Tak Lolos Seleksi Perangkat Desa, Jumadi Mengabdi Melalui LSM

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Jumadi, Difabel asal Padukuhan Jelok Desa Gedangsari, melewati tanjakan Clongop untuk beraktivitas di luar. saat menanjak ia dalam penjagaan teman-temannya. KH
Jumadi, Difabel asal Padukuhan Jelok Desa Gedangsari, melewati tanjakan Clongop untuk beraktivitas di luar. saat menanjak ia dalam penjagaan teman-temannya. KH

GEDANGSARI, (KH)— Setelah niatnya mengabdi kepada masyarakat dengan mendaftar sebagai perangkat desa di Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari Gunungkidul beberapa waktu lalu belum berhasil, Jumadi, Difabel yang tinggal di Padukuhan Jelok ini tak patah semangat.

Kembali menjalani aktivitas sebelumnya, menjadi pilihannya. Ia berkarya di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama KARINA. Memiliki amanah sebagai fasilitator lokal, ia terus bergerak dalam Pemberdayaan masyarakat khususnya difabel bersama-sama teman seperjuangannya Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul (FKDG).

Baru berhasil dihubungi KH, pada Senin, (26/7/2016) kemarin, ia mengaku tak begitu menyesali perihal tersisihnya pada penjaringan Kaur umum di desa setempat. “Harus yakin ini kehendak terbaikNya, yang penting selalu semangat menjalani hidup ini walaupun dengan keterbatasan,” ujar dia.

Melalui LSM tersebut, semaksimal mungkin ia terus mendampingi sesama penyandang disabilitas, mendorongnya optimis menjalani kehidupan, mengupayakan mendapat akses dalam berkarya, bekerja, berusaha mandiri dan berdaya.

“Saya merasa senang meski dengan keterbatasan masih dapat berbagi dan membantu orang lain,” kata Jumadi lagi.

Tak mudah rintangan yang harus dilalui, kondisi kakinya yang lumpuh sehingga ia harus mengandalkan kursi roda agar dapat berjalan, berpindah, dan beraktivitas. Sebuah sepeda motor dengan modifikasi khusus dirancang untuknya agar ia mampu membawa dirinya keluar.

Apabila bertolak dari rumahnya untuk mengikuti pertemuan atau kegiatan lain, mau tidak mau ia harus melewati tanjakan Clongop di wilayah setempat, sebagai akses terdekat untuk ke luar-masuk dari Padukuhan Jelok. Bukan hal biasa, ini butuh nyali besar mengingat kondisi fisiknya yang terbatas.

“Harus selalu dijaga teman-teman saat melewati tanjakan itu, karena saat pertama kali motor tidak kuat, ada yang dibawah, tengah, dan ujung tanjakan diatas,” tuturnya mengisahkan perjuangannya. (Kandar)

Komentar

Komentar