Sultan: Memeras Wisatawan Bukan Karakter Orang Jogja

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meresmikan flaying fox di Gedangsari. KH/ Wibowo.

GEDANGSARI, (KH),– Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, mematok harga tidak wajar yang dilakukan para pelaku wisata di Yogyakarta sangat merugikan dunia pariwisata.

Hal tersebut disampaikan sesaat setelah melakukan peresmian wahana flying fox di destinasi wisata di kawasan utara Kabupaten Gunungkidul, Rabu, (30/8/2017) kemarin. Oleh karenanya, atas tindakan pelaku wisata tersebut pihaknya memberikan sanksi tegas kepada para pedagang.

“Mereka (-red, wisatawan) menjadi korban pemerasan secara tidak langsung,” tandas Sultan.

Dirinya mencontohkan, pedagang di kawasan Malioboro pernah diberikan sanksi larangan berjualan selama satu bulan. Hal tersebut dilakukan demi menjaga citra Yogyakarta dalam dunia pariwisata.

Sultan juga menganggap para pedagang yang memanfaatkan momen liburan dengan mematok harga tidak wajar termasuk tidak siap apa adanya. Masyarakat pedagang juga dinilai tidak berkomitmen memberikan pelayanan yang baik.

“Memeras secara tidak langsung seperti itu bukan karakter orang Jogja,” tegas Sultan lagi.

Sultan menghimbau, masyarakat pedagang di kawasan wisata harus menjual dengan harga yang proporsional. Predikat daerah istimewa semestinya bukan hanya daerahnya saja namun juga perilaku masyarakatnya yang melayani dengan ramah, jujur, dan baik.

“Bukan malah merusak mental kita karena ingin kaya mendadak dengan menaikkan harga seenaknya sendiri,” tukas Raja Keraton Yogyakarta ini. (Wibowo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar