Puncak Hari Santri Gunungkidul, Tari Kolosal Lintas Agama Pukau Ribuan Warga

Drama kolosal ‘Kiblat Bumi Nusa’ pada peringatan Hari Santri di Gunungkidul. KH

WONOSARI, (KH),– Drama kolosal yang dipertunjukan dalam waktu 40 menit pada puncak Peringatan Hari Santri di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Minggu, (22/10/2017) memiliki daya pikat yang kuat.

Ribuan masyarakat takjub dengan pagelaran drama kolosal yang diikuti seribu santri dan pemuda lintas agama. Gambaran mengenai kebhinekaan Indonesia tersaji dalam drama kolosal berjudul ‘Kiblat Bumi Nusa’ di Kompleks Alun-alun Wonosari itu.

Ketua Hari Santri Gunungkidul, