Unit Produksi Benih Palawija Gading, Siapkan Kebutuhan Benih Se-DIY

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Koordinator BPPTPH Unit Produksi Benih Palawija Gading, Playen, Purwanto menunjukkan proses seleksi benih. KH/ Kandar
Koordinator BPPTPH Unit Produksi Benih Palawija Gading, Playen, Purwanto menunjukkan proses seleksi benih. KH/ Kandar

PLAYEN, (KH)— UPT Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan Dan Hortikultura (BPPTPH), Unit Produksi Benih Palawija Gading yang berada dibawah naungan Dinas Pertanian DIY menjadi satu-satunya lembaga pemerintah yang menyediakan benih sumber untuk penangkar di wilayah DIY.

Dengan berbagai fasilitas gedung, ruang pendingin, peralatan pertanian dan mesin pemrosesan benih serta dilengkapi dengan lahan penanaman, BPPTPH menghasilkan 4 jenis benih palawija; Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, dan Kacang Hijau.

“Kami menyiapkan benih sumber untuk ditangkarkan kembali bagi para penangkar benih, baik swasta, kelompok tani dan perorangan,” tutur Purwanto Koordinator BPPTPH Unit Produksi Benih Palawija Gading, Playen beberapa waktu lalu.

Diungkapkan, Berdasar kebutuhan perencanaan dalam satu propinsi, rata-rata dalam satu tahun pihaknya memiliki target out put benih berdasar jumlah luasan tanam keseluruhan benih sekitar 14,5 hektar, dengan rincian yang bersumber dari dana APBD 12,5 hektar dan APBN 2 hektar.

Karena hanya memiliki areal tanam seluas 7 hektar, maka untuk mengasilkan 4 benih palawija sesuai kebutuhan, untuk itu penanaman dalam satu tahun dibagi dalam tiga periode tanam, pertama bulan November, lalu Maret, dan Juni-Juli.

Apabila dilihat kebutuhan masing-masing benih dalam satu tahun sebagai berikut; benih jagung sebanyak 4-5 hektar, kedelai 6,5-7,5 hektar, kacang tanah dan Kacang Hijau masing-masing 1 hektar.

Apabila saat penangkaran benih menemui musim kemarau, maka pemenuhan air sangat tergantung pada suplai air dari sumur bor yang ada, kenyataannya, debit air yang ada kurang maksimal. Dalam sehari sumur bor hanya mampu mengairi 3000 meter persegi lahan tanam.

“Sehingga sebagian kecil benih kami tangkarkan di luar areal ini. meski demikian upaya kemurnian varietas secara sungguh-sungguh kami upayakan tetap terjaga,” ujarnya.

Sebab, lanjut dia, proses sejak penanaman hingga proses lanjutan mendapat pengawasan Balai Pengawasan Dan Sertifikasi Benih (BPSB). Sehingga apabila ada campuran varietas yang lain (cvl) berdasar ciri-ciri tumbuhan maka tanaman langsung dicabut.

Lebih jauh disampaikan, proses pembuatan benih tidaklah mudah, selain menjaga kemurnian varietas, kadar air juga sangat diperhatikan, harus benar-benar kering, kondisi kadar air harus di bawah 11 persen. Selain itu juga harus memiliki daya tumbuh diatas 80 persen, hal ini dapat diketahui setelah dilakukan uji lab oleh BPSB.

Apabila benih tidak memenuhi syarat untuk lolos penangkaran, benih dapat dilarang beredar, ketentuan lain benih juga harus memiliki ukuran dan kualitas yang hampir sama, upaya ini dicapai dengan memanfaatkan mesin sortasi.

Apabila menggunakan mesin tidak bisa benar-benar bersih maka upaya memilah benih secara manual terkadang juga ditempuh. Setelah melalui tahapan yang ketat barulah benih dapat dijual atau didistribusikan ke para penangkar untuk dijadikan benih pokok. Sebelum benih didistribusikan ke penjual/ kosumen (petani) semua benih sudah dalam bentuk kemasan yang berlabel.

Maka dari itu, urai Purwanto, sangat dianjurkan petani untuk menggunakan benih berlabel, sebab apabila terjadi benih gagal tumbuh maka petani bisa melakukan komplain. Oleh produsen benih sesuai yang tertera pada label petani berhak mendapat garansi, atau ganti rugi benih baru.

“Sayangnya petani juga enggan mengklaim, komplain silahkan dilakukan apabila memang bukan karena kesalahan dalam proses penanaman, penangkar atau produsen benih wajib mengganti,” tandasnya.

Sambung dia, sangat penting juga untuk diperhatikan apabila membeli benih berlabel untuk melihat tanggal kadaluwarsanya, sebab hal tersebut dapat menyebabkan gagal tumbuh. Untuk diketahui daya tahan benih palawija untuk kacang tanah, kedelai dan kacang hijau sekitar 3 bulan, sedangkan jagung bertahan hingga 7 bulan.

Sementara itu mengenai hasil produksi benih dasar palawija untuk kebutuhan wilayah se-DIY dalam satu tahun berdasar satuan berat, Purwanto sebutkan, Benih dasar Jagung mencapai 650 kilogram, sedangkan jagung sebanyak 2,6 ton, sementara itu Kacang hijau dan kacang tanah untuk satu tahun dihasilkan 7 kuintal.

Benih-benih tersebut seyogyanya diberikan kepada ratusan penangkar yang ada di wilayah DIY termasuk Gunungkidul, setelah melewati tahapan proses di pihak penangkar yang diawasi oleh BPSB baru kemudian di jual lagi ke distributor benih atau petani.

Namun demikian, adanya berbagai faktor terkadang benih-benih itu tidak terserap habis oleh penangkar, maka dapat pula langsung didistribusikan langsung dari Unit Produksi Benih Palawija Gading kepada petani dengan berdasar surat permohonan oleh kelompok tani atau individu yang diajukan ke Dinas Pertanian Propinsi. Bahkan untuk menanggulangi kerugian, apabila benih benar-benar tidak habis terdistribusi maka akan dijual untuk konsumsi. (Kandar)

Komentar

Komentar