Sekilas Tentang Masjid Tua Peninggalan Ki Ageng Giring III

Masjid Al Huda Sodo, Peninggalan Ki Ageng Giring III. KH/ Kandar
Masjid Al Huda Sodo, Peninggalan Ki Ageng Giring III. KH/ Kandar

PALIYAN, (KH)— Mungkin tempat ibadah ini bisa disebut sebagai masjid tertua di Gunungkidul. Menurut cerita yang ada, cikal bakal Masjid Al Huda merupakan peninggalan atau dibangun sejak masa Ki Ageng Giring III.

Masjid yang memang berada tidak jauh dari makam Ki Ageng Giring III itu, dikatakan oleh Takmir Masjid, Sardi, awalnya berupa Langgar, tempat ibadah dengan ukuran kecil. Seingat dia, pada masa kecilnya, Langgar yang dibangun sekitar tahun 1600 M tersebut masih berdinding bambu, serta lantainya pun masih menggunakan ubin dari batu-batu besar yang diperhalus.

Sekitar tahun 1950-an, rehab pernah dilakukan pada masa generasi ayahnya, sejak saat itu bangunan diperluas sehingga mulai disebut dengan Masjid. ”Material pasir cuma mencari sendiri di sungai daerah sekitar, bahan gampingnya juga membakar sendiri,” kata dia mengulang cerita yang pernah didengarnya.

Kondisi Masjid saat ini, masih terdapat beberapa bagian seperti ramuan atap meliputi soko, dudur, dan usuk menggunakan bahan terdahulu. Sedangkan bagian yang sudah rapuh memang diganti dengan yang baru pada saat rehab Masjid Tahun 1983.

“Pada rehab terakhir itu sudah masa saya dan beberapa tokoh yang lain, bahan yang masih memungkinkan tetap kita pakai, selain beberapa ramuan, Bedug merupakan prasarana yang tetap ada hingga saat ini sejak saya masih kecil,” ungkap lelaki kelahiran Tahun 1950 itu.

Penuturannya, upaya pembangunan masjid mendapat dukungan dana dari Bina Graha. Setelah pembangunan tersebut, Masjid yang berada di Padukuhan Sidorejo, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan itu memiliki ukuran 10 x 15 m, sehingga mampu menampung 350-an jamaah.

Selain membicarakan hal-hal terkait kondisi Masjid, lelaki tiga anak ini juga menceritakan hal-hal mistis dan tergolong aneh yang ditemui atau dirasakan dirinya juga warga sekitar khususnya saat pembangunan yang terakhir.

Pekerjaan rehab yang dilaksanakan secara swadaya itu melibatkan banyak orang, waktu pengerjaan selain siang hari terkadang dilakukan pula saat malam hari. “Pada suatu malam kerja bakti libur, tetapi anehnya, esok hari ada yang menanyakan kepada saya bahwa saat dia melintas banyak sekali yang ikut gotong royong,” kenang Sardi.

Ada lagi, lanjut Sardi, ketika sore hari material pasir habis, dirinya belum memesan ke toko bangunan. Tetapi pagi-pagi sekali pekerja toko mengantarkan pasir, kata pemilik toko, dia semalam datang ke toko minta dikirimi pasir, padahal Sardi tidak pergi ke sana.

“Masih ada lagi, pantangan bagi yang ingin ikut bekerja harus mandi besar terlebih dahulu apabila malam harinya berhubungan dengan istrinya. Mungkin lupa, saat tengah bekerja tiba-tiba ada pekerja seperti kerasukan dan bertingkah seperti kera,” kata Sardi lagi mengenang kisah Tahun 1980-an. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar