono, kami sajikan lengkap dengan lesehannya disini. Menu angkringan kami dari Angkringan Dhe, kami sajikan di meja prasmanan lengkap dengan harga angkringannya. Jadi resto kami masih berasa kaki lima tapi dengan suasana restoran-restoran ternama” sambung pemilik.

“Piring, mangkok kayu, dan berbagai dekorasi kami asli produk pengrajin Gunungkidul. Bahkan nama Watoe Abang adalah nama yang diambil dari salah satu sebutan bebatuan di Kali Oya Gunungkidul” pungkas Nanik Tri Rahayu pemilik Watoe Abang Resto, yang terkesan sangat mencintai kampung halamannya, Gunungkidul. (Red)

Komentar

Komentar