Upaya dan Program DKP Gunungkidul dalam “Menyongsong Peradaban Samudera Hindia”

oleh

GUNUNGKIDUL, (KH),– Konsep strategis pembangunan ‘Among Tani Dagang Layar’ digagas Sri Sultan Hamengku Buwono X. Konsep tersebut pertama kali dipaparkan oleh Sri Sultan HB X pada saat sebelum penetapan beliau menjadi Gubernur DIY 2012-2017.

Kemudian pada saat penetapan kembali Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY 2017-2022, strategi pembangunan DIY yang akan lebih memfokuskan diri pada pembangunan masyarakat maritim kembali ditegaskan. Strategi yang diterapkan tidak sekadar dalam jargon Among Tani Dagang Layar, tetapi melalui rumusan yang lebih luas lagi, yaitu “Menyongsong Peradaban Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Ir. Khaerudin menilai bahwa visi Gubernur belum tercermin hingga menjadi program turunan sampai ke tingkat daerah. Buktinya, salah satu program demi peningkatan produksi tangkap ikan masih mendapat alokasi anggaran yang sangat minim.

Khaerudin menyebutkan beberapa kendala belum maksimalnya tangkapan ikan nelayan Gunungkidul di pantai selatan, diantaranya; pengaruh musim/ cuaca, Sumber Daya Manusia (SDM) atau kemampuan nelayan, serta sarana pelabuhan atau pendaratan ikan yang kurang memadai.

“Rencana dibangunnya dermaga pendaratan ikan di Pantai Ngluwen untuk meningkatkan sarana prasarana juga tak bisa dilanjutkan karena dari hasil penjajakan kondisi topografinya tidak layak,” kata Khaerudin saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Setelah batalnya pembangunan sarana pendaratan ikan di pantai yang berada di sebelah barat Pantai Baron tersebut hingga saat ini belum ada wacana lagi di titik lain. Pun demikian, Pelabuhan Sadeng yang dinilai pantas untuk dikembangkan menjadi lebih besar juga belum mendapat prioritas.

Pihaknya menganggap, wujud rintisan visi Gubernur sedang dikonsentrasikan ke Kabupaten Kulonprogo dengan dibangunnya Pelabuhan Ikan Tanjung Adikarto. Melalui komunikasi ke pihak DKP DIY, Khaerudin mengaku terus mengusulkan agar Pelabuhan Sadeng juga segera diperhatikan.

“Selain agar kapal yang lebih besar bisa mendarat, juga agar lebih banyak lagi jumlah kapal yang dapat singgah. Dengan begitu potensi peningkatan produksi atau tangkapan ikan dapat lebih meningkat,” tutur Khaerudin.

Selain kendala sarana, terkait upaya peningkatan SDM juga belum mampu maksimal di laksanakan. Untuk itu di luar adanya program peningkatan kapasitas nelayan yang masih terbatas, kedatangan nelayan luar ke pantai Gunungkidul dinilai berdampak positif terhadap nelayan lokal. Karenanya, alih pengetahuan atau tukar ilmu melaut dengan nelayan luar dapat terjadi. Khaerudin contohkan, seperti misalnya bertambahnya pengetahuan nelayan Gunungkidul tentang pengoperasian kapal berukuran besar. Interaksi nelayan lokal dan luar tersebut biasa terjadi di Pantai Sadeng.

Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wasidi juga menyatakan hal yang sama, terbatasnya anggaran menjadi pokok penghambat peningkatan SDM nelayan. Disebutkan, dalam satu tahun anggaran untuk pelatihan hanya dapat diberikan kepada sekitar 25 nelayan.

Para nelayan diikutkan magang melaut menggunakan kapal seukuran 30 GT. Namun, karena terkendala anggaran pelatihan hanya bisa diselenggarakan selama tiga hari. Pihaknya menilai, agar banyak ilmu melaut dapat terserap oleh nelayan harusnya pelatihan minimal dilakukan selama seminggu.

“Kami juga bersiap melakukan pengadaan 5 perangkat GPS untuk sarana pelatihan. Jangan sampai nelayan ketinggalan teknologi, sehingga menghalangi potensi tangkapan ikan,” imbuh Wasidi.

Dirinya menilai banyak nelayan tradisional yang mengalami keterbatasan daya jelajah karena kesulitan menentukan arah. Dengan adanya teknologi GPS selain memudahkan penentuan arah juga mendukung ketepatan arah melaut menuju kawasan yang banyak ikannya.

“Setelah 5 GPS untuk pelatihan semoga dapat dilanjutkan pengadaan perangkat GPS bagi nelayan,” tukas Wasidi. (Kandar)

Komentar

Komentar