Sebelum Akhiri Hidup, Jual Sapi dan Rumah Ditempuh agar Sembuh

Tetangga dan sanak saudara melayat dan mengantar kepergian Cipto Mujiyo. (KH/ Kandar)

PLAYEN, (KH),– Sabtu Pon pagi hari tadi (22/7/2017), sebuah informasi bersumber dari komunikasi internal humas kepolisian masuk ke chat whatsapps reporter KH.  Informasi internal tersebut memberitahukan adanya peristiwa gantung diri yang dilakukan Cipto Jumiyo (72), warga Dengok RT/RW 18/5 Playen Gunungkidul.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan KH kepada para tetangga di rumah duka, Cipto Jumiyo sebelumnya ia dikenal sebagai sosok yang rajin ke ladang. Meski usia bisa dibilang sepuh,  para tetangga melihat ia tetap beraktivitas sebagaimana biasa petani di desa. Hampir setiap hari ia mendorong gerobak sederhana pulang pergi dari rumah ke ladang.

Entah untuk mengangkut pupuk dari rumah, membawa pakan ternak, atau mengusung pulang apa saja hasil olah kebun yang ia lakukan. Cipto Jumiyo tinggal berdua bersama istri. Mereka bahu membahu menggarap ladang dan memelihara beberapa ekor sapi.

Rutinitas pekerjaan sontak total berhenti, ketika dirinya mengalami sakit saraf kejepit. Para tetangga menuturkan, dapat dibilang Cipto Jumiyo adalah seorang yang gigih dalam berupaya untuk memperoleh kesembuhan. Berobat ke rumah sakit, tabib, dan beberapa upaya pengobatan lain pernah ia lakoni.

Memang, ketika upaya mencapai titik nadir, pasrah kepada yang maha segala-galanya menjadi jalan terakhir. Menurut tetangganya, Supriyanto, Cipto sakit sudah hampir dua tahun. Penyakit saraf kejepit di tubuh bagian belakang tak jua sembuh meski segenap daya upaya telah dilakukan.

Demi kesehatan, menjual sapi dan menjual rumah pun telah ditempuhnya. Menahan sakit yang menahun tersebut diduga kuat telah membuatnya jatuh dalam depresi. Cipto Mujiyo (72) akhirnya mengakhiri hidup dengan seutas tali di salah satu kandang sapi miliknya.

Sabtu pagi (22/7/2017) warga Dengok gempar, menyusul jeritan histeris Juminah (57), istri Cipto. Batin Juminah sangat terpukul, selepas pulang beli sayur untuk keperluan masak setiap hari, ia malah mendapati sang suami bunuh diri. Tak menduga sama sekali, sayur yang sedianya untuk makan bersama suami tak lagi dapat terhidang.

Kabar kepergiannya pun lebih pesat tersebar, tak sebatas di Desa Dengok , Kecamatan Playen saja. media sosial, surat kabar online, group-group WA, BBM, saling bersahutan menyampaikan.

Supriyanto mengungkapkan, Cipto Jumiyo sempat menjual dua ekor sapi miliknya untuk biaya pengobatan. Tak hanya itu salah satu rumah miliknya juga dijual dengan tujuan kesembuhan pula. “Memang dia punya dua rumah. Menurut saya, upaya sembuh sudah maksimal,” terang Supriyanto.

Diantara hiruk pikuk para pelayat yang masih membicarakan kematian Cipto, Supriyanto mengaku tak melihat ada yang aneh pada diri Cipto dalam beberapa hari terakhir. Ketika bertegur sapa dengan Cipto, keluhan sakit yang diderita tidak banyak terlontar.

“Pak Cipto terbilang pendiam. Semenjak tak mampu lagi ke ladang, ia biasanya hanya mondar-mandir di kandang,” tuturnya.

Kepala Dukuh setempat tak banyak berkomentar terkait kepergian Cipto. Dirinya mengaku tak banyak tahu mengenai keseharian Cipto. “Saya tidak begitu tahu,” kilahnya.

Setelah diperiksa oleh petugas medis yang didampingi petugas Polsek Playen, jenazah kemudian diserahkan kembali kepada keluarga untuk disemayamkan.

Bekas galian tanah mencari gelu tepat di bawah pelaku gantung diri. KH/ Kandar.

Mitos Gelu

Di tengah masyarakat Gunungkidul memang banyak dikenal berbagai banyak mitos. Khusus untuk bunuh diri saja terdapat beberapa mitos. Beberapa di antaranya ialah bahwa penyebab bunuh diri disebabkan karena pulung gantung.

Mitos lain yakni adanya gelu, yaitu bulatan tanah pengganjal mayat ketika dikebumikan diyakini telah ada atau tersedia tepat di bawah di mana orang melakukan gantung diri.

Memang, masyarakat di sekitar pelaku bunuh diri di Desa Dengok sudah banyak yang tidak mempercayai mitos ini. Akan tetapi, atas seruan segelintir warga akhirnya menggali tanah untuk mencari gelu juga dilakukan. Setelah dilakukan hasilnya nihil. Bulatan tanah atau gelu yang diyakini telah ada tersebut tidak ditemukan.

“Kalau saya sudah tidak percaya seperti itu,” timpal Budiyono, warga yang tinggal masih dalam lingkup satu RT dengan pelaku. Menurutnya, memiliki kepercayaan terhadap seperti itu bertentangan dengan agama.

“Sebenarnya jika kita yakin sepenuh hati dengan ajaran agama, bunuh diri tidak terjadi,” lanjut Budiyono mengutarakan pendapatnya.

Budiyono melanjutkan dan berharap, sekiranya ada tokoh yang memiliki pengaruh kuat di setiap kalangan masyarakat untuk mempengaruhi agar keteguhan hati dalam beragama semakin kuat. Menurutnya, dengan hal tersebut akan membuat mental semakin kokoh, percaya diri semakin tinggi, dengan demikian tindakan bunuh diri dapat diminimalisir. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar