Talang

oleh
Talang, saluran pembuangan air pada atap rumah. Dok: WG.

Kumrasak udan talang samya atarung,
Pecahira banjur mili,
Gumrojog nurasi kalbu,
Nini-tani nglelabuhi,
Bantala nuli tan anglong.
[Tembang Mega-truh]

Ini musim mega. Ini musim mega turun menjelma hujan (‘truh’). Ini musim hujan. Ini musim panen. Ini musim panen hujan. Sebentar nanti, hujan panen: kacang, padi, jagung, kedelai, ketela, dan pala-palanan yang lain, sebagai ‘buah’ yang siap dipetik karena beberapa waktu telah ‘diupakara’, ditumbuhkan, dan dilahirkan bumi, tentu atas kontribusi hujan yang dicurahkan oleh Langit.

Hujan, yang begitu dinanti-nanti oleh among-tani. Perilakunya memang turun dari langit (‘truh’), meluncur ke Bumi. Rumah-rumah di bumi, yang tak bisa lepas dari keberadaan talang di atasnya, mencoba mengumpulkannnya, mengarahkannya ke suatu tempat yang memang diharapkan menjadi terisi penuh karenanya. Panenan air-hujan digunakan oleh kulawangsa manusia untuk mengolah kehidupan.

Prinsip dasar kehidupan: Tidak ada talang yang mengalirkan air ke atas, kan? Talang mengalirkan air ke bawah. Talang berhubungan dengan air yang kondisinya: ‘uni’, atau ‘wuni’, yang telah lalu dan berlalu di/dari atas. Yang lalu, air berada di langit. Ia kemudian berlalu jatuh ke bumi. Air hujan yang dilewatkan pun akhirnya berlalu. Artinya, talang bukan tempat tinuju, bukan tertuju. Talang adalah ‘pangilen’, yaitu ‘ilen-ilen banyu’; lurung tempat aliran air menuju. Air hujan yang jatuh di atap rumah ‘ngili’ ke talang, lantas jatuh di ujung talang: ‘paturasan’ yang berada (tepat) di bawahnya sebagai tempat-penampungan seperti ‘kolah’ dan sebangsanya, jika pun tidak maka di bawahnya itu akan diletakkan tempat penampungan sementara yang disambungkan dengan talang-talang berikutnya untuk memanjangkan ‘ilining-banyu’ (alir-air) menuju tempat-tempat yang diinginkan oleh si pembuat talang (‘paran’), misal ke kebun atau ke ‘blumbang’ (kolam).

Maka, keberadaan talang merupakan ‘jalur pengungsian’ (‘ngili’; dulu, dan hingga sekarang, jika di dalam suatu rumah di desa tidak tersedia air untuk mandi maka yang empunya akan numpang mandi di tempat tetangganya atau saudaranya, kegiatan ini disebut ‘ngili’) bagi air hujan yang membanjir ke bumi. Tak terelakkan, ‘ilining-banyu’ di atas talang tercampur oleh dedaunan, debu, atau kotoran lain.

Tetapi tak mengapa.

Toh talang, bagaimanapun, adalah teknologi memanen hujan (‘rain-water harvesting’), bisa dikelola sedemikian rupa.

Komentar

Komentar