Tradisi Ruwahan Yang Masih Terjaga

oleh

WONOSARI, kabarhandayani.– Sedekah Ruwah atau Ruwahan masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Upacara penyambutan datangnya bukan suci Ramadhan ini biasa dilakukan masyarakat dengan melakukan ziarah kubur untuk mendoakan almarhum keluarga.

Dalam melaksanakan tradisi ruwahan masyarakat biasanya menyajikan sedekah ruah berupa kue apem, kolak, dan berbagai olahan berbahan dasar ketan. Gulai ayam dan daging Sapi tak lupa disajikan untuk disantap bersama seluruh anggota keluarga maupun tetangga sekitar.

Keluarga besar Trah Wongso Sido Saliyem, satu dari sekian banyak masyarakat yang masih menggelar tradisi ruwahan. Menurut sesepuh Trah Satino, tradisi ruwahan sudah menjadi anggota rutin yang wajib dilasakanakn dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.

“Selain melestarikan budaya nenek moyang, Ruwahan adalah sebagai wahana mempererat tali silaturahmi antar sesama warga,”kata Satino seusai melaksanakan tradisi Ruwah, Selasa (10/6/2014).

Terpisah, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul CB Supriyanto menjelaskan, tradisi Ruwahan memang telah ada di Kabupaten Gunungkidul sejak puluhan tahun lalu yang hingga kini masih dijaga kelestarianya oleh sebagian masyarakat.

“Ruwahan biasa dijadikan sarana untuk mengirim doa kepada leluhur, melaksanakan kenduri wilujengan, tradisi ini memang telah ada di Kabupaten Gunungkidul sejak puluhan tahun lalu,”Ungkapnya. (Juju/Hfs)

Komentar

Komentar