Sandi Setiawan, Pemuda Semin Ini Tiga Kali Mudik Bekasi-Gunungkidul Pakai Sepeda

oleh
Sandi Setiawan saat singgah di suatu kota dalam perjalanan mudik Bekasi-Gunungkidul menggunakan sepeda. foto: doc. Sandi Setiawan.

SEMIN, (KH),– Menyalurkan hobi, satu alasan yang diutarakan Sandi Setiawan, pemuda asal Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul ini yang mudik dengan mengayuh sepeda. Selasa, (12/6/2018) malam dirinya sampai di kampung halaman, di Padukuhan Karanganyar, Desa Sumberejo.

Saat dihubungi, selain hobi, statusnya yang masih bujang juga menjadi alasan bahwa ia masih leluasa untuk menentukan cara mudik yang tak lazim ini. Secara pribadi dirinya juga berniat mempromosikan bahwa bersepeda menyehatkan dan ramah lingkungan.

“Kalau sudah punya keluarga tentunya tidak mungkin saya memilih mudik naik sepeda. Mumpung masih bujang bisa buat cerita anak cucu kelak,” katanya.

Sebelum menempuh jarak Bekasi-Gunungkidul, dirinya melakukan persiapan matang. Sebab jarak yang ditempuh mencapai sekitar 580-an kilometer. Selain menjaga fisik yang bugar, beberapa peralatan jika sepeda mengalami kendala juga disiapkan.

Sandi merinci, peralatan seperti pompa, ban cadangan, alat tambal ban, beberapa peralatan kunci bengkel, cutter, dan isolatif menjadi barang bawaannya selama menempuh perjalanan mudik.

Sambung Sandi, perjalanan yang ia tempuh selama empat hari empat malam. Persiapan diawali sepulang kerja, Jum’at, (8/6/2018) lalu. Siang menjelang sore itu ia mengemas barang bawaan yang hendak dibawa pulang. Kemudian pukul 19.00 WIB malam dirinya bertolak dari Cikarang Selatan, Bekasi.

Untuk menjaga ketahanan stamina, Sandi telah mengatur waktu untuk istirahat. Selain itu, setiap mengayuh sepeda selama satu jam, dirinya berhenti sejenak minum air putih baru kemudian melanjutkan perjalanan.

“Waktu istirahat full termasuk tidur dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00 WIB. Sembari istirahat juga melakukan pengisian daya aki untuk penerangan perjalanan malam hari,” tutur lelaki berusia 31 tahun ini.

Dirinya menyebutkan, mudik kali ini merupakan yang ke-tiga kalinya pulang dari perantauan dengan menaiki sepeda. Dirinya mengaku durasi waktu tempuh dari tahun ke tahun semakin cepat.

Perjalanan jauh menaiki sepeda bukan tanpa resiko. Selama perjalanan, terhempas angin saat kendaraan-kendaraan besar mendahuluinya menjadi hal yang paling sering terjadi. Selain itu, dirinya juga harus bersabar saat berada di belakang truk pada kondisi jalan menanjak. Terkadang tenaga ekstra harus dikeluarkan manakala terpaksa harus mendahului mobil penuh muatan yang berjalan pelan.

“Kemarin ban sempat bocor tetapi bisa ditangani sendiri,” imbuhnya

Selama perjalanan banyak para pemudik yang memberikan support pada dirinya. Tidak sedikit juga merasa kagum atas cara mudik yang dipilihnya itu. Selain itu, mendapat tanggapan ramah dari banyak orang saat singgah menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Sebagian ada yang mentraktir makan, bahkan menyiapkan bingkisan.

“Banyak yang memantau perjalanan saya melalui medsos. Selama perjalanan support dan dukungan moral juga datang dari petugas polisi lalu lintas,” sambung Sandi.

Sebagai kenang-kenangan, setiap singgah di wilayah yang memiliki bangunan atau icon unik seperti tugu, atau pintu gerbang, Sandi selalu mengabadikannya dengan kamera. Hal itu membuatnya senang. Kemudian, tentu saja hal yang paling menggembirakan bagi Sandi yakni saat sampai di kampung halaman bertemu orang tua dan saudara dengan selamat. (Kandar)

Komentar

Komentar