(T)Oya

oleh
Kali Oya dari Tebing Watu Mabur, Mangunan Dlingo. Photo: WG
Kali Oya dari Tebing Watu Mabur, Mangunan Dlingo. Photo: WG

Banyu kêlêm jroning toya.
“Air tenggelam di kedalaman air”
[Isbat; Peribahasa Eskatologis Ke-Jawa-an]

Empat oya/nadhi/sungai mengalir di tengah surga. Sehingga surga di Bumi, yang dalam bahasa ‘matematika’ sebagai turunan surga di Langit, menempatkan Oya di tataran yang tinggi. Manusia di surga Bumi mencoba meraih oyoding toya sejati dengan mengembangkan budaya di sekitar aliran oya/nadhi/bengawan/sungai. Juga di wilayah-wilayah dimana toya atau banyu (air) mungguh (berada).

Awalnya, air dan sumber air diciptakan oleh Hyang We (Tuhan) itu dalam suatu realitas tanpa ada yang mendaku (res nullius). Air mengada di oyod tetumbuhan, buah, batu, tanah, sungai, tuk, sumber, dan seterusnya, bebas tak ada yang memiliki. Setelah itu lahirlah apa yang disebut ‘krisis’: ‘peperangan’ memperebutkan air. Berebut mendaku air. Air (sebagai benda-mati sekaligus benda-hidup) diciptakan oleh Tuhan demi berlangsungnya kehidupan di bumi. Air merupakan benda yang bisa digunakan oleh alam (manusia, hewan, tumbuhan, dll.) sebagai benda-sosial (social-good). Yang memiliki hak atas air adalah sosialita-alam. Kemudian (dalam Samudramanthana mitologi perang-air ini diceritakan), air diperebutkan oleh para wangsa ‘raksasa’ (ciptaan berfisik tinggi besar), di dalamnya ada wangsa sura (dewa) dan asura (bukan dewa). Motif-purwa perebutan air-purwa barangkali muncul demi kelangsungan dan kelestarian hidup wangsa, caranya dengan memiliki dan menikmati air-suci kehidupan; banyu suci perwitasari. Masing-masing wangsa merasa bahwa dirinya lebih pantas memeroleh air-suci-kehidupan. Ini berarti bahwa makhluk-purwa (yang berciri fisik tinggi-besar) memiliki pembawaan (innate) laku-suci, agar dirinya suci, dengan air-suci.

Air suci kehidupan (banyu suci perwitasari, elixir of life), banyak disebut oleh banyak kisah-suci dengan banyak nama, seperti: Amrit Ras atau Amrita (India, bermakna ‘air-lestari’), Aab-i-Hayat (Persia, berarti ‘air-hidup’), Al Iksir (Arab, yang berarti ‘benda-ajaib’), Uisce Beatha (Skotlandia dan Irlandia, yang berarti ‘air-hidup’),  Fountain of Life (Bibel, sebagai perlambangan Roh Allah), Mansarovar (Tibet, sebagai nama sebuah telaga di kaki Gunung Kailash di Tibet, dekat Sungai Gangga), dst. Nama air-suci-kehidupan juga ditemukan dalam kisah lahirnya Wangsa Jawa di Serat Paramayoga (Ranggawarsita). Dalam kisah ini air suci disebut Maolkayat atau Tirta Kamandalu, dengan tokoh Sayid Anwar sebagai moyang para Dewa atau Hyang, yang ditakdirkan menemukan Wreksa Rewan (Kayon, Lata Maosadi, Kalpataru, Oyod Mimang) yang gugur ron-ronan-nya; akarnya sebagai simbol sekaring jagad dan digunakan untuk menghidupkan yang telah mati.

