Tiap Bulan Sura, Jamasan Tosan Aji Di Desa Pilangrejo Rutin Digelar

Kegiatan jamasan tosan aji di Desa Pilangrejo. KH

NGLIPAR, (KH),– Pegiat pelestari benda pusaka (tosan aji) di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar bersama karang taruna menggelar jamasan tosan aji, Jum’at, (20/10/2017). Kegiatan kearifan lokal tersebut dihadiri Camat Nglipar, Drs. Witanto.

Koordinator jamasan tosan aji, Wartoyo mengatakan, pihaknya sengaja melibatkan generasi muda agar kelak dikemudian hari ada yang menjadi generasi penerus melaksanakan tradisi tersebut.

“Kegiatan ini sudah berlangsung sejak dahulu. Pernah pula digelar di Embung Sriten. Karangtaruna selalu membantu dan ikut mempelajari cara menjamas benda pusaka,” tuturnya.

Anggota penjamas, Bilal S menyebutkan, pusaka yang disimpan oleh masyarakat Desa Pilangrejo sangat banyak.  Akan tetapi benda pusaka yang dijamas dari pagi hingga siang tadi baru ada sekitar 50-an buah.

“Sebagian besar keris, ada pula tombak, patrem, dan benda pusaka berbahan logam lainnya,” ungkapnya.

Bilal menambahkan, di Desa Pilangrejo setidaknya terdapat tosan aji berbahan dasar dari dua jenis logam besi. Keduannya membutuhkan perlakuan yang berbeda saat dilakukan jamasan. Menurutnya, jenis besi hitam berpamor lebih membutuhkan perhatian khusus karena wujudnya lebih eksotis. Sebab, jika salah dalam perlakuan dapat mengakibatkan kerusakan.

“Kami berusaha agar pusaka peninggalan nenek moyang di Desa Pilangrejo ini tidak rusak dimakan usia sehingga generasi penerus kelak masih bisa melihat pusaka/ senjata yang dulu pernah menjadi sarana untuk meraih kemerdekaan,” terang Bilal.

Sementara itu, Ketua Karangtaruna Desa Nglipar, Roni, mengaku bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut bertujuan agar dapat turut belajar cara merawat pusaka peninggalan leluhur. Dirinya berharap semakin banyak pemuda yang lain bersedia ambil bagian dan peduli sebagai pelestari asset sekaligus salah satu keragaman budaya negeri ini.

Kegiatan jamasan tosan aji diawali dengan doa ‘selamat’ dipimpin oleh koordinator jamasan kemudian ditutup dengan kenduri sebagai ungkapan syukur kepada tuhan Yang Maha Esa. Para pegiat bersyukur peninggalan nenek moyang tersebut masih terjaga hingga kini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar