Tari Kolosal ‘Sultan Agung Wangsa Kinasih’ Meriahkan HUT RI Di Alun-alun Wonosari

oleh
Tari Kolosal ‘Sultan Agung Wangsa Kinasih’ diperagakan ratusan siswa SMKN 2 Wonosari. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Wonosari kembali menggelar tari kolosal pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI Ke 73 kali ini. Tahun ini tari kolosal yang dipentaskan berjudul Sultan Agung Wangsa Kinasih.

Penanggung jawab pentas, Gondhol Sumargiyono usai pertunjukkan mengatakan, tari kolosal diikuti sebanyak 750 peserta siswa SMK. Setidaknya persiapan dan latihan dilakukan siswa 15 hari sebelum pementasan.

“Banyak pihak memberi dukungan sehingga berjalan dengan lancar. Komite sekolah, pemerintah daerah dan keseriusan serta antusiasme siswa sangat berkontribusi,” ungkap Gondhol.

Diterangkan, tari kolosal Sultan Agung Wangsa Kinasih merupakan fragmen perjuangan Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo yang tak lain merupakan sultan ke tiga Kasultanan Mataram melawan VOC di bawah pimpinan J.P. Coen.

Jelas Gondhol, upaya perundingan atau tawaran damai dari Sultan Agung kepada VOC tidak disetujui. Lantas kegagalan diplomasi tersebut direspon dengen aksi penyerangan. Peristiwa perang besar terjadi melibatkan 10.000 pasukan Mataram. Perang dimulai dengan pengiriman pasukan pertama pada 27 Agustus 1628 ke Batavia, wilayah kekuasaan VOC yang sebelumnya bernama Jayakarta.

Menemui kegagalan, serangan ke dua dengan kekuatan 14.000 tentara Mataram dilakukan. Peristiwa tersebut terjadi pada Mei tahun 1629. Sultan Agung mengalami kegagalan ke dua kalinya. Namun akibat keberhasilan membendung dan mengotori Sungai Ciliwung sehingga menimbulkan wabah penyakit kolera, Gubernur jendral VOC, J.P. Coen meninggal dibuatnya. J.P. Coen meninggal setelah terserang wabah penyakit tersebut.

Saat ditemui, Gondhol mengaku sangat berterimakasih kepada semua pihak yang turut mendukung kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan yang sma, Komite Sekolah SMKN 2 Wonosari, Irfan Ratnadi mengaku berusaha semaksimal mungkin mendukung pertunjukan spektakuler tersebut. Sebab tema-tema yang diusung memberikan pesan semangat perjuangan dan mampu menggugah semangat pembangunan. Di luar itu melalui pertunjukkan pengenalan tokoh pejuang atau pahlawan nasional merupakan nilai positif yang patut diapresiasi.

“Kami berikan dukungan moral dan material. Rp. 5 juta meski tidak cukup mudah-mudahan dapat membantu penyelenggaraan,” ujar Irfan.

Pentas yang dilakukan sebelum upacara penurunan bendera pada Jum’at, 17 Agustus 2018 tersebut menjadi tontonan ribuan warga. (Kandar)

Komentar

Komentar