Sambut 1 Sura, Ritual Ruwatan Massal Digelar Di Semin

oleh
Tradisi cukur rambut mewarnai Ruwatan di Kecamatan Semin. KH/ WAP.

SEMIN, (KH),– Sebuah komunitas, ras atau suku tertentu pasti memiliki adat dan tradisi budaya warisan nenek moyang. Sebagian masyarakat masih menjaga kelestariannya secara turun temurun. Ritual adat tradisi warisan tersebut masih sering dijumpai di tengah masyarakat, tak terkecuali di Gunungkidul.

Seperti dilaksanakan masyarakat di Dusun Tambran, Desa Kalitekuk, Kecamatan Semin, ritual tradisi ruwatan massal digelar dalam menyambut malam 1 Suro, tepatnya, Sabtu, (31/8/2019) lalu. Ritual ruwatan yang dilengkapi pentas wayang kulit dilangsungkan di kediaman tokoh warga, Ki Susena Aji.

Susena menjelaskan, ruwatan berasal dari bahasa jawa ngudari renteng yang bermakna mengurai masalah, baik masalah batin maupun lahir.

“Ruawatan itu artinya mengurai masalah lahir dan masalah batin, dan menyembuhkan yang sakit menjadi sehat, menyembuhkan lara raga, lara gung dan lara wigena,” jelas Susena.

Lebih jauh diutarakan, lara raga itu sakit fisik, lara gung itu sakit besar atau sakit komplikasi, jadi bisa lahir dan juga batin sakitnya, lara wigena itu sakit spiritual, bisa karena stress, trauma tapi bisa juga karena guna-guna.

Ki Susena menambahkan, ruwatan ada tiga macam, ruwatan bumi, ruwatan massal dan ruwatan diri sendiri. Dia juga menerangkan ruwatan tidak harus dilakukan saat bulan Sura saja, ruwatan bisa di lakukan kapan saja.

“Malam satu Sura itu merupakan budaya ritual untuk mensucikan diri, ini yang membedakan dengan tahun Masehi, bila tahun baru pada tahun Masehi untuk senang-senang tapi bagi masyarakat Jawa satu Sura itu untuk kontemplasi, mengintropeksi. bersih diri suci hati, suci lathi (perkataan) dan suci diri. Jadi perkataan, perbuatan dan fikiran menjadi suci, meskipun untuk membersihkan diri tidak harus,” papar dia.

Susena juga menegaskan, manusia harus bisa menyelaraskan kehidupannya baik dengan dirinya sendiri, sesama manusia, juga menyelaraskan dengan lingkungan dan alam semesta.

“Orang hidup ini harus selaras, serasi dan seimbang baik dengan sesama mahkluk hidup. hewan, tumbuhan. Tetapi juga harus selaras dengan dimensi gaib atau dimensi astral. Orang yang selalu sial apes itu berarti dia tidak seimbang, tidak serasi dan tidak selaras kehidupannya baik dengan alam, baik alam nyata maupun alam gaib,” tegasnya.

Untuk melakukan ruwatan harus dipimpin seorang dalang sepuh (tua). Lanjut Susena, tua dalam artian menguasai falsafah kehidupan, menguasai dunia spiritual. Sebab ruwatan bukan sembarang ritual, namun diyakini juga untuk mengusir hal buruk, atau dilambangkan makhluk gaib jahat Bethara Kala.

“Kala bisa juga di artikan waktu, orang yang di makan Bethara Kala sama halnya hidupnya di makan waktu, hidupnya sia-sia tidak bermanfaat untuk dirinya apa lagi untuk makhluk sekitarnya,” imbuhnya.

Komentar

Komentar