Rifka Annisa Kampanyekan Kesetaraan Gender

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
ilustrasi kesetaraan gender. sumber: internet.

WONOSARI, (KH) — Bertempat di Oishi Green Siraman, Sabtu, (8/4/2017) lalu, Kader Laki-Laki Peduli dampingan Rifka Annisa dalam program Man Care berkumpul dan berdiskusi bersama. Hadir dua perwakilan komunitas Laki-Laki Peduli yang telah mengikuti program tersebut sejak tahun 2013. Keduanya, Jatmiko dari Kecamatan Semin dan Es dari Ngawen bersama antar anggota komunitas melakukan Sharing dan diskusi terkait tema kesetaraan gender.

Dalam kesempatan ini Rifka Annisa gencar mengkampanyekan tentang citra baru laki-laki serta menolak adanya kekerasan terhadap perempuan. Beberapa faktor yang mendorong terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki diantaranya adalah budaya patriaki (patriarchy), adanya keistimewaan (privilege) dan sikap permisif (permissive).

Budaya patriarki menyuburkan berbagai sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai oleh laki-laki melalui berbagai macam cara baik di kantor maupun dirumah. Sebagian besar laki-laki  juga dibesarkan dengan berbagai keistimewaan dan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh keluarga maupun masyarakat secara umum. Kondisi permisif terhadap tindakan kekerasan terhadap perempuan atas nama ajaran agama,  hukum,  dan peraturan juga disinyalir mendorong laki-laki untuk melakukan kekerasan.

Dalam diskusi, Jatmiko mengatakan, bahwa sejak tahun 2013 telah tergabung dalam komunitas Man Care. Dari situ banyak hal yang dapat dipelajari. “Awalnya banyak yang mencibir semenjak saya mengikuti program Man Care,. Hal ini sudah bukan hal yang mengagetkan buat saya,” katanya.

Menurutnya, semenjak mengikuti program Man Care ia merasa memiliki ilmu bagaimana menyikapi masalah dalam keluarga. Dapat menyikapi perasaan emosi yang kadang kala terjadi. Sebab emosi itu manusiawi. Selalu berupaya bagaimana mengatur emosi menjadi hal positif untuk kemudian menyelesaikan masalah penyebabnya pada saat yang tepat.

Kesetaraan gender itu diperlukan untuk semakin memperbaiki hubungan, tidak sedikit laki-laki menganggap kalau membantu tugas atau pekerjaan rumah tangga pasangan itu dianggap rendahan atau menurunkan derajat laki-laki. Sebenarnya tidak melulu dimaknai membantu akan tetapi disebut sebuah tindakan saling mengisi dan berbagi peran dalam keluarga.

Hal yang terpenting adalah perasaan nyaman tanpa perlu memperdulikan stigma dari masyarakat atau lingkungan sekitar.  Jatmiko bersyukur saat ini ada sekitar 10 laki-laki yang mengikuti jejaknya, masuk dalam komunitas Man care. Ikut berusaha menjadi laki-laki yang dapat berbagi peran dan saling membantu khususnya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Membantu aneka pekerjaan yang sebelumnya seolah hanya merupakan tugas perempuan.

Defirentia One Manajer Humas dan Media Rifka Annisa dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa kesetaraan gender bukan berarti pembagian pekerjaan, akan tetapi sebagai tindakan saling mengisi atas beban tugas dan kewajiban antara suami dan istri sebagai sebuah kesadaran dari masing masing. (Hari)

Komentar

Komentar