Studi WHO: 1 Trilyun US$ Hilang Akibat Depresi dan Gangguan Kecemasan

Produktivitas bekerja salah satunya ditentukan oleh kondisi kesehatan jiwa kita. Dok: KH/Tugi

WONOSARI, (KH)— Masih menjadi pandangan umum, ketika berbicara kesehatan jiwa, maka yang terbayang dalam pikiran adalah orang dengan gangguan jiwa berat dan terstigma dengan julukan “gila”, “gendheng”, “stress”, dan lain sebagainya. Demikian pula masih ada di antara kita yang mencibir, mengolok-olok, atau memalingkan muka ketika ketemu rekan atau tetangga yang sedang berobat di poli kesehatan jiwa sebuah rumah sakit.

Kesehatan jiwa sesungguhnya lekat dengan keseharian setiap orang. Apa yang dipikirkan, diucapkan, dilakukan, termasuk gesture atau sikap seseorang setiap waktu sesungguhnya bertalian erat dengan kondisi kesehatan jiwa masing-masing individu. Stigma urusan kesehatan jiwa adalah sekadar urusan orang gila, orang-orang bermasalah, dan sebagainya itulah yang menyebabkan masyarakat emoh dan menolak bersinggungan dengan kesehatan jiwa.

Menyambut peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini, WHO telah mengeluarkan rilis berjudul Mental Health in Working Place atau dapat dialihbahasakan menjadi Kesehatan Jiwa di Dunia Kerja. Mengapa dunia kerja atau tempat kerja menjadi sorotan terkait dengan kesehatan jiwa?

Sepanjang usia dewasa kita, sebagian besar waktu telah kita curahkan untuk bekerja. Apa yang telah kita lakukan dan pengalaman kehidupan kita di tempat kerja sesungguhnya menjadi salah satu faktor yang menentukan keseluruhan kesejahteraan kita. Para pekerja atau pegawai dan para pemimpin di tempat kerja perlu berinisiatif untuk mempromosikan kesehatan jiwa dan mendukung pekerja atau pegawai yang memiliki masalah kesehatan jiwa untuk tidak sekadar sehat selama bekerja tetapi juga mampu bekerja secara produktif saat bekerja. Sebuah lingkungan kerja yang negatif, di sisi lain dapat menyebabkan munculnya problema kesehatan fisik dan mental, penyalahgunaan alat-alat berbahaya dan zat-zat beralkohol, kebiasaan mangkir atau membolos, dan kehilangan produktivitas.

Gangguan depresi dan gangguan kecemasan merupakan gangguan umum kesehatan jiwa yang dapat berakibat pada kemunduran kemampuan kita untuk bekerja, dan bekerja secara produktif. Secara global, lebih dari 300 juta orang menderita gangguan depresi, penyebab utama sebuah kemunduran kemampuan bekerja. Lebih dari 260 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan. Beberapa di antaranya hidup dengan kedua gangguan tersebut. Sebuah studi terkini dari WHO memperkirakan bahwa gangguan depresi dan gangguan kecemasan menyebabkan kerugian akibat kehilangan produktivitas kerja senilai 1 trilyun US Dollar setiap tahun.

Kesehatan jiwa di tempat kerja adalah tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun 2017. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Tujuan umum peringatan hari kesehatan jiwa sedunia adalah membangkitkan kesadaran pentingnya kesehatan jiwa dan menggerakkan usaha untuk terwujudnya kesehatan jiwa yang lebih baik.

Sudahkan kita peduli dan menyadari pentingnya kesehatan jiwa di tempat kerja kita? Ayo, kita bergerak dan bekerja bersama. (Andriyani).

Sumber: http://www.who.int/mental_health/world-mental-health-day/2017/en/

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar