Sumber Air Baku Bribin II Miliki Teknologi Canggih

Instalasi Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II di Desa Sindon Semanu. | KH/Jjw.

SEMANU, (KH),– Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II merupakan salah satu sumber air baku di Gunungkidul memiliki teknologi yang canggih. Kehebatannya terletak pada proses pengangkatan air dari sungai bawah tanah sedalam 104 meter dengan pompa yang bertenaga gerak dari sumber daya air itu sendiri. Barangkali masyarakat Gunungkidul belum begitu mengenal kecanggihan instalasi sumber daya air yang terletak di Desa Sindon Kecamatan Semanu ini. Padahal air baku yang berhasil diangkat dengan debit 80-100 liter/detik ini dimanfaatkan oleh PDAM Gunungkidul untuk memasok kebutuhan sekitar 79.000 penduduk atau 6.000 KK ini.

Masih agak sulit membayangkan usaha memompa air sedalam 104 meter dari permukaan tanah dan mendorongnya ke bak penampungan di atas bukit setinggi 100 meter dengan memanfaatkan energi dari aliran air sungai bawah tanah itu sendiri. Praktis tidak ada campur tangan energi listrik untuk memompa air dari dalam tanah dan mendorong ke bak penampungan di atas perbukitan.

Tim KH pada Senin (6/3/2017) berkesempatan berkunjung ke instalasi Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II di Desa Sindon Semanu. Teknologi luar biasa hebat di Sindon ini diperoleh dengan cara membendung aliran sungai bawah tanah. Energi hidrostatis air sungai bawah tanah yang diperoleh dari beda tinggi permukaan air yang telah dibendung dengan evelasi output yang dialirkan sistem pump as turbine itulah yang menjadi energi pendorong air dalam sungai bawah tanah itu mampu mengalirkan air ke permukaan tanah.

Skema pengangkatan air bawah tanah Bendung Bribin II. | KH/Jjw.

Daya dorong pump as turbine mampu mengalirkan air sampai ketinggian total sekitar 200 meter pada bak penampungan air yang dikenal dengan nama Reservoir Utama Kaligoro. Reservoir Utama berkapasitas 1.000 m3 tersebut terletak di Bukit Kaligoro sejauh kurang lebih 3 km dari instalasi Bribin II dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas elevasi muka tanah instalasi Bribin II.

Selanjutnya, air baku di reservoir tersebut didistribusikan ke masyarakat oleh PDAM Kabupaten Gunungkidul. Penelusuran yang dilakukan KH, untuk pendistribusian air oleh PDAM Gunungkidul dari Reservoir Kaligoro tersebut dilakukan dengan teknik gravitasi. Ini berarti air dialirkan ke bak penampung berikutnya dan ke pelanggan PDAM dengan energi gravitasi karena adanya energi beda tinggi antara reservoir Kaligoro dengan reservoir di bawahnya atau outlet pelanggan PDAM.

Reservoar Kaligoro terletak di atas bukit berjarak kurang lebih 3 km dari Instalasi Bribin II. KH/Jjw.

Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II ini secara teknis disebut Multi Angular Concrete Dam. Sungai bawah tanah di lokasi ini dibendung secara penuh dengan beton kualitas K-300. Ukuran lebar bendung 12 meter, ketinggian 8 meter, dan tebal bendung 1,5 meter. Adapun volume tampungan air sebesar 400.000 m3, dengan ketinggian tampungan 15 meter.

Pada bagian Platform Bendung terdapat 5 modul instalasi pump as turbine. Terdiri atas turbine, gearbox, dan pompa untuk mengangkat ar. Pada ruang chamber terdapat 2 pipa (ASK dan RKV) untuk mengatur ketinggian muka air hulu bendung serta 1 pipa bypass pada modul 3 untuk mengantisipasi ketinggian air yang ekstrim.

Sementara itu, untuk menunjang kegiatan operasi dan pemeliharaan, terdapat lift service dengan kapasitas 1350 kh lengkap dengan counter weight (pada tahun 2015 terdapat pembaruan alat). Kecepatan lift tersebut adalah 30-45 mpm, dengan power otor 15 KW, ukuran ruang luncur diameter 2,4 meter, dan travel (jarak perjalanan naik-turun) sebesar 104 meter. Energi yang dipergunakan untuk mengoperasionalkan lift di instalasi Bribin II ini diperoleh dari genset.

Meskipun instalasi yang terlihat secara fisik terlihat tak seberapa besar dan luas, Proyek Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II yang diresmikan pada tahun 2009 oleh Presiden RI memang sebuah pekerjaan raksasa. Sebuah pekerjaan besar karena membuat terowongan vertikal berdiameter 2,4 m sedalam 104 meter. Kemudian membuat bendung pada sungai bawah tanah, dan memasang instalasi “pompa ajaib” yang mampu menaikkan air ke permukaan tanah dan bahkan menyalurkannya sampai ke bak penampungan yang terletak di atas bukit.

Terwujudnya instalasi Bribin II ini sesungguhnya didahului oleh survei dan riset sejak tahun 1980-an yang dilakukan oleh konsultan Mott McDonald & Partners. Hasil riset tersebut diketahui adanya pola aliran sungai bawah tanah di Gunungkidul dengan potensi debit yang cukup besar meliputi Sistem Seropan, Sistem Bribin, Sistem Baron, dan Sistem Ngobaran.

