Wanti Sering Dipanggil Bu Codot Karena Dagangannya

oleh
Olahan kelelawar di warung makan Wanti. KH/ Kandar.

PANGGANG, (KH),– Dipanggil dengan sebutan nama hewan tak membuatnya marah. Wanti (50) Warga Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul ini menganggap hal itu biasa. Panggilan Bu Codot kepadannya tak lain semata karena dagangannya, yakni olahan kelelawar atau dalam sebutan bahasa jawa dinamakan Codot.

Saat ditemui, Wanti mengatakan, panggilan Bu Codot bermula saat pembeli dari jauh menelepon menanyakan ketersediaan olahan Codot.

“Betul dengan Bu Codot?” demikian Wanti menirukan pelanggan yang membuka percakapan di ujung telepon. Panggilan tersebut sering ia terima dari penelepon yang belum mengetahui nama dirinya.

Wanti merupakan keturunan ke tiga dari keluarga penjual olahan kelelawar. Peminat olahan kelelawar tersebut tak banyak. Selain orang yang sebatas penasaran ingin merasakan kelelawar bacem, sebagian yang lain merupakan penderita asma.

Wanti dan dagangan olahan kelelawar. KH/ Kandar.

Konon, dengan mengkonsumsi daging dan jerohan kelelawar dapat membantu penyembuhan sakit pernafasan.

“Dalam seminggu sekitar 100 ekor terjual. Tergantung dapat setoran kelelawar mentah atau tidak,” tukas Wanti.

Selain warga lokal Gunungkidul, warga di DIY dan Jateng mendatangi warung makan miliknya untuk memakan kelelawar bacem. Sebagian juga minta dikirim ke alamat pemesan. Mereka hendak membuktikan dan berharap mendapat khasiat dari olahan hewan yang hidup di gua-gua tebing Pantai Selatan ini. Satu ekor kelelawar bacem ini dijual dengan harga Rp. 7 ribu.

Aji, warga Imogiri yang kebetulan sedang makan Codot bacem, Minggu, (7/10/2018) mengatakan, rasa daging kelelawar cukup enak. “Mirip burung puyuh,” ujarnya. (Kandar)

Komentar

Komentar