Rumah Buyut Bupati Pertama Gunungkidul Ini Pernah Jadi Tempat Indoktrinasi Eks PKI

oleh
Bangunan cagar budaya rumah tradisional Sri Budiarti Siswo Disastro. KH/ Kandar.

SEMANU, (KH),– Terhimpit toko bahan bangunan serta gudang, bangunan rumah tradisional ini tetap berdiri kokoh. Keasliannya terus diupayakan oleh pemilik hingga saat ini. Sehingga, kesan kuno selalu muncul pertama kali dibenak siapapun yang melihatnya.

Menurut pemilik, Siswodisastro, istrinya, Sri Budiarti merupakan buyut dari bupati pertama Gunungkidul, R.T. Pontjodirjo. Sebelum diwariskan ke istrinya, bangunan tersebut milik Karto Hudoyo. Setelah Karto Hudoyo meninggal, rumah diwariskan kepada anaknya yang bernama R. Sastrodipuro, yang tak lain ayah Sri Budiarti.

Kemudian setelah Sastrodipuro meninggal dunia, rumah diberikan kepada Sri Budiarti. “Rumah warisan sebelum dipindahkan ke sini berada di tempat lain di Semanu. Perpindahannya sekitar tahun 1952,” kata Siswodisastro belum lama ini.

Rumah yang kini berada di ruas jalan Semanu-Praci di Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul ini selain cukup terjaga keaslian bentuk dan bahannya juga menyimpan perjalanan peristiwa penting.

“Rumah ini pernah menjadi posko TNI pada tahun 1965-1966. Pada saat itu TNI gencar mengadakan gerakan pembersihan eks PKI di wilayah Pacarejo, Semanu,” terang Siswodisastro.

Selain dijadikan posko TNI tahun 1965-1966, rumah ini juga sempat digunakan untuk deideologisasi dan indoktrinasi para mantan anggota PKI agar kembali berideologi sesuai yang dianut negara Indonesia.

Semenjak berdiri di tempat yang sekarang, rumah Joglo telah mengalami sejumlah perbaikan dalam rangka pemeliharaan. Diantaranya pada tahun 1970 dilakukan pengecatan kayu joglo dengan cat warna putih. Pada 2008 juga pernah dilakukan penggantian penutup atap brunjung dari genteng keripik ke bahan seng.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelestarian Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara MM mengungkapkan, rumah milik Siswodisastro dapat menjadi sumber pengetahuan tentang konstruksi bangunan tradisional Jawa yang masih memiliki banyak keunikan dan masih mempertahankan keasliannya.

“Rumah Sri Budiarti pada dasarnya mewakili kesejarahan gaya bangunan rumah tradisional dan merepresentasikan pengetahuan lokal dalam mempergunakan material, membangun konstruksi, memanfaatkan ruang, dan menyusun dekorasi yang khas dan unik,” jelas Agus.

Siswodisastro, pemilk rumah yang masuk kategori bangunan cagar budaya. KH/ Kandar.

Oleh sebab itu, bangunan tersebut dapat menjadi karya arsitektural yang bernilai penting sebagai wujud kekayaan pengetahuan lokal serta kebudayaan yang dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembelajaran.

Pada sisi yang lain, bangunan ini memiliki bebagai keterancaman sehingga perlu memperoleh perlindungan guna pelestarian. (Kandar)

Komentar

Komentar