Sentuhan Teknologi Memungkinkan Olahan Pangan Lokal Raih Pasar Internasional

oleh
Anggota DPR RI Komusi VII, Abraham Lulung Lunggana, Gandung Pardiman, dan Paramita Widya Kusuma melihat hasil olahan pangan dengan sentuhan BPTBA LIPI Yogyakarta. (KH/ Kandar)

PLAYEN, (KH),– Upaya pengembangan teknologi dalam memaksimalkan potensi bahan alam agar kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi terus dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Balai Pengembangan Teknologi Bahan Alam (BPTBA), demikian disampaikan Deputi Jasa Ilmiah LIPI, Mego Pinandito saat menyambut kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI di BPTBA LIPI Yogyakarta, Jum’at, (21/11/2019).

Diungkapkan, BPTBA LIPI yang berlokasi di Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta telah berhasil mengembangkan teknologi pengalengan untuk mengoptimalkan potensi bahan alam lokal.

“BPTBA telah berhasil membawa teknologi lebih dekat dengan masyarakat dengan mengoptimalkan bahan alam lokal Yogyakarta sebagai bahan pangan,” tutur Mego Pinandito.

Dirinya memaparkan, BPTBA LIPI mengembangkan teknologi pengalengan makanan tradisional dengan proses sterilisasi dan pengawetan tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi.

Mego mengungkapkan, bahwa dengan inovasi tersebut, makanan tradisional memiliki masa konsumsi lebih panjang sehingga semakin membuka potensi industri pangan tradisional Indonesia serta menjadi alternatif ketersediaan pangan Indonesia. Dengan masa konsumsi yang lebih panjang dan pengemasan yang aman , makanan tersebut dapat didistribusikan ke seluruh pelosok negeri.

“Selain itu pengalengan makanan tradisional Indonesia membuka luas potensi kuliner Indonesia untuk masuk pasar internasional,” urai Mego.

Lebih jauh disampaikan, dengan teknologi pengalengan, potensi bahan alam Indonesia dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Fokusnya mengenai bagaimana teknologi dan hasilnya dapat dinikmasti masyarakat. Saat ini, produk makanan tradisional yang telah dikalengkan oleh BPTBA LIPI diantaranya adalah gudeg, mangut lele, sayur lombok ijo, dan tempe kari.

Selain produk unggulan pengalengan, BPTBA LIPI juga bersinergi bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Kumpul Makaryo” di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Dengan dampingan LIPI masyarakat telah mengembangkan budidaya kakao hingga pengolahan pasca panen. Hasil nyata sinergi tersebut adalah sarana dan prasarana pengolahan cokelat berupa peralatan dan pembangunan rumah produksi atau showroom yang diberi nama Griya Coklat Nglanggeran.

Sambung Mego, GriyaCoklat Nlanggeran saat ini menyediakan sejumlah varian olahan, diantaranya Cocomix Original, Cocomix Kopi, Cocomix Susu Kambing Etawa, Cocomix Ice, Cookies Kombinasi Tepung Mocaf dan Cokelat, pisang salut, bubuk cokelat, dan cokelat batang.

“Griya cokelat telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan Sri Sultan Hamengku Buwono. Harapannya Griya Cokelat dapat menjadi centre cokelat di Indonesia dan masyarakat dapat benar-benar merasakan manfaatnya terutama dari segi ekonomi,” jelas Mego.

Komentar

Komentar