Sukiyanto: Saya Pingin Lanjut Sekolah Tapi Orang Tua Tidak Mengijinkan

oleh

WONOSARI, Kabarhandayani.– Sukiyanto, seorang murid yang menderita kelumpuhan pada kedua kakinya tetap tersenyum dan semangat mengikuti Ujian Akhir Sekolah Daerah (UASDA) hari ke-2, Selasa (20/5/2014). Salah satu murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Mulo Kecamatan Wonosari ini tak pernah mengeluhkan kelainan kakinya, dan tetap bercita-cita melanjutkan sekolah.

“Ya, seperti ini kesehariannya. Harus digendong, tetapi semangat sekolahnya tinggi. Meski seperti itu, Ananda Sukiyanto sangat ingin menlanjutkan ke SMPN 3 Wonosari,” jelas Oknawan Fajar Sidiq, SPdI, Kepala MI Maarif Mulo.

Oknawan melanjutkan, telah lama muridnya ini menderita penyakit yang disebabkan adanya kelainan kandungan lemak di otot kaki sehingga mengakibatkan kelumpuhan. Sejak kecil cara jalan Sukiyanto tidak seperti anak pada umumnya, karena kedua lutut Sukiyanto berhimpitan. Semakin lama gejalanya semakin parah, dan kini Sukiyanto tidak mampu berjalan lagi.

“Ananda Sukiyanto mulai tak bisa jalan sejak kelas 5. Sebelumnya ia masih bisa jalan, meski hanya pelan dan tidak sempurna,” lanjut Oknawan.

Menurut pihak sekolah, putra pasanga Kiswanto dan Sartinen warga Padukuhan Karangasem Desa Mulo Kecamatan Wonosari ini kecerdasan kognitifnya cukup baik. Robi Setiawan, teman sekelas Sukiyanto menuturkan bahwa temannya yang mengalami kelainan pada kakinya itu sangat baik, akrab bergaul dengan teman-teman dan tidak minder. Bahkan dalam try-out kemarin, Sukiyanto mendapat peringkat 4 di antara teman-teman sekelasnya.

“Saya sering menggendongnya kalau ada keperluan apa-apa, seperti pindah kelas atau keperluan lain. Kalau ke kantin, biasanya ia cuma nitip,” jelas Robi.

Sukiyanto nampak malu-malu ketika Kabarhandayani menyapa dan menyalami setelah ia menempuh UASDA mata pelajaran Matematika, Selasa (20/5/2014). Dalam pengakuannya, Sukiyanto memang sangat ingin melanjutkan sekolah. Ia sudah mengungkapkan pada orang tuanya. Tetapi sayang, lanjut Sukiyanto, orang tua tidak mendukungnya, karena lokasi sekolah yang cukup jauh, sehingga kesulitan dalam antar jemput.

“Pingin lanjut sekolah, tapi orang tua tidak mengijinkan. Mamak bilang tidak ada yang anter dan jemput setiap hari,” kata Sukiyanto pelan.

Ketika ditanya tentang cita-cita, anak periang ini hanya menggelengkan kepala. Dengan pelan ia menjawab, “tidak tahu.” Entah apa yang menyebabkan anak ini menyatakan ketidaktahuan tentang cita-citanya. Namun, dari sorot mata Sukiyanto seakan menyimpan jawab. Ia memang takut bercita-cita karena keadaan tubuhnya. Dari sorot mata itu juga terbaca, ia seperti ingin mengejar sesuatu yang sulit diraihnya pada saat ini, yaitu melanjutkan cita-cita untuk bisa sekolah ke SMP.

Ayah Sukiyanto adalah seorang petani yang nyambi sebagai tukang becak di Pasar Argosari Wonosari, sedangkan ibunya sehari-hari juga membantu pertanian sekaligus mengurus Tri Utami, adik Sukiyanto yang masih kelas 4 di sekolah yang sama. (Sumaryanto/Jjw).

Komentar

Komentar