Tanaman Khas Gunungkidul Dibudidayakan di Suaka Margasatwa Paliyan

oleh

PALIYAN, kabarhandayani,– Beberapa tanaman khas Gunungkidul dibudidayakan dengan pembibitan dan penanaman di Suaka Margasatwa Paliyan. Berdasarkan riset yang dilakukan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta, terdapat beberapa tanaman khas yang bijinya sudah tertanam di bebatuan Gunungkidul beratus-ratus tahun yang lalu. Beberapa jenis tanaman tersebut, antara lain: sirsak, srikaya, mojo, dan pepohonan jenis tumbuhan beringin.
Hasil riset tersebut kemudian juga ditindaklanjuti oleh BKSDA DIY dan Mitsui Sumitomo Insurance Group (MSIG) dengan menanami pepohonan tersebut di lereng-lereng hutan lindung Sodong. “Tanaman tersebut mulai ditanam pada tahun 2005 yang lalu,” ungkap Gunawan, salah satu staf MSIG di hutan Sodong.
Hasilnya, kini lereng di Sodong Paliyan sudah berangsur menjadi hijau. Masyarakat yang dilibatkan dalam pemeliharan hutan lindung ini juga bisa menikmati hasil dari tanaman buah tersebut.
Gunawan menjelaskan, BKSDA DIY dan MSIG tetap melakukan pembibitan jenis tanaman-tanaman khas Gunungkidul tersebut. “Saat ini ada beberapa tanaman yang terus kami bibitkan, antara lain tanaman sirsak, srikaya, mojo, bulu, epek ipik aren,” jelasnya.
Selain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya, fungsi tanaman buah di hutan Sodong yang paling pokok adalah dimaksudkan untuk sediaan pakan bagi berbagai hewan yang dilindungi di suaka margasatwa ini, sehingga satwa yang dilindungi tersebut tidak mengusik ke lahan pekarangan penduduk.
Saat ini beberapa hewan primata dan unggas pun sudah kembali terlihat di Suaka Margasatwa Paliyan. Seperti monyet dan burung elang bido yang sudah kembali terlihat. “Elang bido adalah burung pemakan daging. Jadi adanya elang bido ini menandakan adanya aktivitas kelompok monyet, karena elang tersebut berburu anak monyet,” kata Gunawan.
Gunawan menambahkan, biji-bijian tanaman yang dibudidayakan diperoleh dari beberapa daerah di Gunungkidul. Bibit tersebut nantinya akan dijadikan produk untuk penghijauan kawasan kritis. Beberapa organisasi atau pun komunitas pecinta lingkungan juga sering memesan tanaman tersebut. “Dari Dinas Pekerjaan Umum sudah memesan 800 batang ipik dan elo bulu untuk ditanam di Telaga Karang Asem Paliyan,” imbuhnya.
Untuk satu tanaman dihargai Rp 10 ribu, karena untuk pembibitan agak susah untuk pohon-pohon tertentu, juga untuk keperluan membeli air guna perawatan bibit. “Karena kami mempunyai pekerja yang membuat pot dan mencari bibit juga untuk keperluan membayar air,” ujar Gunawan.Gunawan berharap agar masyarakat turut melestarikan tanaman-tanaman asli tersebut. “Sebagai warga yang baik, tentunya kita mampu menjaga kelestarian dari keaslian pohon-pohon tersebut,” pungkasnya. (Atmaja/Jjw).

Komentar

Komentar