Daerah Subur sekitar DAS Kali Oya, Semin. Photo: WG
Daerah Subur sekitar Kali Oya, Semin. Photo: WG

Narasi mitologis lain yang menceritakan tentang air-suci yaitu usaha Garudeya (dalam Adiparwa) ketika amek (mencari) air suci kehidupan untuk membebaskan ibunya (Winata) dari suatu bentuk penjajahan (oleh Kadru), melalui air-suci yang berada di sebuah wadah (kendhi) yang disebut hudaka. Begitu halnya Adam dan Hawa, mereka memakan buah-suci. Air-suci yang berada di dalam buah-suci disebut hetuh. Artinya, Adam dan Hawa meminum air-suci, yang menyebabkan mereka ‘harus’ keluar dari sorga; mengembara di bumi. Sulaiman atau Solomon tak ketinggalan, dia mencari air-suci di Jalanidhi Iring Kidul (Samudera Sebelah Selatan). Bertemulah dia dengan seorang pemuda yang hidup di dalam kubah, sementara kubahnya berada di dasar samudera. Sang Pemuda begitu mundhi orangtuanya hingga ia panjang umur. Kisah masyarakat Zoroaster Persia, yang stereotip dengan Epos Arab, hingga Hikayat Iskandar Zulkarnaen di Sumatra (Melayu, Aceh), menceritakan bahwa Raja Iskandar Zulkarnaen ingin lestari laiknya malaikat. Oleh Malaikat Rofa’il diberi kabar bahwa Tuhan Yang Maha Hidup menciptakan ‘Ainul Hayat’; sumber air kehidupan.

Menurut wasiat Adam tempat sumber air kehidupan itu di tepi bumi yang gelap (gelap karena bencana gunung api?) sekaligus tempat matahari terbit (baca: equator, khatulistiwa). Ia ditemani Nabi Khidir. Dan yang dikisahkan menemukan ‘Ainul Hayat’ adalah Nabi Khidir. Khidir ibarat pujangga, atau patirtan: sumber ilmu bagi umat manusia. Sedangkan Musa agar suci harus dilarung di kali. Ia pun bertemu Khidir. Zulkarnain dan Musa disebut tunggal-banyu, yang bermakna satu guru atau satu ilmu. Di masa berikutnya seperti Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata yang berguru pada Maulana Ali Samsyu Zain. Akhirnya, para manusia terpilih berguru pada manusia terpilih di tempat dimana sumber air kehidupan mungguh (berada). Tempat seperti ini disebut sumur lumaku tinimba, para manusia yang menghuni selalu dimintai ilmu kehidupan, sumber ilmu kehidupan; sumber urip. Dan orang-orang yang mencari tempat ini, sebagai turunan dari tempat-tempat suci yang pernah disinggahi manusia suci, disebut golek banyu bening. Karena manusia bingung tentang dirinya sendiri, mengalami krisis, dan kadang tak memiliki tempat tinggal (numpal-keli, nomad), hingga mencari tempat singgah dimana sumber air berada. Manusia suci yang lahir, yang muncul, adalah pemimpin yang hèr gung raja manung, sugih tur berbudi. Hatinya seluas samudera (ati-segara). Kemudian, manusia-manusia akan mbanyu-mili hidup di tempat ini, yang kadang beberapa di antaranya malah menyimpan keinginan untuk memiliki (agresi).

Sumber Air Kehidupan, Ngeleng, Purwasari. Photo: WG
Sumber Air Kehidupan; Ngeleng, Purwasari. Photo: WG

Mitologi purwa tentang ‘pencarian’ dan ‘kepemilikan’ air-suci dalam dalam banyak kisah/narasi mitologis di atas diulang dalam mitologi-modern, menggunakan cara pandang orang modern, sebagai suatu hak melik: wangsa, keluarga, kelompok mana yang lebih berhak menggunakan sumber daya alam berupa (sumber) air.  Karena apa yang dilakukan wangsa manusia merupakan tindakan-ulang dari laku wangsa-purwa sebelumnya. Sementara air, sebagai benda-hidup, mengandung roh/spirit. Ini lah harga sebuah benda yang disebut air. Spirit atau roh air menjadi perlambangan hidup manusia. Spirit air selalu dicoba dihidupkan terus-menerus oleh wangsa manusia melalui kisah-kisah suci; tersembunyi dalam struktur implisit sebuah laku-suci, oleh seorang atau sekelompok tokoh suci, dalam sebuah ritual dan tempat suci. Maka, para wangsa di jaman modern pun meniru perseteruan sura-asura itu. Perseteruan memperebutkan air-suci di masa purwa hingga modern, melalui motif untuk melestarikan kelompoknya sendiri dengan ‘meniadakan’ kelompok yang lain, merupakan hakekat kehidupan: spirit-cinta (eros) dan kematian (thanatos), atau hidup (amrta) dan mati (mrti).

