Tradisi Gumbregan Di Karangrejek Digelar Meriah

Pelaksanaan tradisi gumbregan di Desa Karangrejek. KH/ Hari.

WONOSARI,(KH)— Sanggar Omahku Tirtomoyo Padukuhan Blimbing, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari menggelar peringatan tradisi atau adat yang dilengkapi kegiatan seni dan budaya, Selasa (26/09/2017).

Kegiatan yang digelar berupa pelaksanaan tradisi kenduri Gumbregan. Rangkaian kegiatan yang diselingi pertunjukan seni dan dolanan tradisional itu mampu menyedot perhatian warga sekitar.

Ketua Sanggar, Wakidi mengatakan, tradisi gumbregan merupakan tradisi ritual sekaligus berdoa yang diperuntukkan bagi hewan ternak warga, khususnya sapi dan kerbau. Sebagaimana diketahui, kedua hewan tersebut dahulu banyak digunakan masyarakat untuk membantu kegiatan pertanian.

“Selain agar ternak memberikan manfaat, doa pengharapan agar sapi atau kerbau beranak pinak juga dipanjatkan,” kata Wakidi.

Lanjutnya, hewan ternak dahulu juga melekat sebagai salah satu simbol kekayaan seseorang. Sehingga tujuan diadakannya Gumbregan juga sebagai bentuk rasa syukur para peternak. Dewasa ini, pelaksanaannya oleh masyarakat saat ini juga memiliki maksud untuk melestarikannya. Sebab Gumbregan merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang.

Disela kenduri Gumbregan, warga juga dihibur pementasan kesenian anak berupa penampilan seni tari tradisional dari sanggar setempat. Sementara pada malam harinya akan diadakan pagelaran wayang kulit yang menampilkan dalang Ki Rustiyanto.

Dalam kesempatan tersebut Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Ristu Raharjo memberikan apresiasi atas pelaksanaan upacara Gumbregan tersebut. Dirinya menilai tradisi yang dikemas lebih menarik mampu menjadi pertunjukan wisata budaya.

“Memang perlu dilestarikan karena bisa menjadi penambah daya tarik bagi Gunungkidul di mata wisatawan. Tak hanya kaya akan wisata alam namun juga kaya akan wisata budayanya,” katanya bangga. (Hari)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar