Saat Gerhana Bulan Masih Ada Masyarakat yang Menabuh Lesung

oleh
Masyarakat Desa Jetis Saptosari menabuh lesung saat gerhana bulan. Foto: Kandar.
Masyarakat Desa Jetis Saptosari menabuh lesung saat gerhana bulan. Foto: Kandar.

SAPTOSARI, (KH)— Fenomena gerhana bulan langka Sabtu (4/4/2015) malam terjadi. Fenomena alam tersebut dapat dilihat dari beberapa wilayah di Indonesia dengan jelas jika kondisi cuaca cerah.

Meski terlihat di wilayah Kabupaten Gunungkidul, namun penampakan gerhana tidak begitu jelas lantaran tertutup mendung. Seperti hidup pada generasi puluhan tahun silam, suara bunyi khas lesung ditabuh terdengar menggelayut di wilayah Padukuhan Dondong Desa Jetis Kecamatan Saptosari.

Diungkapkan simbah sepuh Jo Dikromo, tabuhan lesung tersebut dilakukan berdasar pada kebiasaan nenek moyang. Seperti diketahui, terjadinya gerhana bulan timbul mitos turun-temurun bahwa bulan dimakan raksasa. Dengan ditabuhnya lesung, maka raksasa akan memuntahkannya.

Sesuai ilmu sains, seperti dilansir kompas.com, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan, bahwa gerhana dengan totalitas waktu kurang dari 5 menit merupakan kejadian langka, seperti yang terjadi seperti malam ini hanya terjadi 2 kali dalam satu milenium terakhir.

Warga Padukuhan Dondong yang lain menyebutkan, kebiasaan menabuh lesung tidak ditanggapi secara serius, baginya hanya merupakan tradisi masa lalu. “Ya tidak apa-apa, bagi beberapa warga yang menabuh dianggap sebagai hiburan juga ada,” kata Hartini salah satu warga. (Kandar)

Komentar

Komentar