Tembakau, Tanaman Menguntungkan Setelah Musim Padi

oleh
Endi Widayatna, Petani tembakau asal Pampang, Paliyan sedang menjemur hasil panen. KH/ Kandar.
Endi Widayatna, Petani tembakau asal Pampang, Paliyan sedang menjemur hasil panen. KH/ Kandar.
Endi Widayatna, Petani tembakau asal Pampang, Paliyan sedang menjemur hasil panen. KH/ Kandar.

PALIYAN, (KH)— Selepas Panen padi, sebagian besar petani tadah hujan di Gunungkidul menanam palawija, berupa kacang, kedelai, jagung, atau jenis tanaman sayur. Dibeberapa wilayah ternyata tidak demikian, sebagian petani lebih memilih menanam tanaman jenis lain dengan mempertimbangkan keuntungan hasilnya.

Seperti yang dilakukan Endi Widayatna, warga Padukuhan Pampang 1, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan ini, selepas panen padi ia lebih memilih menanam tembakau di lahan pertaniannya. “Untuk yang berani bertaruh resiko lebih besar lebih memilih menanam tembakau,” katanya, Sabtu, (17/7/2016).

Sebab, lanjut dia, tanaman tembakau sangat tergantung dengan cuaca, apabila tanaman telah cukup umur atau sedang menunggu waktu panen, apabila terkena intensitas curah hujan tinggi dapat mengakibatkan gagal panen.

Modal dan biaya operasional yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan menanam palawija atau tanaman lain juga menjadi penentu apakah petani berminat menanam atau tidak. Petani tembakau dengan kondisi ekonomi atau modal terbatas biasanya saat proses penanaman dikerjakan secara sendiri tanpa menambah tenaga penggarap, sehingga banyak diantara penanam tembakau ini apabila dilihat dari segi umur rata-rata belum terlalu tua.

Menanam tembakau keuntungannya sebanding denga resiko. Sebagai contoh perbedaan hasilnya Endi gambarkan, pada luas lahan yang sama dengan rata-rata hasil terbaik pada masing-masing tanaman, hasil tembakau memberikan hasil dua kali lipat lebih tinggi.

“Pernah menanam semangka dan cabai pada lahan seluas 1000 meter persegi, hasilnya saya bandingkan dengan tanaman tembakau, meski masa panen relatif lebih lama dengan beberapa jenis tanaman lain, hasilnya lebih menguntungkan tembakau,” ulas pengurus Kelompok Tembakau Rasa Padukuhan Pampang ini.

Waktu panen, sambungnya, hingga mencapai empat bulan, lebih lama dengan beberapa jenis tanaman pilihan yang biasa ditanam setelah masa panen padi habis. Begitu juga dengan tahun ini, ia kembali menanam tembakau, meski bertaruh dengan adanya prediksi terjadinya musim kemarau basah.

“Tahun ini saya menanam sekitar 22.000 bibit tembakau, bersyukur, saat panen hanya 20 persen saja tanaman kami yang rusak,” ujar Endi.

Lebih jauh disampaikan, ia membutuhkan biaya operasional mencapai sekitar Rp. 10-an juta. Biaya yang besar itu membuat banyak petani berfikir untuk bertaruh memilih menanam, karena ketika ada ancaman gagal karena cuaca, petani tak dapat berbuat banyak.

Kelompok yang dikelolanya telah bekerjasama dengan salah satu pabrik rokok yang mendirikan gudang di perbatasan timur Gunungkidul. Kelompok yang beranggotakan 26 petani itu biasa mengirim tembakau hampir 2,5 ton dalam sekali panen.

“Luas lahan keseluruhan kelompok sekitar 35 hektar, kalau saya tetap memilih menanam tembakau, kecuali cuaca ekstrim secara jelas diketahui mengancam,” kata Kepala Dukuh Pampang 1 ini. (Kandar)

Komentar

Komentar