Usia Pelaku Bunuh Diri Produktif Akibat Biologi, Psikologi, Sosial dan Spiritual

oleh
Ilustrasi.

WONOSARI, (KH)– Dalam kurun waktu belum genap dua bulan awal tahun 2017 ini kasus angka kematian bunuh diri di Gunungkidul tergolong cukup tinggi. Data yang ada menyebutkan, telah terjadi 7 kali kejadian warga meninggal secara gantung diri.

Mengamati tingginya fenomena bunuh diri di Gunungkidul, psikolog senior, dr. Ida Rochmawati, MSc., Sp.KJ (K) memaparkan padangannya. Terdapat pergeseran usia pelaku, dari yang tadinya dominan dilakukan oleh usia lanjut, tetapi saat ini terdapat pula pelaku dengan umur kategori produktif.

Asumsi umum apabila dilakukan oleh pelaku lanjut usia, faktor resiko lebih dominan karena penyakit kronis, loneliness (kesendirian), sosial dan ekonomi. Namun kalau usia produktif ini menunjukkan sesuatu hal baru, atau menarik perhatian untuk didalami.

Ida mengatakan, karena pelaku usia produktif sehingga ada kecenderungan faktor ketahanan mental yang kurang. Ketahanan mental yang kurang dilatarbelakangi faktor pemicu yang lebih kompleks dibanding faktor sebagaimana apabila dilakukan pelaku lanjut usia, diantaranya ada faktor biologi, psikologi, sosial dan spiritual.

Pemaparan Ida dari tinjauan sisi biologi; kenapa orang melakukan bunuh diri? Pada kondisi orang yang sedang mengalami depresi berat ada hormon yang mempengaruhi sel di otak namanya serotonin. Hormon ini mengalami penurunan ketika seseorang depresi.

”Ketika serotonin turun, maka berakibat sel kimia di otak bernama dopamin menjadi dominan, sehingga akibat dopamin yang dominan mengakibatkan orang yang mengalami depresi tidak bisa berfikir realistis,” paparnya belum lama ini.

Lanjutnya, mereka yang depresi tidak bisa melihat permasalahan itu dengan jernih. Bahkan terkadang dapat memunculkan halusinasi dengar seperti suruhan untuk melakukan sesuatu. Seolah mendengar bisikan-bisikan yang mengarahkan dia untuk melakukan hal-hal yang di luar logika.

Beberapa kasus yang pernah dia temui ada yang mendengar bisikan agar supaya mati. Terkadang pula, orang depresi berat itu biasanya juga muncul pada dirinya faham bersalah. Merasa berdosanya kuat, tetapi tidak rasional karena merupakan keyakinan palsu yang seolah tidak bisa diubah. Tetapi sebenarnya hal tersebut sifatnya hanya temporer atau sementara. “Jika depresinya bisa diatasi fahamnya hilang, hal ini termasuk juga ada kaitanya dengan pikiran yang pesimistis,” terangnya.

Kemudian tinjauan secara psikologi, diakui memang setiap orang memiliki ciri kepribadian tertentu yang yang erat dan berpengaruh terhadap kerentanan depresi. Contohnya; orang-orang yang cenderung tertutup dan sensitif, memang dia lebih mudah depresi ketimbang kepribadian terbuka. Kemudian dapat dimungkinkan juga dia ada riwayat gangguan mental atau fikiran dan perasan sebelumnya, atau disebut Skizofrenia.

Gangguan suasana perasaan atau mental, karena awalnya mempunyai riwayat depresi yang tidak dikelola dengan baik. Orang-orang yang memang memiliki gangguan jiwa hingga tergolong berat sebelumnya memang riwayat depresi yang dialami diabaikan.

“Sedangkan apabila diamati dari faktor sosial, sekarang ini masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat. Hampir tidak punya ruang privasi dengan adanya media sosial. Suasana hati hampir setiap hari diaduk-aduk dengan banyaknya arus informasi masuk yang tidak semuanya bisa diterima atau disetujui,” jelas Ida.

Lebih jauh disampaikan, seolah-olah hidup die ra saat ini tekanan terhadap stressor depresi lebih tinggi, karena ruang pribadi hampir tidak punya. Hampir semua menjadi ranah publik. Dengan begitu tuntutan sosial juga menjadi tinggi. Dicontohkan, misalnya anak muda saat ini gaya hidupnya memiliki hand phone canggih, apabila masing-masing tidak mampu menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan sosial lingkungan yang cepat, maka akan mengalami tekanan di dalam linngkungan.

Gaya hidup yang konsumtif, nilai-nilai sudah mulai bergeser, persaudaraan, persahabatan berkurang, cenderung individual, sehingga ketika sedih dukungan sosial kurang. Apabila sedang mengalami kesedihan tidak dapat berbagi cerita, individualis yang terbentuk seperti memaksanya menghadapi permasalahan itu seolah-olah hanya sendirian.

“Dalam keramaian masyarakat sekarang itu seolah kesepian, makanya masyarakat rindu sebuah kasih, persahabatan, ketulusan, rindu dengan nasehat. Lihat saja bisnis motivasi jadi laris banget,” timpalnya. Masyarakat sebenarnya rindu motivasi lingkungan, karena minim, sebuah motivasi sekarang menjadi komoditi.

Maka dia menyebut, terlalu simpel apabila anak muda yang bunuh diri karena penolakan asmara. Dapat dipastikan ada faktor kombinasi latar belakang lain sebelumnya. Karena apabila seseorang itu memiliki dukungan terhadap mental yang baik, mestinya tidak semudah itu melakukan bunuh diri.

Pemaparan dilanjutkan, faktor yang lain berupa aspek spiritual seseorang. Terkadang apabila dilihat dari religiositas seseorang sekarang ini hanyalah sebagai rutinitas ritual semata. Agama mungkin perlu ditanamkan sebagai spirit kehidupan bukan hanya sebatas ritual. Oleh yang berkompeten perlu ditekankan lagi agama harus dimunculkan sebagai spirit, bahwasanya umat beragama memiliki Tuhan dengan sifat-sifatNya, yakni pengasih, penolong, pelindung dan lainnya.

“Aktivitas keagamaan mestinya dimaknai sebagai sebuah upaya untuk menguatkan spiritual. Ada metafora dari kegiatan dan kesibukan yang dijalankan, misalnya dalam menjalankan ritual bersuci yang di antaranya membasuh muka dan serangkaiannya. Dari situ dapat dimaknai sebagai pesan untuk menampilkan wajah agar bersikap baik, ramah, atau ceria terhadap orang lain,” urai Ida lagi.

Agama itu aplikasi, ketika beragama baik maka secara sosial dan mental sepatutnya juga baik. Aplikasi agama cerminannya adalah perilaku. Agama ada dua dimensi saling terkait, yakni ritual dan spiritual. Apabila muncul kasus rajin beribadah tetapi bunuh diri, artinya agama yang dijalani hanya sebatas ritual saja.

“Sederhananya orang yang sudah menjadikan agama sebagai bagian dari dirinya, maka orang itu tidak perlu takut. Spirit saja tanpa ritual juga tidak bisa. Karena menurut saya untuk menggapai spiritualitas kita harus melakukan aktivitas/ritual. Kesimpulan saya ada 4 faktor pemicu pelaku bunuh diri usia produktif; biologi, psikologi, social dan spiritual,” imbuh dokter yang setiap hari praktek di RSUD Wonosari dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari ini. (Kandar)

Komentar

Komentar