Taktik Jitu Gapoktan Nglanggeran Terapkan Tanam Jajar Legowo

oleh
Triyana seorang petani muda sedang menunjukkan jarak antar batang tanaman padi pada sistem jajar legowo pada salah satu petak sawah di Dusun Nglanggeran Kulon. KH/Tugi.

PATUK, (KH),- Merubah cara bercocok tanam padi yang sudah biasa dilakukan petani tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi suatu cara bercocok tanam yang secara kasat mata membuat lahan produktif mereka terlihat lebih renggang atau jarang tanamannya. Namun, Gapoktan Kumpul Makarya Desa Nglanggeran Patuk ini memiliki taktik jitu, sehingga teknologi tanam padi jajar legowo (Tajarwo) ini sekarang sudah diterapkan oleh para petani di Desa Nglanggeran.

“Pada awalnya juga sulit menerima Tajarwo. Para petani umumnya merasa ‘eman-eman‘ terlihat masih ada celah kosong tanpa tanaman. Lahan garapan petani itu tidak terlalu luas, kok cara menanam padinya jadi lebih jarang dari biasanya,” ungkap Hadi Purwanto (60), seorang petani di Dusun Nglanggeran Kulon, sekaligus Ketua Gapoktan Kumpul Makarya Desa Nglanggeran, pada Senin (22/5/18).

Tajarwo sendiri sebenarnya merupakan cara tanam padi yang sudah populer diterapkan oleh para petani di sentra-sentra produksi padi. Prinsip utama tajarwo adalah meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengatur jarak antar tanaman padi. Sistem ini pertama kali dikembangkan oleh salah satu pejabat pertanian di Banjarnegara Jawa Tengah pada tahun 1996, kemudian dikembangkan dan dianjurkan penerapannya secara meluas oleh Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian.

Purwanto menerangkan, sistem sebar benih secara acak sudah lama ditinggalkan sepuluh tahun yang lalu. Sistem ubinan atau larikan teratur juga sudah dikenal masyarakat Desa Nglanggeran. Mereka menaman dengan jarak rata-rata 10 cm x 10 cm. Tapi tajarwo ini kok malah lebih jarang lagi, menjadi 20 cm x 20 cm. Pemikiran sayang lahannya dan kekhawatiran hasilnya berkurang itu yang terbayang di benak petani.

Kekhawatiran utama para petani, menurut Hadi Purwanto adalah berkurangnya hasil panenan. Para petani pada umumnya beranggapan, apabila jumlah tanaman padi dibuat makin jarang dari cara tanam yang sudah biasa mereka lakukan, maka hasil panenan yang mereka dapatkan akan semakin sedikit. Jadi, petani merasa sangat ’eman-eman’ apabila lahannya tidak dipenuhi tanaman padi.

Melihat keraguan para petani, Hadi Purwanto justru merasa tertantang untuk melakukan percobaan sistem tanam jajar legowo ini. Berbekal hasil penyuluhan sistem Tajarwo dari Dinas Pertanian pada saat pertemuan kelompok tani di Kecamatan Patuk pada tahun 2013, ia nekad mulai menerapkan sistem Tajarwo pada sebuah bidang sawahnya sendiri pada tahun 2014. Ternyata benar, hasil panenan padi yang ia peroleh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan cara tanam yang biasa dilakukan sebelumnya.

“Awalnya saya panen 10 karung, setelah menggunakan cara tanam Tajarwo pada luasan lahan yang sama meningkat menjadi 14 karung,” kenang Hadi Purwanto. Cerita peningkatan hasil produksi ini tersebar secara ‘gethok-tular‘, atau tersebar melalui cerita dari mulut ke mulut. Para tetangganya tertarik, mereka menanyakan seluk beluk cara tanam jajar legowo kepadanya. Sedikit demi sedikit mereka meminta diajari cara menamam jajar legowo.

“Sedikit demi sedikit, para petani di desa kami tertarik dan ikut menerapkan cara tanam jajar legowo pada lahannya masing-masing. Meskipun agak sedikit repot pada saat menanam, para petani sudah merasakan sendiri ada peningkatan hasil produksi padi yang sangat berarti. Alkhamdullilah, pada saat ini, hampir semua petani di Desa Nglanggeran telah menerapkannya,” urai Purwanto.

Penerapan cara tanam jajar legowo di Desa Nglanggeran Patuk bukan tanpa halangan dan kendala. Keluh kesah dan kerepotan-demi kerepotan pada awalnya pergantian cara tanam larikan konvensial ke cara tanam jajar legowo.

“Di desa kami, yang ‘tandur‘ (bertugas menanam padi) itu umumnya para ibu. Mereka sebelumnya terbiasa dengan larikan ubinan 10 cm x 10 cm. Mereka kagok dan merasa aneh ketika larikan dibuat menjadi 20 cm x 20 cm kemudian diselingi larikan kosong berjarak 30 – 40 cm. Belum lagi masalah keajegan larikan, karena terburu-buru pengen segera menyelesaikan proses menanam,” kenang Purwanto.

Meskipun melalui proses rumit dan mendatangkan ketidaksabaran, melalui penerapan dalam 2 – 3 musim tanam, para petani di Desa Nglanggeran dapat merasakan adanya perubahan hasil produksi yang lebih tinggi melalui sistem tajarwo ini, sehingga akhirnya mereka berangsur-angsur menjadi semakin yakin, bahwa sistem Tajarwo ini mampu memberikan hasil yang lebih produktif.

Di kemudian waktu, Hadi Purwanto dan para pengurus Gapoktan lainnya menerima pengakuan manfaat cara tanam jajar legowo. Selain volume atau tonase hasil panenan bertambah untuk bidang luas yang sama, para petani menceritakan, mereka lebih mudah melakukan penyiangan, pemupukan, penyemprotan hama, dan pemeliharaan. Jumlah buliran padi per satuan batang lebih banyak. Kemudian kerusakan tanaman padi akibat serangan hama terutama serangan tikus sangat jauh berkurang.

“Jarak antar tanaman yang lebih renggang 20 cm x 20 cm, dan adanya celah 30-40 cm di antara larikan itu membuat penyinaran matahari labih sempurna pada batang tanaman padi, proses pembiakan bulir padi lebih sempurna, sehingga jumlah buliran padi per batang bisa meningkat. Jarak yang renggang juga memungkinkan kelembaban tanaman berkurang, sehingga serangan hama tikus juga berkurang. Itu kelebihan cara tanam tajarwo,” ungkap Purwanto.

Hadi Purwanto, Ketua Gapoktan Desa Nglanggeran menjelaskan penerapan sistem Tajarwo. KH/Tugi.

Terkait meningkatnya produktivitas cara tanam tajarwo, Hadi Purwanto dan rekan-rekannya di Gapoktan Nglanggeran belum pernah melakukan perhitungan secara terperinci sampai memperhitungkan berapa ton per hektar meningkatnya. Ia menjelaskan, lahan garapan masing-masing petani di Desa Nglanggeran memang tidak begitu luas sampai hitungan hektar.

Umumnya, para petani di desa ini mengukurnya peningkatan hasil dengan cara mengukur pertambahan panenan gabah menjadi sekian karung dibandingkan dengan hasil sebelum memakai tajarwo. Ketua Gapoktan ini mengungkapkan, peningkatan produksi yang diperoleh berkisar antara 30 – 40 %.

Triyana (40), petani muda dari Dusun Nglanggeran Kulon mengungkapkan, dirinya juga telah menerapkan sistem tajarwo. Dari salah satu petak lahan berukuran kurang lebih 50 m x 30 m, ia mampu mendapatkan produksi gabah 13 – 14 karung. Dengan larikan konvensional, ia mengaku mendapatkan hasil 9 – 10 karung.

Sementara itu, jenis varitas padi yang menjadi pilihan petani di Desa Nglanggeran adalah Ciherang dan Inpago. Triyana juga bertutur, di petak sawah yang ia garap juga menggunakan varitas Ciherang. Menurutnya, nasi yang dihasilkan dari jenis Ciherang ini juga empuk dan pulen. Ia juga ingin mencoba varitas Inpago pada masa tanam berikutnya, karena informasi yang ia dapatkan varitas ini hasilnya menyerupai pari gogo lahan tadah hujan yang dikenal pada waktu dulu.

Triyana sempat mengantar KH untuk melihat penerapan cara tanam tajarwo pada sebuah petak sawah di Dusun Nglanggeran Kulon. Sistem tajarwo yang populer diterapkan petani di desa ini pada umumnya merupakan sistem tajarwo 2 : 1 dan tajarwo 4 : 1. Sistem 2 : 1 artinya setiap 2 larik tanaman diselingi  1 selang larikan kosong, demikian pula sistem 4: 1 artinya setiap 4 lari tanaman diselingi 1 selang larikan kosong. Jarak antar batang tanaman yang diterapkan di desa ini adalah 20 cm sebagai jarak antar batang dan selang larikan kosong dalam kisaran 30-40 cm. Larikan kosong juga berfungsi sebagai ruang bebas dan jalur lewat untuk pemeliharaan (Tugi).

 

Komentar

Komentar