Ribuan Belalang Setan Muncul Di Area Persawahan Di Gunungkidul

oleh
Belalang setan (Aularches miliaris). KH/ Wibowo.

WONOSARI, (KH),– Belalang dengan wujud aneh atau sangat jarang ditemui muncul di Gunungkidul, DIY. Serangga dengan sebutan Belalang Setan atau yang dikenal dengan nama latin (Aularches Miliaris) ini menyerang tanaman petani di Desa Baleharjo dan Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari.

Sejumlah petani yang memiliki lahan persawahan tempat datangnya ribuan belalang tersebut resah. Keresahan petani semakin bertambah karena belalang ini diduga dapat mengeluarkan racun.

Sejak muncul dua pekan lalu, ribuan belalang ini memakan dedaunan sejumlah tanaman, mulai dari daun tanaman jagung, daun kelapa, hingga daun pohon jati.

Salah satu petani, Sumarno mengatakan, belalang setan dikenal sebagai belalang beracun karena mampu mengeluarkan busa berwana putih dari bagian tubuhnya. Keluarnya busa diketahui sebagai cara melindungi diri.

Selain busa warna-warna pada badannya juga merupakan upaya untuk menghindar atau menjauhkan diri dari predator. Berbeda dengan belalang yang sering dikonsumsi di Kabupaten Gunungkidul. Belalang setan memiliki ciri sayap berbintik berwana kuning dan tubuh bagian perut berwana kemerahan.

“Karena beracun, para petani tidak berani untuk menangkap, pasrah saja tanaman di lahan pertanian rusak diserang belalang,” tutur Sumarno, Senin, (22/1/2018).

Sejumlah petani berharap kepada pemerintah agar segera memberikan soluasi atas serangan belalang tersebut. Sebab jika dibiatkan para petani khawatir populasi belalang akan terus bertambah.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Baleharjo, Ali Safrudin mengaku sudah mendapat laporan kejadian tersebut. Pihaknya sudah melapor kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk penanganan lebih lanju.

Dalam kesempatan yang sama,  Koodinator Balai Penyuluhan Pertanian, Kecamatan Wonosari,Tugimin mengatakan, sejauh pengamatan di lapangan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, keberadaan belalang tersebut belum merugikan petani.

“Karena populasi belalang masih dibawah 12,5 persen atau masih dibawah ambang ekonomi,” ungkapnya. (Wibowo)