Pada kurun waktu 1992-1996, pemerintah pusat juga telah membangun sistem penyediaan air baku Bribin I dengan menggunakan sistem pemompaan dan pipanisasi untuk menyuplai air baku bagi 75.000 jiwa di wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul. Namun, karena sistem pemompaan Bribin I bergantung pada energi listrik, menyebabkan tingginya biaya operasional dan pemeliharaan, sehingga setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Akibatnya biaya produksi air baku per meter kubik menjadi sangat mahal.

Instalasi Bribin I menjadi sebuah contoh kasus yang menarik dalam usaha pengangkatan air baku dari sungai bawah tanah, sehingga pemerintah pusat kemudian membangun Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II dengan sistem mikro hidro yang dapat memompa air dengan tenaga air itu sendiri, agar biaya produksi air baku menjadi lebih murah. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dalam hal ini Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak melalukan desain dan membangun Instalasi Bribin II ini.

Pekerjaan besar dan penggunaan teknologi yang relatif baru ini tak ayal juga melibatkan berbagai pihak, seperti Universitas Karlsruhe Jerman, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri selaku tuan rumah dan pengguna manfaat dari keberadaan instalasi sumber air baku ini.

Panel kontrol Bendung Bribin II. | KH/Jjw.

Keberadaan Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II mampu memenuhi kesediaan air baku sebesar 80-100 liter per detik. Menurut Fendi, salah satu petugas operasional dan pemeliharaan yang ditemui KH pada Senin (6/3/2017), sampai saat ini tidak dijumpai kendala operasional yang signifikan. Artinya, bendung sungai bawah tanah Bribin II ini mampu menyediakan air baku dalam kisaran debit antara 80 – 100 liter per detik. Menurut perhitungan awal, debit tersebut mampu melayani kebutuhan air baku sekitar 6.000 KK atau kurang lebih sekitar 79.000 jiwa. Dari laporan proyek Bribin II juga diperoleh informasi bahwa ketersediaan air baku Bribin II mampu menjangkau wilayah dalam radius sekitar 30 km dari Reservoir Kaligoro di Semanu.

Fendi menjelaskan, kegiatan yang sehari-hari dilaksanakan petugas di Instalasi Bribin II meliputi kegiatan Operasi dan Pemeliharaan. Kegiatan operasi meliputi: pengukuran temperatur modul, pengukuran rembesan, pengukuran tinggi muka air hulu dan hilir bendung, operasi modul (ASK+RKV+ByPass), operasi genset, operasi lift, serta monitoring dan pencatatan data. Sementara kegiatan pemeliharaan meliputi: pengecatan modul, pipa transmisi dan reservoir, pemeliharaan mechanical electrical (modul, lift, genset, gearbox, panel), pemeliharaan bangunan kantor dan prasarana penunjang, pembabatan rumput lingkungan kantor, serta grouting dan injection.

Secara manajemen, kegiatan operasional dan pemeliharaan sampai air tersedia di Reservoir Kaligoro ditangani oleh Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang berkantor di Jl Soro Km 6, Janti, Yogyakarta. Artinya, ketersediaan air baku sampai dengan di Reservoir Kaligoro didukung melalui anggaran APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Sementara itu, proses distribusi dari Reservoir Kaligoro sampai ke rumah-rumah penduduk ditangani oleh PDAM Gunungkidul, yang berarti proses distribusi air sampai ke rumah-rumah penduduk menjadi beban biaya yang ditanggung oleh penduduk selaku konsumen. Subsidi APBD barangkali masih dilakukan untuk memperkuat keberadaan dan keberlangsungan BUMD penyedia air baku ini.

Pipa penyalur air dari bendung bawah tanah ke reservoir Kaligoro. | KH/Jjw.

Meski tidak tampak secara fisik, Bendung Sungai Bawah Tanah Bribin II ini setiap hari terus memproduksi air baku guna memenuhi kebutuhan air warga Gunungkidul. Diluar fungsi pokok tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum juga bermaksud menjadikan Bribin II ini sebagai Laboratorium Karst untuk kepentingan dunia pendidikan, sekaligus sebaga pilot project pengembangan sistem pemanfaatan sungai bawah tanah di Indonesia.

Ditanya tentang instansi mana saja yang pernah berkunjung ke Instalasi Bribin II, Fendi menyodorkan Buku Tamu yang diisi oleh tamu yang berkunjung ke Instalasi Bribin II. Penelusuran KH, tamu yang berkunjung justru sebagian besar berasal dari pelajar, mahasiswa, dosen dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Bogor, Jakarta, Surabaya, dan beberapa instansi pemerintahan daerah dari luar Jawa yang melakukan studi lapangan.

“Masih jarang pelajar, mahasiswa, atau guru/dosen dari wilayah Gunungkidul sendiri yang berkunjung ke sini. Pernah ada kunjungan siswa dari SMA 2 Wonosari, salah seorang guru SMK dari Ngawen, dan seorang wartawan lokal Gunungkidul,” ujar Fendi mengakhiri perbincangan dengan KH. (Kandar, Bara, JJwidiasta)

 

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar