Putri 21: Pusat Pelatihan Olahan Mocaf Dan Berbagai Hasil Pertanian

oleh
Salah satu kegiatan praktek pengolahan ketela di P4S Putri 21. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Peningkatan nilai tambah hasil pertanian menjadi upaya strategis untuk kembali menaikkan gairah sektor pertanian masyarakat agraris. Dapat menjadi solusi petani yang dihadapkan pada harga jual hasil panenan yang relatif rendah. Maka, mengolahnya menjadi produk jadi dengan berbagai inovasinya menjadi upaya yang paling tepat.

Berangkat dari permasalahan rendahnya harga hasil panenan petani, ibu-ibu di Padukuhan Sumberejo, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY mencoba mengolah berbagai hasil pertanian. Kelompok yang diberi nama Putri 21 ini mengalami perkembangan yang pesat. Berbekal tambahan ilmu mengikuti kursus di Balai Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Gunungkidul, banyak ragam olahan bisa dibuat dari bahan baku hasil pertanian lokal.

Beberapa produk unggulan yang laris bikinan kelompok Putri 21 diantaranya; beras mocaf, mie mocaf, stik ubi, brownies mocaf, aneka keripik, egg roll, lanting, roll cake dan masih banyak lagi. Tak hanya berhenti sebagai penghasil produk olahan bahan lokal saja, Putri 21 kemudian menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Dan Perdesaan Swadaya (P4S).

Lambat laun, kelompok yang diketuai Suti Rahayu ini menjadi tempat studi banding bagi kelompok pengolah lain baik di lungkup kabupaten Gunungkidul maupun luar Gunungkidul. Bahkan tak jarang berbagai kelompok dari daerah di luar Pulau Jawa melaksanakan pelatihan di Putri 21.

“Pernah juga kami mendapat kunjungan dari petani di Comoros, Afrika, Mozambik, dan Fiji. Kami juga sudah menjadi tempat magang/ praktek kerja bagi siswa SPMA/ SMK dan mahasiswa jurusan pertanian,” urai Suti Rahayu, Senin, (9/7/2018).

Lebih jauh disampaikan, P4S Putri 21 merupakan lembaga pelatihan di bidang pertanian dan perdesaan yang dimiliki dan dikelola langsung oleh petani. P4S Putri 21 adalah tempat belajar dari petani, oleh petani dan untuk petani.

Pelatihan atau magang yang dilaksanakan secara umum terdiri dari 80% kegiatan praktek dan 20% sisanya merupakan teori. Di P4S Putri 21 juga disediakan tempat menginap selama pelatihan atau magang. Beraneka mesin berbagai proses pengolahan untuk mendukung praktek juga lengkap tersedia.

Untuk kelompok atau peserta yang datang dari luar Gunungkidul, biaya operasional selama pelatihan, menginap berikut konsumsi untuk satu peserta cukup membayar kontribusi dana sekitar Rp. 1,5 juta untuk pelatihan selama tiga hari. Peserta atau kelompok dapat memilih materi praktek olahan makanan sesuai yang diinginkan. (Kandar)

Komentar

Komentar