Rekreasi Sarat Edukasi Di Pameran Arsip Dan Bazar Buku Dinas Perpustakaan

oleh
Pembukaan Pameran Arsip dan Bazar Buku. KH/ Kandar.
Pembukaan Pameran Arsip dan Bazar Buku. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Ingin mengajak anak atau teman mengisi waktu luang dengan suasana berbeda. Rekreatif dan tentunya juga edukatif, datang saja ke kompleks Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten (DPK) Gunungkidul di Jalan Kolonel Sugiyono No.35, Wonosari, Purbosari, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sejak Rabu, lalu (12/12/2018) DPK menggelar pameran arsip milik Pemkab Gunungkidul. Bersamaan juga digelar bazaar buku. Pengunjung dapat memilih buku-buku untuk dibeli yang disediakan setidaknya dari 6 penerbit.

Selain dua agenda yang akan berlangsung hingga Senin, (17/12) nanti, berbagai kegiatan juga digelar di tempat yang sama. Bedah buku berjudul “Melawan Pulung Gantung, (Kisah-kisah inspiratif Ketahanan Jiwa Dari Gunungkidul)” menjadi salah satu rangkaian yang diselenggarakan usai kegiatan pameran dan bazar buku dibuka oleh Bupati Gunungkidul, Badingah.

Selain itu, ada Bedah Buku Puisi Buku Anindya Maharani, lomba mewarnai siswa SD, dan diskusi publik ‘Melawan Intoleransi Melalui Karya Sastra’. Sementara untuk setiap harinya selalu diselingi hiburan elektone. Panitia juga menyediakan kado pintar bagi pengunjung yang beruntung selama kegiatan berlangsung.

Dalam kesempatan pembukaan, Kepala DPK Gunungkidul berharap, kegiatan yang digelar dapat menjadi media edukasi. Melalui keikutsertaan atau kehadiran di lokasi pameran, pengetahuan masyarakat dapat meningkat.

“Bahkan, pameran juga bisa menjadi sarana rekreasi sebab disela pameran juga ada kegiatan lain dan hiburan yang menyegarkan, penuh kreativitas dan inovatif,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan, salah satu keberhasilan DPK saat ini yakni mengenai terlampauinya target kunjungan. Selama 2018 DPK telah dikunjungi sebanyak 65.800 warga baik pelajar maupun orang tua. Jumlah tersebut melampaui target yang ditentukan sebanyak 60.000 pengunjung.

Dalam kesempatan pembukaan pula, Badingah menegaskan, kegiatan membaca bukan sekedar mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi masih banyak hal bisa didapat. Sayangnya, kegiatan membaca masih sangat kurang. Masyarakat Indonesia lebih suka melihat dibandingkan harus membaca.

Terlebih kemajuan era internet serta teknologi informasi yang mengagumkan seperti sekarang, perhatian masyarakat seolah-olah ditarik dan memusat pada satu arah. Sehingga kesempatan membaca buku semakin sempit.

Badingah mengamati fenomena masyarakat. Belakangan ini jika waktu luang, dalam rentang 5 menit, orang bakal membagi waktu disela pekerjaan dengan mengecek e-mail, chatting dan menengok berbagai medsos seperti twitter dan facebook serta IG.

“Untuk itu perlu keseriusan kita bersama dalam menumbuhkan minat baca masyarakat, pekerjaan ini memang tidak mudah, namun kita harus berusaha semaksimal mungkin,” ajaknya. (Kandar)

Komentar

Komentar