Selain Wujud Syukur, Gumbregan Menjadi Momen Minta Maaf Pada Ternak

oleh
Memberi makanan spesial kepada sapi merupakan ritual Gumbregan. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),— Selain sebagai wujud syukur atas peliharaan ternak yang dimiliki, adat tradisi Gumbregan juga merupakan permohonan maaf kepada hewan ternak. Demikian disampaikan Ketua Sanggar Omahku Tirtomoyo, Wakidi disela tradisi Gumbregan, Selasa, (18/6/2019).

Tradisi Gumbregan, kata dia, rutin digelar tiap wuku Gumbreg (suatu siklus waktu dalam tahun kalender jawa yang berumur 7 hari). Tradisi digelar bersama-sama oleh warga di seputar pelataran pendopo sanggar seni budaya di Padukuhan Blimbing, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul.

“Kami pilih Wuku Gumbreg Selasa Wage untuk menggelar tradisi Gumbregan bersama-sama. Pada Wuku Gumbreg hari yang lain masyarakat melaksanakan sendiri-sendiri di rumah,” kata Wakidi.

Dalam pelaksanaan tradisi tersebut syukur yang dipanjatkan petani mengenai keberhasilan dan diperolehnya manfaat dari memelihara ternak, utamanya sapi. Tetapi juga tidak terkecuali dengan ternak seperti kambing, ayam dan lain-lain.

Adapun permohonan maaf kepada ternak juga diutarakan dalam prosesi ritual Gumbregan. Petani merasa bersalah, sebab dulu saat memanfaatkan tenaga ternak, seperti membajak menggunakan sapi pernah melecut atau mencambuk punggung sapi ketika jalannya kurang cepat atau berbelok tidak sesuai keinginan petani.

“Kami juga memanjatkan doa agar ternak beranak pinak,” harap Wakidi.

Pelaksanaan tradisi Gumbregan juga diwarnai grebek atau memperebutkan gunungan yang berisi 1.000-an ketupat. Gunungan tersebut dibuat oleh petani dengan niat atau tujuan untuk berbagi. Selain ketupat, masyarakat yang terlibat tradisi Gumbregan juga mengeluarkan atau menyebar udik-udik atau uang logam. (Kandar)

Komentar

Komentar