Dua spirit ini yang melatarbelakangi wangsa manusia selalu mencoba ngupadi realitas banyu-aji yang sesungguhnya; demi kehidupannya, bukan kematiannya. Dalam laku sucinya manusia menaiki bebatuan gunung untuk mencari air-suci. Har atau her itu “air yang diam/tinggal di atas/tengah batu”. Kata wod (kata dasar berbentuk satu suku kata) ini biasa membentuk kata harjuna atau herjuna: (tokoh) manusia yang mampu memeroleh air yang diam di atas batu (kualitas begawan). Kemudian di kisah jaman sekarang, misal, secara batin, beberapa dhalang dan ‘pemimpin’ di Gunungkidul mencoba ngupadi ‘air’ ini di Gunung Panggung, yang tak lain adalah batu besar tempat menemukan spirit kehidupan. Air-suci kehidupan salah satu tempatnya ya di gunung; di puncak gunung. Gunung merupakan tempat untuk tarak-brata, kontemplasi, mencari hakekat diri. Secara material, di gunung ini pun terdapat sumber-air yang tak kering meski kemarau. Dan gunung-gunung seperti Gunung Panggung dan gunung-gunung di kanan-kirinya hingga ke Manyaran Wonogiri adalah puncak asal-muasal air kehidupan, yang mengumpul, yang mengalir, yang mengular, menjelma Kali Oya, yang tak lain adalah nadhi Gunungkidul secara lahir dan batin, berujung di tempuran Oya-Opak di Imogiri. Berawal dari gunung (giri), air-kehidupan berjalan membelah gunung (giri), bermuara di samudera tak hingga.

Sumber Air Kehidupan, Ponjong. Photo: WG
Sumber Air Kehidupan, Ponjong. Photo: WG

Ternyata, laku yang dicontohkan oleh beberapa dhalang dan ‘pemimpin’ tentang pencarian air suci kehidupan ini kadang berkebalikan dengan apa yang dicari oleh beberapa dari kita, manusia modern, terhadap sumber daya air. Toya yang jati-dhirinya bertempat di ‘batu’-nya orang banyak, milik komunitas (social-good), dan menyimpan spiritualitas kolektif, lantas berganti-pakaian menjadi hanya milik perorangan atau sekelompok orang yang bersifat sekular-material. Hadirnya para pemodal yang rebutan sebuah sumber daya air merupakan indikasi bahwa sumber air merupakan ‘barang-dagangan’ yang masif. Lahirnya prinsip ke-4 dalam The Dublin Principles (Konferensi Air dan Lingkungan, di Dublin, Irlandia, 1992) berkenaan dengan politisasi ekonomi air: “Water has an economic value in all its competing uses and should be recognized as an economic good”, lebih menonjol dibanding 3 prinsip lain yang rasa-rasanya lebih memiliki semangat menjaga sumber air. Begitu halnya Undang-undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dengan argumentasi Hak Guna Usaha Air, justru laksana dom sumurup ing banyu (baca: politik terselubung) yang sering digunakan sebagai alat pemberian ijin eksploitasi. Akhirnya, air menjelma menjadi barang pasar bebas. Jadi komoditas. Untuk kalangan terbatas. Lupa spiritualitas.

Spiritualitas air, atau katakan saja ‘paham’ air, melek-air, literasi air, merupakan ilmu dan pengetahuan manusia tentang sumber daya air di tataran lahir dan batin; skala-niskala. Hal ini selaras dengan pengertian para pecinta alam mengenai bagaimana menempatkan alamnya, yang di dalamnya terdapat materi air; seperti yang dikabarkan oleh Aldo Leopold dengan istilah The Land Ethic, etika alam. Yaitu perilaku ‘selalu’ memperhatikan alam. Alam adalah benda hidup. Ibunya kehidupan. Alam dianggap sebagai pelaku (subjek); tak melulu manusia yang menobatkan dirinya sendiri sebagai subjek dalam kehidupan ini. Jika demikian, bumi dan isinya bukan merupakan alat/piranti ekonomi belaka, namun sesuatu yang menyimpan (mengandung) nilai dan spirit; lantas manusia selalu mikul-dhuwur rasa kasihnya kepada alam, mempertajam cinta-kasihnya itu setiap waktu, demi menjaga kelestariannya.

Ibu dan Kambingnya, Jembatan Praon. Photo: WG
Seorang Ibu dan Kambingnya, Jembatan Praon. Photo: WG

Asah asih asuh (salah satu unsur semboyan Gunungkidul yang “handayani”, tak keliru juga ada terma ‘hijau’) kepada alam disebut deep-ecology, yaitu lubuk dari perilaku baik-buruk itu tak hanya dimiliki oleh manusia, namun juga ‘spirit-hidup’ yang berhubungan dengan alam dan lestarinya alam. Aksinya berupa ecosophy, suatu kebijaksanaan manusia untuk mengatur alamnya, dunianya: amemangun karyenak tyasing sesama. Dalam prilaku ini, ‘sesama’ itu bukan melulu sesama manusia, namun termasuk semua ciptaan Tuhan di dunia ini. Jadi, sesama adalah sama sekali “sama-sama ciptaan”. Manusia, yang kadang menempatkan dirinya ‘ordinat’ dibanding alam, dianggap mampu membangun omah-omah dengan alam; membangun brayat agung bersama alam. Kemudian, yang menjadi perhatian utama para pegiat pencinta alam adalah tentang pengurasan sumber daya air oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya “kepala rumah tangga” alam, berhadapan langsung dengan aksi-ekosofi berupa upacara-upacara tradisional demi lestarinya sumber daya alam seperti: bersih kali, bersih sumber, dan sebagainya.

Spiritualitas air seperti itu yang diajarkan leluhur Jawa juga ‘agama-agama’ yang pernah mungguh di Nusantara. Agama Hindu Bali lazim disebut Agama Tirtha. Di Budha, air adalah materi kehidupan pertama. Muslim harus sesuci salah satunya dengan air untuk Sembah Hyang (shalat), menggunakan banyu-talang dari padasan. Atau bebersih dari kekotoran. Ajaran spiritualitas air dalam agama-agama berupa tindakan sesuci (sacrifying) dan mengobati (healing). Menggunakan simbol air. Pengurapan umat Manu/Nuh dengan banjir. Pengurapan Fir’aun/Pharaoh/Raja dengan air samudera. Pembabtisan Isa. Juga Musa yang dilarung di kali. Oleh karena itu, di dunia tradisional air tetap bersifat mitis-magis. Misal, untuk menyembuhkan orang sakit menggunakan banyu-tangi untuk mandi (air hangat). Tujuannya: untuk mensucikan dan menyembuhkan umat manusia.  Akhirnya, tempat-tempat spiritual yang berhubungan dengan sumber air kehidupan merupakan lambang waudadi: air-mancur tentang eksistensi ketuhanan, atau jalatundha: sumur yang ingin selalu diselami kedalamannya oleh manusia, juga sumur-sinaba: yang selalu didatangi manusia, semacam kali/nadhi/sindhu, bengawan, kedhung, tuk, beji, sumber, umbul, sendhang, grojogan, tlaga, dan sebagainya.

Wreksa Gung Penjaga Warih, Semin. Photo: WG
Wreksa Gung Penjaga Warih, Semin. Photo: WG

Laku suci masyarakat yang berhubungan dengan sumber air merupakan aksi mengulang laku suci yang pernah dilakukan oleh masyarakat dan tokoh-tokoh unggul sebelumnya, yang saya sebut sebagai sastra-air. Sastra ini lebih dulu hidup di Nusantara sebelum tradisi ‘agama-agama’ di atas dengan seperangkat syariat dan spiritnya hidup. Sastra (ajaran tinggi)-air bisa dilihat dari sebuah wreksa-gung yang menjaga sebuah nadhi/sungai; yang hidup di kanan-kirinya. Wreksa-gung, selain menjaga alir air, mereka juga mewijilkan air yang mengada di (keluar dari) buluh-buluh oyod yang lembut. Wreksa merupakan simbol manusia laki-laki, sementara bumi dan nadhi/sungai simbol manusia perempuan. Persatuan keduanya melahirkan warih, yaitu air yang lahir melalui akar wreksa. Bersih airnya. Bening. Yang dalam sastra-kuna disebut weninging banyu, atau banyubening, atau wasundari. Karena kelahiran putra-air (warih, banyubening) ini maka siklus hidrologi berjalan. Upacara resik-kali, resik-sendhang, resik-beji, merti-tlaga, yang tersebut di atas, yang tak bisa lepas dari keberadaan wreksa-gung sebagai pewijil air, merupakan laku suci. Berbentuk upacara. Laku ‘kebatinan’ (segala yang berhubungan dengan dimensi batin, spiritualitas, kelembutan, adalah kebatinan), dipimpin oleh seorang putra-air (seperti para nabi, rasul, manusia unggul di atas), atau para-warih. Para putra-warih menjadi cikal-bakal suatu daerah dimana sumber air kehidupan berada. Kelak, mereka meninggalkan jejak nama daerah itu yang berhubungan dengan wreksa gung dan air pula: Sumber Reja, Sumber Giri, Beji, Kalibening, Banyubening, Banyuniba, Song Banyu, Banyusoca, Gayam Harja, dst.

Adalah Ki Ageng Giring, salah satu tokoh Gunungkidul yang bisa disebut sebagai putra-warih. Ia mengembangkan budaya dimana sumber air kehidupan berada, di sebuah sendhang, yang di waktu kemudian terberi nama seperti halnya Sang Ibu Bumi: Talang Warih. Putra-warih tentu saja lekat dengan laku suci yang berhubungan dengan warih; yang mengumpul sebagai sumber air kehidupan. Warih yang mendukung nadhi. Layaknya organologi, kali/nadhi adalah nadi (vena) dalam tubuh manusia; sarana untuk mengalirkan darah. Warih itu darah, lahir dari pembuluh darah (pembuluh oyod). Warih merupakan banyu-urip, darahnya kehidupan. Maka, untuk melahirkan trahing andana warih yang sejati Ki Ageng Giring melakukan laku suci di nadhi/kali. Mesu raga, among raga. Tirakat. Maneges, mencari teges, yaitu memiliki tekad kuat, lurus, mencari yang sejati di telenging nadhi. Nyilem, kungkum: laku mitis pencarian diri, di kedalaman air.  Sebuah yoga. Laku maneges di nadhi/kali dengan nyilem itu tak bernafas; menutup hawa-sanga. Yaitu di nawa, di air-dingin. Mengulang laku-suci Bima mencari jati diri. Menyongsong kelahiran baru, era baru: Mataram Baru sebagai turunan Mataram Lama. Di kemudian waktu, karena keinginan melahirkan trahing kusuma andana warih itu pending, maka kali tempat Ki Ageng Giring mesu raga dinamai Kali Gowang.

