Sepenggal Kisah Syahrul: Pemuda yang Mengakhiri Hidup pada Bulan Puasa

oleh
Situasi perdesaan sebelum masuk Desa Bleberan Playen. Dok: KH

PLAYEN, (KH),– Sabtu malam (26/5/2018), angin dingin awal musim kemarau terasa menusuk tulang. Menjelang pukul 22.00 WIB, masyarakat Padukuhan Sawahan 2 Desa Bleberan Kecamatan Playen mulai memasuki rumah masing-masing selepas melaksanakan amalan tadarus Al Qur’an.

Demikian juga dengan Nurohman, Ketua RT 37 Padukuhan Sawahan 2 yang baru saja tiba di rumah dari masjid. Berjalan kaki dari masjid membuatnya sedikit gerah. Ia lantas melepas kemeja, dan merebahkan tubuh di tikar tepat di depan TV. Selang beberapa menit saja, bapak dua anak ini mendengar jeritan histeris tak jauh dari rumahnya.

Nurohman kaget. Ia menyambar kemeja, lalu berlari ke luar menuju sumber suara. Dengan terengah-engah, ia sampai di kediaman salah satu tetangganya. Sembari membetulkan kancing baju, ia berusaha mencari tahu apa penyebab kecabuhan itu.

Belakangan ia mengetahui, sang ibu yang meronta dan menjerit semakin menjadi setelah mengetahui anaknya, Syahrul Syarifudin (19), ditemukan sudah menggantung diri pada blandar kandang ternak yang berada di ladang.

Kedatangan Nurohman kemudian disusul puluhan warga yang lain. Sebagian berusaha menenangkan sang ibu yang mengalami kesedihan mendalam. Sementara sebagian yang lain menuju lokasi gantung diri yang berjarak ratusan meter dari rumah duka.

Sesampainya di lokasi, saudara dan tetangga berusaha semampunya menenangkan Sarijo, bapak dari Syahrul Syarifudin. Sarijo mengalami kekalutan dan goncangan pikiran yang sangat berat. Selepas menurunkan anaknya yang menggantung diri, Sarijo kemudian meraih tali. Sambil meracau tak jelas, ia hendak melakukan gantung diri. Tetangga dan saudara yang berada di lokasi dengan sigap menghentikan tindakan yang akan dilakukannya.

Selepas jasad  Syahrul dibawa ke rumah, petugas Polsek Playen bersama petugas medis Puskesmas setempat melakukan sejumlah pemeriksaan medis-forensik. Setelah dipastikan tidak ada tanda-tanda tindakan kriminalitas, kemudian jasad korban diserahkan ke pihak keluarga.

Keluarga dan masyarakat setempat kemudian melakukan pangrukti-laya terhadap jenazah sebagaimana layaknya yang diperlakukan secara umum. Dimandikan, dibungkus kain kafan, disholatkan, lalu esok hari dikebumikan.

Kepergian Syahrul membuat sang ibu kandungnya sangat terpukul. Hingga jasad Syahrul diantar ke liang lahat, si ibu masih sulit diajak bicara.

Menjadi hal yang lumrah, orang-orang kemudian memperbincangkan. Orang-orang berusaha mencari tahu apa penyebab pemuda yang masih kelas XI di sebuah SMK di Wonosari ini mengakhiri hidup dengan gantung diri.

Di luar Padukuhan Sawahan 2 memang tersiar kabar bahwa Syahrul mengalami tekanan mental yang tak terkira karena dirinya menjadi pergunjingan masyarakat. Ia menjadi bahan pergunjingan yang mengait-ngaitkan dirinya dengan adanya peristiwa kehilangan ternak ayam dan barang lain yang belakangan sering terjadi.

Namun, Nurohman, sang Ketua RT di mana Sarijo dan keluarga tinggal menyampaikan informasi yang berbeda. Bahwa di lingkup lingkungannya tidak ada pergunjingan tentang Syahrul yang heboh sebagaimana beredar di lingkunga lainnya. Nurohman melanjutkan, jika beredar kasak-kusuk tentang pergunjingan itu, tidak ada warga di lingkungannya yang terang-terangan melempar tuduhan ke Syahrul.

“Kawasan dusun kami tidak jauh dari persawahan dan kebun yang rimbun dengan pepohonan. Ayam-ayam yang hilang sangat mungkin juga diterkam hewan pemangsa unggas. Bahkan benar, ada yang sempat menemukan kepala ayam di dekat kebun pepohonan,” ungkap Nurohman.

Menjawab banyak pertanyaan dugaan penyebab tindakan Syahrul bunuh diri, Nurohman sangat hati-hati dalam memberikan informasi. Ia tidak ingin ada anggapan yang justru terbangun dari cerita dari mulut ke mulut yang jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Menurut Nurohman, Syahrul dikenal anak muda yang terbuka. Karena bersekolah di Wonosari, interaksi dengan lingkungan di mana orang tuanya tinggal memang berkurang. Sebelumnya, saat duduk di kelas 1 SMK, Syahrul tinggal di rumah kakak ibunya di Wonosari. Akan tetapi semenjak dibelikan sepeda motor oleh kakaknya, Syahrul hampir tiap hari pulang ke rumah.

“Tetapi sampai di rumah petang atau malam. Biasanya mampir di rumah Bude-nya dahulu. Sebelum kejadian bunuh diri pulangnya juga petang,” tutur Nurohman.

Di mata Nurohman, Syahrul dianggap ubet. Anak yang cakap berupaya mencari penghasilan dari apa yang bisa dilakukan sebisanya. Ia biasa mencari burung atau belalang lalu dijual. Ia dikagumi pemberani. Meski sendirian saat malam hari, Syahrul dikenal sebagai anak yang terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang dianggap wingit berburu burung.

Nurohman sempat mengamati, Syahrul memang agak temperamental. Beberapa kali Nurohman sempat mendengar teriakan Syahrul pada saat marah-marah. Bahkan terkadang juga memukul dan menendang pintu. Namun, di luar amatan perilaku yang temperamental tersebut, pergaulan Syahrul juga sama seperti remaja pada umumnya. Beberapa kali ada tetangga hajatan, Syahrul juga turut terlibat membantu sebisanya sebagai sinoman di sebuah hajatan.

“Setelah kejadian, saya memang merasa bahwa 10-an hari terakhir Syahrul jarang ke luar rumah. Petang hari sebelum kejadian memang sempat ditanya oleh bapaknya atas pegunjingan di masyarakat,” sambung Nurohman.

Sempat pula Syahrul berujar hendak memilih mati saja. Nurohman tidak berani lebih jauh mengambil kesimpulan, apakah ucapan Syahrul yang sempat didengarnya itu sebuah bentuk penolakan atas pertanyaan yang diajukan bapaknya. Berdasar pengakuan orang tua Syahrul yang sempat didengar Nurohman, selepas percakapan itu Syahrul berpamitan hendak memberi makan ternak.

Setelah beberapa saat tidak kembali ke rumah orang tuanya mengecek kandang. Orang tua mulai was-was saat mengetahui dua tali yang digunakan untuk mengikat rumput pakan sapi tinggal seutas. Orang tua Syahrul lalu menghubungi saudaranya untuk meminta tolong membantu mencari. Semua menjadi kaget bukan kepalang, mereka kemudian menemukan tubuh Syahrul tergantung tak bernyawa.

Nurohman menambahkan, sebetulnya ada salah satu keluarga di wilayahnya yang justru mendapat perhatian dari masyarakat karena kerentanan masalah keluarga. Warga tersebut sering mengalami konflik rumah tangga sampai beberapa kali sempat berucap ingin bunuh diri. Nurohman mengatakan, masyarakat bersyukur karena kondisi keluarga tersebut semakin membaik. Namun, peristiwa gantung diri Syahrul di kandang ternak yang berada di ladang ini membuat kaget seluruh warga Sawahan Bleberan. (Sukandar).

***

Catatan Redaksi: Wawancara kepada Nurohman Ketua RT 37 Padukuhan Sawahan 2 Bleberan Playen dilakukan pada Minggu siang (27/5/2018). KH menuliskan reportase ini sebagai salah satu upaya membangun ketahanan kesehatan jiwa masyarakat untuk pencegahan bunuh diri, berbela-rasa terhadap kejadian bunuh diri dan pelaku bunuh diri, dan berbela-rasa kepada keluarganya.

HUBUNGI atau sambungkan kepada RT/RW/perangkat desa, tenaga sosial/petugas medis/kepolisian terdekat, apabila Anda MELIHAT dan MENDENGAR seseorang di dekat Anda yang berada dalam kondisi risiko bunuh diri.

Komentar

Komentar