Selama Ramadhan, UKM Kerajinan Kulit ‘Mario Leather’ Alami Peningkatan Permintaan

oleh
Tumijo sedang menyelesaikan pesanan tas kulit. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH),– ‘Mario Leather’ industri rumahan kerajinan kulit di Wonosari ini mengalami peningkatan permintaan selama Ramadhan. Pengrajin, Tumijo (50) mengaku, peningkatan permintaan kurang lebih mencapai dua kali lipat dibanding bulan-bulan biasanya.

Saat ditemui di rumahnya, Selasa, (5/6/2018) Tumijo dan tiga karyawannya sedang mengerjakan produk pesanan. Produk yang dihasilkan berupa tas, dompet, ikat pinggang dan lainnya banyak diminati sejumlah toko penyedia produk kerajinan kulit di pusat-pusat perbelanjaan.

“Sejak memulai bikin produk di Gunungkidul, produk langsung diterima di daerah Manding, Bantul dan Pasar Bringharjo,” katanya disela memotong lembaran-lembaran kulit lembu yang siap dijahit.

Setidaknya ada 12 toko di dua lokasi tersebut yang selalu menerima hasil karya Tumijo. Dari berbagai produk yang dibuat, tas menjadi produk paling banyak diminta.

Untuk memenuhi banyaknya permintaan, dirinya juga meningkatkan jumlah belanja bahan baku. Bahan baku kulit biasa ia datangkan dari Jogja dan Magetan. Ada dua jenis bahan baku yang dibeli, kulit dengan warna asli atau disebut nabati serta kulit setengah jadi atau yang telah diwarnai sesuai warna permintaan.

Banyaknya bahan baku yang dibeli antara kulit nabati dan kulit berwarna menyesuaikan pesanan produk. Dalam satu bulan lelaki satu anak ini biasanya membutuhkan sekitar 20-an lembar kulit lembu. Lantas pada Bulan Puasa ini kebutuhan bahan naik dua kali lipat.

Mengenai jumlah penjualan produk, dalam satu minggu sebanyak 20-an tas kulit serta belasan produk jenis lain harus dikirim. Selain dijual di toko aneka produk kerajinan kulit, pemasaran juga dilakukan melalui pameran-pameran.

Lelaki berkaca mata ini menyebutkan, dirinya fokus dalam hal produksi saja. Ia berbagi tugas dengan istrinya, Juwariyah Indriawati, yang lebih banyak menangani urusan pemasaran.

Indriawati menunjukkan tas dan dompet kulit. KH

Indriawati berkisah, sebetulnya usaha tersebut telah digeluti sejak tahun 1990-an sebelum Tumijo menikah dengan dirinya. Awalnya Tumijo bekerja pada sebuah UKM pengrajin kulit sebagai pembuat tas koper. Tiga tahun bekerja kemudian berhenti lalu mendirikan wirausaha. Usaha terus berlanjut seletah ia dan Tumijo menikah. Selain membuat koper, produk kemudian dikembangkan ke jenis-jenis yang lain.

Usahanya sempat berhenti total lantaran terjadi bom bunuh diri di Bali. Kiriman uang yang semestinya diterima setelah mereka mengirim barang gagal lantaran kondisi di Bali tidak kondusif. Dimungkinkan juga para pemesan tas koper di Bali terdampak bom pada 2005 silam itu.

“Kami menanggung banyak hutang karena biaya operasional dan gaji karyawan belum terbayar. Benar-benar berhenti,” kenang Indriawati.

Agak lama mereka berhenti sebelum kembali produksi. Selain kehilangan pasar modal juga tidak dimiliki waktu itu. Perjalanan usaha membuat mereka harus berpindah ke Gunungkidul awal 2015. Indriawati lantas merintis pemasaran ke Manding, Bantul dan Pasar Bringharjo.

“Selain itu, selama di Gunungkidul kami didukung beberapa dinas terkait sehingga mendapat kesempatan berulang kali pameran. Dari kegiatan pameran produk kami dikenal luas sekaligus banyak yang laku,” papar Indriawati.

Indriawati tak segan mengatakan, semenjak memulai usaha di Gunungkidul dukungan dari pemerintah daerah sangat dirasakan. Berbeda dengan saat dirinya memulai usaha pertama di Yogyakarta.

Mengenai harga, produk kerajinan kulit memang sedikit lebih mahal. Harga produk dompet, tas dan ikat pinggag dijual dengan harga mulai dari Rp. 80.000 hingga Rp. 350.000. sedangkan untuk tas koper ukuran besar menjapai Rp. 1 jutaan.

Karena berbahan kulit, aneka produk dengan merek Mario Leather ini dikenal awet. Selain itu, penggunaan bahan kulit asli memiliki karakter alami yang unik. (Kandar)

Komentar

Komentar