Trah Wongso Diryo Gelar Syawalan Bertema Kembali Ke Alam

Jabat tangan, salah satu agenda syawalan Trah Wongso Diryo di Trowono, Karangasem, Paliyan, Gunungkidul. KH/ Kandar.

PALIYAN, (KH),– Tradisi syawalan masih umum digelar oleh warga Gunungkidul. Ajang silaturahmi, bertemu dan berkumpul serta saling memohon dan memberi maaf sehabis Bulan Ramadhan seolah menjadi kegiatan rutin berbagai perkumpulan dengan beragam latar belakang.

Biasanya syawalan dilaksanakan oleh pagguyuban atas ikatan trah keluarga, warga yang memiliki kesamaan domisili atau tempat tinggal, satu kantor atau tempat kerja, perkumpulan sebuah komunitas, dan lain sebagainya.

Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Pagyuban keluarga atau trah Wongso Diryo di Padukuhan Trowono, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan ini, tiap tahun ratusan anak cucu dari leluhur Wongso Diryo menggelar tradisi syawalan.

“Syawalan tahun ini, panitia sepakat mengusung tema Kembali Ke Alam,” kata Ketua Pagguyuban Trah Wongso Diryo kelompok usia muda, Suhardjia, Sabtu, (1/7/2017).

Seperti diketahui, Paguyuban Trah Wongso Diryo terdiri dari dua kelompok berdasar usia, yakni kelompok usia muda dan kelompok usia sepuh. Dalam pelaksanaan syawalan, keduannya selalu sepakat menggelar secara bersama.

Momentum syawalan, selalu dianggap menjadi kesempatan yang begitu berharga. Sebab, antar anggota keluarga yang jumlahnya telah mencapai ratusan tersebut dapat saling bertemu dan mengenal. Tak sebatas itu, diharapkan pula masing-masing anggota menjadi paham bahwa semua berasal dari satu pasang keluarga sebagai cikal bakal, yakni keluarga Eyang Wongso Diryo.

Tradisi berkumpul tersebut semakin istimewa saat sebagian anggota yang datang tak hanya dari yang berada dekat dengan tabon saja. Pun demikian dari kota dan pulau lain ikut hadir untuk bersua dengan sanak saudara setelah beberapa waktu sebelumnya mudik.

“Ada yang datang dari Papua, Jakarta dan beberapa kota lain,” imbuh Suhardjia.

Disinggung mengenai tema, Suhardjia menerangkan, kembali ke alam mengandung maksud kembalinya pula seluruh anak cucu ke alam dalam arti lingkungan dimana pasangan sebagai cikal bakal berada. Mengunjungi kediaman/ tabon leluhur agar anak cucu ingat darimana awal mula sejarah keluarga besar Wongso Diryo dimulai.

Tema kembali ke alam juga diwujudkan dalam bentuk sajian atau hidangan makanan khas desa yang alami. Aneka hidangan memang bukan produk pabrik atau yang diolah secara modern. Ada gathot, ketela goreng, pisang rebus dan lainnya.

Sementara itu, salah satu anggota trah, Sigit Purnomo menyebutkan, Paguyuban trah dibentuk pada tahun 2005. Pertemuan rutin diadakan setiap satu bulan sekali yang diisi dengan kegiatan arisan. Rinci Sigit, Eyang Wongso Diryo memiliki 6 keturunan, yakni; Wono Diryo, Sainah Mento Diryo, Jiwo Rejo, Marto Diryo, Wiryo Sumarto, dan Pawiro Sahir.

“Dari keenam keturunan tersebut, saat ini telah terbentuk puluhan pasang anggota keluarga dengan jumlah jiwa mencapai ratusan. Sementara itu telah tergabung sebagai anggota arisan trah untuk kelompok usia sepuh sebanyak 30 KK, sedangkan kelompok usia muda sebanyak 50 KK,” jelas lelaki yang akrab dipanggil Wage ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar