Waspada Nyamuk Demam Berdarah Sekarang 24 Jam

oleh
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Gunungkidul, dr. Sumitro. KH/ Kandar
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Gunungkidul, dr. Sumitro. KH/ Kandar
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Gunungkidul, dr. Sumitro. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Masyarakat dihimbau untuk semakin waspada atas tingginya jumlah penderita penyakit Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) akibat gigitan nyamuk Aedes aygepti. Dikenal, perilaku serangan nyamuk tersebut sekitar jam 09.00 WIB dan atau setelah Pukul 15.30 WIB.

Dikatakan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, dr. Sumitro mengatakan, teori tersebut merupakan teori lama, prediksi itu didapat karena proporsi penderita mayoritas adalah anak-anak. Dimana, pada jam-jam tersebut kebanyakan anak sedang tidur, sehingga logika adanya serangan mengarah kepada anak.

“Saat ini dimungkinkan tidak mengikuti pola tersebut, tetapi sekarang banyak orang dewasa juga terserang, pertanyaannya, apakah benar orang dewasa pada jam tersebut pada tidur?. Pada kenyataannya, orang dewasa pada jam tersebut adalah waktu produktif atau bekerja sehingga dengan demikian serangan nyamuk tak hanya pada waktu teori lama tersebut,” Katanya, Kamis, (26/2/2016).

Disampaikan, maka kewaspadaan terhadap nyamuk itu mestinya 24 jam. Ia melanjutkan, Tempat perindukan nyamuk penular penular virus adalah di air yang bersih, menurutnya cara paling efektif untuk antisipasi adalah dengan membasmi perindukan, yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M menguras bak, mengubur sampah pemicu genangan, dan menutup tampungan air.

“Air pada bak mandi atau penampungan air yang tidak diganti terlalu lama itu sangat rentan,” imbuhnya. Saat ini sudah banyak, wadah air untuk mandi tidak berupa bak permanen tetapi dengan cara menggunakan ember, sehingga penggunaan air lebih sering sekali pakai langsung habis, atau tidak ditampung terlalu lama.

Data yang ada benar adanya, disampaikan oleh Seksi pengendalian Penyakit, Suharyanta, Amd KG SKM, dari data penderita tahun ini hingga Februari 2016 ini tercatat ada 163 positif DBD. Sedangkan jika dilihat dari segi umur penderita 40%nya anak-anak, sedangkan sisanya tersebar di semua golongan umur.

Mengenai adanya penderita DBD yang meninggal, Sumitro menyatakan hal itu belum resmi, diakui memang dugaan kuat terkena DBD, tetapi hingga saat ini pihak rumah sakit belum secara resmi mengeluarkan formulir/ Surat Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS).

“Secara umum memang kawasan perkotaan yang menjadi wilayah endemis penularan DBD, di Gunungkidul sendiri ada 12 kecamatan yang dinyatakan tingkat serangannya tinggi, beberapa diantaranya adalah; Wonosari, Karangmojo, Playen, Ponjong, Tanjungsari, dan lainnya,” pungkasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar