Reroncen

Garap Tari Reroncen, Kontingen Kabupaten Gunungkidul; Parade Tari Nusantara Tahun 2017; Gedung Societet TBY. Foto: Ibu Daruni
Garap Tari Reroncen Kontingen Kabupaten Gunungkidul di Parade Tari Nusantara Tahun 2017; Gedung Societet TBY; Rabu, 19 Juli 2017. Foto: Ibu Daruni

“Sang Pria dan Sang Wanita telah tertali oleh sesampur asmara. Gemulai nan lembik langkahnya, diiringkan sebagai arak-arakan. Jejel-riyel rakyat di kanan-kiri umpama rambut-rambut dari sebalik mahkota yang tergerai, yang kebet-kebet, tak lain bulu-bulu halus yang tersibak oleh kilau kamajaya.”

Pembacaan penggalan sinopsis garap tari berjudul “Reroncen” di atas oleh pewara-acara mengawali penyajian garap tari kontingen Parade Tari Nusantara Kabupaten Gunungkidul pada acara tahunan bertajuk “Parade Tari Nusantara ke-36 Tahun 2017” yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada hari Rabu, 19 Juli 2017.

Parade tari Nusantara tingkat kabupaten-kota se-DIY tahun ini sebenarnya adalah acara seleksi untuk menjaring wakil DIY ke tingkat nasional di acara tahunan yang telah berlangsung lebih dari tiga dasawarsa yaitu “Parade Tari Nusantara ke-36 Tahun 2017 Taman Mini Indonesia Indah” yang akan berlangsung pada tanggal 18-19 Agustus 2017 di Sasana Langen Budaya TMII. Khusus untuk tahun ini, peserta seleksi tak hanya diikuti oleh peserta dari 5 dinas kebudayaan kabupaten-kota, namun ditambah peserta baru dari tiga institusi di DIY, yaitu: ISI, UNY, dan SMKI.

Menyertakan kontingen sebagai peserta pada acara parade tari telah menjadi program rutin dinas kebudayaan masing-masing kabupaten-kota, termasuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, di bawah tanggung-jawab Bapak Ristu selaku Kabid Kebudayaan serta Bapak Purnawan selaku Kasi Seni. Meskipun bersifat selektif dan rutinitas, namun even tahunan Parade Tari Nusantara, beriring-jalan dengan festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY, merupakan ruang paradigma perkembangan pertunjukan seni tari, seni busana, dan seni iringan/musik di wilayah DIY serta ajang kreatifitas para penata tari, penata busana, penata iringan, sutradara, dan para penari. Di acara ini para seniman dan seniwati diberi ruang yang cukup untuk menyajikan kreatifitas garap tarinya serta secara produktif mengolah dan mencipta karya seninya. Sementara itu para pakar dan nara sumber, lebih-lebih para yuri, lewat acara rutin seperti ini biasa memberikan apresiasi-evaluatif kepada para seniman-seniwati demi ‘kemajuan’ seni pertunjukan tari masing-masing kontingen dari seluruh daerah di DIY. Bagi para pandhemen (pemerhati) seni tari Gunungkidul, acara ini dapat digunakan sebagai proses penambahan wawasan dan apresiasi seni tari, yang sekilas perkembangan seni tari di Gunungkidul tampak ‘tertinggal’ dibanding kabupaten-kota lain. Tentu diakui bahwa keberadaan dan perkembangnya seni tari daerah Gunungkidul dapat digunakan sebagai metode branding, promosi, sekaligus penyebarluasan karya seni tari daerah ke seluruh penjuru Nusantara.

Tema seleksi Parade Tari Nusantara di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta tahun 2017, mengutip juknis yang dikeluarkan oleh Bidang Program Budaya dan Anjungan Daerah Taman Mini Indonesia Indah, adalah “Kreativitas Tarian Pada Prosesi Adat Masyarakat Daerah Berbasis Tari Kerakyatan”.

Kala pertemuan praseleksi berlangsung, terjadi diskusi panjang tentang tema, antara pihak Dinas Kebudayaan dgn para penata tari/sutradara. Seperti di ketahui oleh umum bahwa wilayah DIY, bersamaan dengan Jabar, Jateng, Jatim, serta Bali, adalah wilayah yang gerak perkembangan seni pertunjukannya pesat. Seperti ungkap Widi Pramono dan beberapa seniman tari lain, DIY telah memiliki gaya tari ‘yang lain’, bahkan bisa dikatakan bahwa gaya tari DIY di skala nasional telah “meninggalkan” trend daerah lain dalam hal seni pertunjukan khususnya tari. Perkembangan tari DIY telah memiliki “branding” sendiri, bahkan hingga tataran citybranding sebagai kota-budaya. Oleh sebab itu, penafsiran pihak Dinas Kebudayaan DIY dan penafsiran para seniman-seniwati peserta parade terhadap tema nasional yang mengangkat “prosesi adat masyarakat daerah” dan “tari kerakyatan” sempat mengalami perbedaan tajam. Sudah menjadi kelaziman jika kreatifitas para seniman di dalam suatu perlombaan yang diwujudkan dalam garap tarinya, yang dengan sendirinya memasukkan unsur-unsur spesifik kedaerahan dan kerakyatan, harus merujuk pada semangat utama tema. Jalan tengahnya, setelah sempat gonta-ganti tema, seleksi parade tari antar kabupaten-kota dan institusi se-DIY tahun ini yang bertemakan upacara adat daerah “kirab manten” lantas dikerucutkan pada prosesi ‘kirab’, dengan fokus memunculkan ciri-ciri tari kerakyatan daerahnya masing-masing. Meskipun ciri-ciri ‘kerakyatan’ suatu prosesi upacara adat daerah dan tarian daerah di masing-masing wilayah itu yang seperti apa dan bagaimana masih menjadi diskusi panjang. Ada pihak yang meyakini bahwa ciri khas tari kraton pun termasuk kategori kerakyatan atau daerah. Pada akhirnya, para penata tari dan penata iringan menginterpretasikan nilai kerakyatan dan kedaerahan dalam garap tari disesuaikan dengan modal pengetahuan masing-masing penata, dan dengan menyertakan ciri khas ‘kerakyatan’ daerahnya masing-masing.

Seperti keterangan Si Penata Tari, Widi Pramono (Semanu) kala melaksanakan “gladhi-resik” di Pendhapa Sewaka Praja beberapa waktu lalu, tema prosesi upacara adat daerah bisa diterjemahkan sangat luas. Widi menyampaikan bahwa upacara adat daerah dan tari kerakyatan sangat kaya ide, yang dengan ‘gampang’ ciri-ciri spesifik keduanya di masing-masing daerah dapat diambil sebagai ‘stimulan’ atau ‘rangsangan’ yang kuat dalam prosesi penciptaan karya tari. Maka, tahap pertama yang dilakukan Widi adalah mencari dan menggalih (merenungkan) konsep tari. Konsep sebuah garapan tari amat sangat penting karena konsep merupakan titik awal pembuatan adegan-adegan dan alur, yang pada akhirnya melahirkan gerak tari. Proses kreatif yang dilakoninya bersama tim pendukung selama kurang lebih satu bulan dirasa telah mampu memunculkan ciri khas tari kerakyatan Gunungkidulan untuk menggambarkan prosesi ‘kirab’ di dalam upacara adat ‘manten’. Agak susah memang mengonsep garap tari prosesi kirab manten di acara parade tari Nusantara yang biasanya tanpa memunculkan ‘penokohan’. Namun ia semaksimal mungkin berusaha ngronce (merangkai) keutuhan, keselarasan, dan kesinambungan garap tarinya; antara memunculkan spirit “garap” dan dengan tanpa meninggalkan spirit kedaerahan-kerakyatan Gunungkidul. Ia memberi judul garap tarinya: Reroncen.

Seperti kontingen lain, tak boleh lebih dari 7 menit garap tari “Reroncen” harus disajikan di hadapan yuri.

Seorang Anggota Tim Produksi Reroncen menyiapkan kostum. Foto: KH/WG
Seorang Anggota Tim Produksi Reroncen menyiapkan kostum. Foto: KH/WG

Reroncen pun beraksi. Widi Pramono menata 8 penari untuk menyajikan Reroncen. Penilaian parade tari Nusantara meliputi empat kategori, yaitu: penataan tari, penataan iringan/musik, penataan rias-busana, dan penyajian umum. ‘Ketua’ tim pendukung garap tari Reroncen kontingen Kabupaten Gunungkidul diwakili oleh empat orang, yaitu Widi Pramono sebagai penata tari, Yestri Piliyanto sebagai sutradara, Dwi Cahyono sebagai penata rias-busana, dan Muchlas “Tubiest” Hidayat sebagai penata iringan, beberapa waktu sebelum seleksi telah mencoba menyelaraskan tata tari, plotting, pengadegan, rias-busana, dan tata iringan sehingga diharapkan dapat disajikan garab tari prosesi kirab secara utuh dan berkesinambungan dalam balutan tari kerakyatan Gunungkidulan. Misalnya saja dalam mengonsep tata iringan, Muchlas “Tubiest” Hidayat menyesuaikan konsep ‘suasana’ tari kerakyatan yang digunakan oleh Widi Pramono dalam ngronce gerak tari, yaitu iringan reyog dhodhog, jathilan, dan tayub. Ketiganya memiliki ciri khas tari kerakyatan Gunungkidul. Untuk memunculkan suasana kerakyatan di tata iringan, Muchlas, yang mengorganisasi tim penabuh berjumlah 8 seniman, memilih perangkat gamelan slendro untuk meracik komposisinya. Mengapa slendro? Menurutnya, nada-nada yang dihasilkan oleh laras slendro lebih pas dengan suasana kerakyatan. Susunan nada slendro berciri ‘renyah’ dan ‘segar’, seperti ciri psiko-sosiologis masyarakat pedesaan yang senang bergembira ria bersama, sorak-sorai perayaan, dan apa adanya. Reyog dhodhog, jathilan, dan tayub adalah tari rakyat yang bersifat gembira-ria bersama, dekat dengan penonton, renyah, dan menyegarkan. Sementara pelog yang lebih bernuansa ‘agung’ dan ‘berwibawa’ tak dipilihnya.

Singgah-singgah kala singgah, durga kala gya sumingkir”, seperti ini suara sindhen menyanyikan larik cakepan tata iringan Reroncen. Durga Kala pergi, keberkahan pun hadir. Di akhir acara seleksi, dari empat kategori yang dinilai, garap tari Reroncen kontingen Kabupaten Gunungkidul diumumkan dewan yuri memenangi 3 kategori penilaian. Garap tari Reroncen kontingen Kabupaten Gunungkidul memeroleh penghargaan: penata tari terbaik (Widi Pramono, Semanu), penata iringan/musik terbaik (Muchlas “Tubiest” Hidayat, Karangmojo), dan sebagai kontingen penyaji terbaik yang disutradarai oleh Yestriyono Piliyanto (Panggang). Menurut apresiasi dari beberapa penonton yang hadir di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada malam itu, memang penyajian Reroncen kontingen Gunungkidul paling bersih dari kesalahan dan ketakrapian gerak, tentu saja dibanding penyaji dari kabupaten-kota dan institusi lain. Meskipun demikian, ada beberapa apresiasi-evaluatif yang disampaikan dewan yuri kala pengumuman hasil seleksi, di antaranya: garap tari “Reroncen” masih bisa digarap lagi dari segi tata tari tanpa meninggalkan spirit tari kerakyatan; plot dan alur lebih diperjelas lagi; masih banyak move (gerak) yang tidak mendukung alur.

Widi Pramono, Penata Tari Reroncen. Foto: KH/WG.
Widi Pramono, Penata Tari Reroncen. Foto: KH/WG.

Rasa heran membayangi pikiran dan hati sang penata tari terbaik, Widi Pramono, di ujung malam itu: kok bisa ia dan teman-temannya justru meraih juara. Ia menyampaikan bahwa apa yang ia dan semua tim pendukung garap tari “Reroncen” lakukan pada seleksi parade tari Nusantara tahun ini hanya berpedoman pada bagaimana mengolah dan memaksimalkan karya-cipta tari yang mengandung cita-rasa ‘kerakyatan’, sama sekali tidak menargetkan sebagai juara. Ia meyakini bahwa pemaksimalan olah-karya sangat penting dalam suatu perlombaan. Ini lah spiritnya, sehingga dalam setiap olah-cipta karya yang ada hanya arak-arakan kesungguhan.

