Tjipta Swasana, Pencipta Lambang Gunungkidul Dhaksinarga Bhumikarta

oleh
Tjipta Swasana dan karyanya lambang Dhaksinarga Bhumikarta. Foto: Bara.
Tjipta Swasana dan karyanya lambang Dhaksinarga Bhumikarta. Foto: Bara.

WONOSARI, Kabarhandayani,- Pak Tjipta Swasana, seorang abdi negara yang bersahaja, lahir di Desa Karangtengah Wonosari adalah pencipta Lambang Kabupaten Gunungkidul Dhaksinarga Bhumikarta.

Terlahir pada 2 Maret 1943 dengan nama lengkap tertulis dalam pola ejaan lama Tjipta Swasana. Ia menceritakan kisah perjalanan pembuatan lambang daerah tersebut. Pada tahun 1966, usianya masih tergolong pemuda 23 tahun, ia mulai bekerja sebagai pegawai di Pemerintah Kabupaten (Dati II) Gunungkidul. Bupati Gunungkidul  waktu itu dijabat KRT Djojodiningrat membentuk Panitia Sayembara Lambang Daerah dengan SK Bupati Nomor 80/5/IV/1967 tertanggal 3 Oktober 1967.

Pak Tjip waktu itu masih menjadi pegawai baru Pemkab Gunungkidul. Ia tertarik mengikuti Sayembara Cipta Lambang Daerah tersebut. Sayembara itu dilaksanakan dalam waktu 2 bulan dan diikuti sekitar 40-an peserta.

Pak Tjip menuturkan, tak menyangka akan menjadi pemenang lomba sayembara lambang daerah tersebut. Sambil mengenang, ia menceritakan dulu memakai nama samaran “Aniek” saat mengikuti sayembara tersebut. Proses desain saat mengikuti sayembara tersebut, diakuinya juga membutuhkan konsentrasi penuh dan waktu yang lama juga. Ia menyadari penuh, membuat lambang daerah harus mampu menghadirkan pemaknaan yang dapat menggambarkan potensi dan suasana Kabupaten Gunungkidul dalam secarik kertas gambar.

Keputusan pemenang sayembara lomba lambang daerah ditetapkan dengan Surat Keputusan DPR Gotong Royong Kabupaten Gunungkidul No.7/Kpts/1968 dan No 10/Kpts/1968 yang menetapkan Tjipta Swasana dengan nama samaran “Aniek” menjadi Pemenang Utama Sayembara Lambang Daerah Kabupaten Gunungkidul.

Sembari tersenyum, ia mengenang dengan penuh syukur, dulu menerima hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 10.000,-. “Uang hadiah itu saya belikan 1 ekor kambing seharga Rp 5.000,- dan 1 setel jas. Jas-nya masih utuh dan saya simpan sampai sekarang,” ujarnya kepada Kabarhandayani.

Lebih lanjut, ia menuturkan, “Lambang daerah yang saya ciptakan memiliki inti Dhaksina-Arga-Bhumi-Karta. Dari bahasa Sansekerta yang berarti Bumi Gunung Selatan yang Subur.” Bila ditilik lebih jauh, lambang daerah Kabupaten Gunungkidul tersebut memang bercorak klasik dan abadi, mampu menggambarkan dan memuat segala potensi geografis, sumber daya alam.

Unsur selanjutnya, dalam lambang tersebut adalah penggambaran semangat, tekad dan cita-cita warga Gunungkidul dalam mengupayakan kesejahteraan dan keselarasan hidup, yang tercermin dalam pengingat harmonisasi dalam hidup, yaitu senantiasa ingat akan Sangkan Paraning Dumadi.

Arti dan makna lambang daerah Kabupaten Gunungkidul secara lengkap selanjutnya seperti yang dibakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebagaimana tertuang dalam Perda Nomor 1 Tahun 1968. Tersedia di tautan ini. Lambang yang menjadi ciri khas Kabupaten Gunungkidul pada akhirnya dikenal luas oleh berbagai kalangan, karena menjadi penanda resmi berbagai hal-ihwal terkait dokumen dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul serta wilayah Gunungkidul. Bahkan berbagai organisasi yang terkait dengan wilayah Gunungkidul pun memiliki logo atau lambang yang merupakan varian dari lambang resmi daerah ini.

Sebagai tanda penghargaan resmi atas karya cipta lambang daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah memberikan Piagam Penghargaan kepada Tjipta Swasana pada 6 Maret 1993 dengan Surat Keputusan Bupati Nomor: 1/PH/KPH/GK/1993. Apresiasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga diwujudkan dalam pemberian cindera-mata berupa cincin emas pada waktu era Bupati Suharto beberapa tahun lalu.

Sosok Tjipta Swasana nampaknya adalah gambaran orisinil orang-orang Gunungkidul yang melakoni hidup sederhana, apa adanya, dan tulus melakukan pengabdian. “Saya tidak ingin disanjung mas. Saya hanya ingin mendarmabaktikan apa yang bisa saya perbuat untuk Gunungkidul,” tuturnya kepada Reporter Kabarhandayani pada Senin pagi (26/05/2014) di kediamannya.

Sehari sebelumnya, Kabarhandayani sowan ke rumah Pak Tjip, tetapi Sutini mempersilakan untuk datang keesokan harinya karena kondisi sang suami yang lagi kurang sehat dan perlu istirahat.

Pak Tjipta purna tugas sebagai abdi negara selaku pegawai di Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1999. Penugasan telah ia jalani dari tingkat bawah di berbagai bidang, dan terakhir sebelum pensiun menjabat sebagai Kepala Bagian Kepegawaian. Saat ini tinggal di rumahnya yang bersahaja di Padukuhan Gadungsari RT 01/RW10 Desa Wonosari di Kecamatan Wonosari.

Istrinya yang setia menemani masa sepuh pak Tjip, ketiga anak dan menantu, serta keempat cucunya menjadi pelengkap kebahagiaan sosok sederhana yang karyanya mewarnai berbagai dokumen dan atribut resmi Kabupaten Gunungkidul ini. Kepada Kabarhandayani, ia juga menuturkan bahwa telah menerima undangan resmi upacara di alun-alun Pemda. Namun ia menyatakan mohon pamit tidak mengikuti karena mengingat kondisi kesehatannya.

Saat ngobrol hangat terkait perkembangan Gunungkidul saat ini, Pak Tjip masih penuh semangat memberikan catatan kritis dan konstruktif. Yang disampaikannya adalah tentang lambang kabupaten dan batik yang ingin dikembangkan sebagai ciri khas Kabupaten Gunungkidul.

“Latar belakang lambang Kabupaten Gunungkidul dulunya berwarna merah kotak mas. Bukan merah dalam kotak perisai seperti lambang yang dipakai instansi militer. Kemudian, batik Walang (Batik Tancep Ngawen) memang khas, tetapi ada baiknya dikembangkan lagi motif-motif yang menunjukkan keragaman potensi lainnya di wilayah Gunungkidul,” ujarnya.

Kepada para generasi penerus, ia berharap agar dapat memaknai lambang daerah tersebut dan berbakti kepada tanah kelahirannya tanpa pamrih. (Bara/Jjw).

Komentar

Komentar