Sendhang Talang Warih; Sada, Paliyan. Photo: WG
Sendhang Talang Warih; Sada, Paliyan. Photo: WG

Aksi ini diikuti oleh putra warih yang lain, anak dari saudara Ki Ageng Giring, menggunakan kumbang Ali-ali untuk mesu raga di Kali Pepe, yaitu Pangeran Mangkubumi. Ali-ali atau cincin merupakan perlambang ikatan antara manusia dengan Tuhan. Ikatan batin harus dicari, dijaga, diwujudkan. Yang sungguh batin harus diraih untuk menjelma rembesing-warih, jalma-pinilih, manungsa-unggul (Eropa, lewat Nietchsze, juga memiliki konsep manusia unggul: ubermenzch, yang laras dengan kondisi Eropa saat itu). Salah satu syaratnya adalah jika manusia telah memiliki kuasa akan kedalaman air, liarnya hutan, juga tingginya gunung. Mereka telah mangasah mingising budi, memasah malaning bumi. Suatu saat akan tiba waktunya para putra warih abiniseka, winisuda, menjadi manusia yang hamengkubuwana, hamengkubumi, atau mampu hamengkubawana. Tersemat dalam gelar kebesarannya. Diharapkan mampu hamengku, hamangkoni rakyat dan alamnya; mereka membawa genthong dan kendhi (baca: tempat air kehidupan), yang tak kering untuk memenuhi dahaga rakyatnya.

Maka, di waktu-waktu kemudian, Para Putra Warih dalam rangka hamengkubuwana-hamengkubumi melestarikan laku suci yang berhubungan dengan sumber air, sebagai ciri desa/kabupaten/kerajaan/kraton/negara agraris. Mencoba membuat bendung, bendungan, kolam, segaran, embung, dan seterusnya untuk kepentingan pertanian, selain mendayakan sumber air non-buatan lain untuk mendukung budaya agro dan spiritualitas. Kali Opak didayakan untuk irigasi. Kali Oya dibendung untuk irigasi. Tak mengherankan jika laku suci para Putra Warih ini sekedar meneruskan apa yang dulu sekali pernah dilakukan oleh pra-leluhur, termasuk mengembangkan peradaban para-sejarah (sejarah purwa, awal) di sekitar aliran Kali Oya (kebudayaan Sakaliman) dan Bengawan Solo Purwa (kebudayaan Gunung Sewu).

Wreksa dan Tlaga; Trowono. Photo: WG
Wreksa dan Tlaga; Trowono. Photo: WG

Toh tegaknya suatu kebudayaan didukung oleh keberadaan dan kelestarian sumber air. Cerita suci tentang toya (air) dan oya (sumber air) akan tetap lestari. Merujuk pada konsep negara Indonesia di jaman modern ini, khususnya UUD, ‘barang’ yang disebut air sejatinya merupakan sumber daya yang dimiliki oleh semua masyarakat, yang terbuka untuk digunakan oleh siapa saja (open acces). Tak ada yang benar-benar memiliki hak terhadap air.  Kecuali negara. Dilindungi negara. Itu pun jika menenuhi prasyarat “untuk kepentingan masyarakat” (pasal 33 ayat 3). Ingatan tentang status air ini begitu lekat dalam diri kita. Namun terkadang, ‘negara’ melalui tangan ‘pemerintah’ justru menggadaikan sumber daya yang ‘seharusnya’ untuk kepentingan rakyat menjadi untuk menyukupi ‘perut’ sebagian rakyat. Tatkala air menjadi menjadi hak-milik pribadi/kelompok, telah melenceng dari spirit air yang purwa. Air dianggap melulu barang pribadi (private), aji/nilai-nya dihargai uang (water-pricing). Yang tata-lahir (sekular) maknanya. Karena terdesak alasan ekonomi, dan tak kuasa merubah sistem ekonomi yang membelenggu, dengan sadar atau tidak masyarakat ikut menghargai nilai air/sumber air dengan ukuran ‘uang’. Sedemikian hingga ada sumber air yang tadinya dijaga, dipundhi, diuri-uri, dengan berjamaah dieksploitasi tanpa pengelolaan yang mengutamakan kelangsungan hidup sumber daya air di waktu-waktu mendatang.

Hak-pakai air disalah-gunakan; mengulang mitologi peperangan sura-asura yang berebut air suci kehidupan di muka. Di mana ada sumber air, orang-orang datang berbondong, berebut kuasa akannya. Menumpuk-numpuk keuntungan ekonomi (homo-economicus). Korporasi multi-nasional (MNC) rebutan sumber air. Kelompok Ha kelompok Na bertengkar masalah sumber air. Negara Ca, negara Ra, dan negara Ka (yang di belakangnya adalah korporasi multi-nasional) juga memperebutkan wilayah teritorial samudera. Air menjadi bahan permusuhan, bukan keguyuban (persatuan). Padahal, adanya air/sumber air mampu menyatukan. Manusia seharusnya mampu menciptakan paseduluran-warih, solidaritas air, seperti yang diwariskan para leluhur melalui berbagai ritus-air. Bebersih atau reresik sumber air. Seperti juga kala musim kemarau itu, kita ‘merayakan’ solidaritas air dengan ritual dropping-air-bersih di berbagai wilayah di Gunungkidul yang kekurangan air bersih. Ini bentuk persatuan: air sebagai barang sekular sekaligus spiritual. Dengan air kita memiliki rasa saling handarbeni kemudian hamangkoni kepada/dengan yang lain. Akhirnya, dapat terwujud masyarakat yang melek-air.

Tlaga Guyangan, Kampung 7 KK Nglanggeran. Photo: WG
Tlaga Guyangan, Kampung 7 KK Nglanggeran. Photo: WG

Namun tampaknya, dan seringkali penglihatan saya saja yang salah, narasi-mitologis melek-air yang melekat pada situs-situs air bagi para putra Gunungkidul dan Nusantara pada umumnya sekarang sedikit demi sedikit mulai berbelok arah dan tujuan. (Ya, hanya beberapa, tidak semua). Kita menjejak di tetanah hasrat-modern tentang air/sumber air, yang lebih bangga mengajak anak kita untuk merasakan fantasi tempat wisata air yang dibungkus komoditas. Wisata buat-buatan. Banyak anak yang tak tahu, tak memiliki pengetahuan, dengan ekosistem dan habitat air/sumber air yang nyata, melalui pengalaman intens mereka, seperti dengan kali, bengawan, grojogan, belik, beji, sendhang, tlaga, dst. yang terkait-erat dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan (khas), hewan-mitologis, tempat keramat/suci ekologis yang harus dihormati, yang tak lain adalah keluarga alam, yang tentunya bukan ‘melulu’ di bawah payung komoditas-wisata. Yang beberapa di antaranya telah dipermak, disuper-kopikan untuk kepentingan wisata. Bahkan, di kota-kota, juga di kota-kota kecil (kecamatan), mereka disuguhi fantasi dan gaya-toya sebagai ‘ganti’ pengalaman mitis adus neng kali nyemplung ing kedhung lewat tempat-tempat air modern: waterboom dan lain-lain. Yang cara menghargainya (menghargai ‘ekstase’ toya) melulu dengan uang (water-pricing) itu tadi. Ditambah lagi bab fantasi ‘kemajuan’ Gunungkidul dengan indikator naiknya tingkat kunjungan wisata-air, yang seringkali ‘merebut’ hak dasar masyarakat Gunungkidul kepada toya/air; yang justru sangat pantas untuk lebih didayakan lagi demi pertanian (menguatkan sektor pertanian yang sebenarnya telah diprogramkan dan dilaksanakan oleh pemerintah). Sementara, semua fantasi (beda dengan imajinasi) tak akan mengarahkan anak-anak, juga yang dewasa, pada pesuning raga sucining rasa.

Hanya tragedi.

Dan, kita terlanjur klebus toya. Tenggelam di kedalaman air. Kita terjerembab di waterboom, bahkan goa yang di dalamnya mengalir air bawah tanah, oya, grojogan, sumber, beji, tlaga, laut dan sebagainya, karena kita terlalu selfish: saking seringnya tempat wisata toya kita-daku. Lantas kita-‘jual’ begitu saja tanpa mengku alam.

Aih, tambah bikin kita tetoya: buang air besar yang kebanyakan airnya hingga crat-cret!

[oleh: WG]

Komentar

Komentar