“Aih, arak-arakan (parade) tampaknya tak kan lekas usai”, untaian kata-kata penanda penyajian garap tari “Reroncen” kontingen Gunungkidul mendekati akhir. Reroncen yang berangkat dari ide tentang arak-arakan atau kirab yang panjang, yang berisi rangkaian dan jalinan aneka rupa: rakyat tua-muda laki-perempuan, reyogan, jathilan, gunungan, tayuban, dan sebagainya. Seperti ‘arak-arakan’ seni rakyat kala prosesi upacara adat Rasulan dimana dusun-dusun dan desa-desa di Gunungkidul pada bulan-bulan ini sedang melaksanakannya. Dan ‘arak-arakan’ dari dan di Bumi Handayani tampaknya takkan cepat putus. Karena reroncen (rangkaian) arak-arakan ini, Agustus kelak, telah menjadi kirabnya bangsa Nusantara di Sasana Langen Budaya Taman Mini Indonesia Indah. Kirabnya Gunungkidul ke lingkup bangsa-bangsa se-Nusantara. Hanya kebahagiaan dan kemuliaan yang ada. Begitu selamanya.

Dan kebahagiaan lah yang menghiasi air-muka para peraih penghargaan: Widi Pramono (penata tari), Yestri Pillianto (sutradara), dan Muchlas “Tubiest” Hidayat (penata iringan) yang sedang kecipratan flash kamera; melengkapi raihan sebagai juara umum festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY tahun 2016 yang lalu; mereka sedang bersuka.

Dari kanan: Widi Pramono (Penata Tari, Semanu), Yestri Piliyanto (Sutradara, Panggang), Muchlas Tubiest Hidayat (Penata Iringan, Karangmojo). Foto: Muchlas.
Dari kanan: Widi Pramono (Penata Tari, Semanu), Yestri Piliyanto (Sutradara, Panggang), Muchlas ‘Tubiest’ Hidayat (Penata Iringan, Karangmojo). Foto: Muchlas.

Tetapi mereka sadar, kirab ‘kerakyatan’ yang lain belum lah tuntas. Mereka harus segera berkemas: bagaimana menyajikan seni pertunjukan tari daerah yang utuh dari segi garap, yang mengandung kesinambungan, yang serasi, yang selaras dengan tema, yang secara intensif mengembangkan nuansa ketradisionalan Gunungkidul sebagai himpunan bagian utuh tak terpisahkan dari “taman mini” budaya Indonesia-Nusantara bulan Agustus mendatang. Yaitu kedaerahan Gunungkidul sebagai bagian dari budaya Nusantara yang memang eksotik. Yang beraneka.

Lebih utama lagi bagaimana mereka ‘harus’ terus ikut ngronce, menata ulang, memotivasi kreatifitas seni di wilayah Kabupaten Gunungkidul dalam hal olah-cipta karya seni tari, serta mendukung progam Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni tari Gunungkidul tanpa meninggalkan spirit kedaerahannya dan ke-Nusantaraannya, sehingga dengan identitas “ke-Nusantaraan” dan “keGunungkidulan” Gunungkidul memiliki “nilai tawar” sejajar dengan kabupaten-kota lain; spirit Gunungkidul yang semakin mendekati jati-diri sesungguhnya. Widi Pramono berharap, capaian kali ini menjadi titik awal pengakuan kabupaten-kota yang lain di DIY bahwa Gunungkidul di ajang lomba tari seperti Parade Tari Nusantara pelan-pelan bukan sekedar sebagai peserta biasa lagi, namun bergerak menjadi salah satu kabupaten yang diperhitungkan oleh kabupaten-kota yang lain. Akan tetapi, pesannya, jangan pernah merasa ‘terlalu bangga’ dan ‘merasa bisa’ berkarya cipta tari setelah kita menjadi juara. Tetap lah bersikap sak madya (sedang-sedang saja), aja rumangsa bisa (jangan merasa bisa) tetapi bisaa rumangsa (bisalah merasa)!

“Juara bukan lah pengakuan. Juara hanyalah formalitas suatu perlombaan”, begini Widi Pramono, Si Pengronce garap tari “Reroncen”, mengingatkan dengan untaian filosofinya.

[KH/WG]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar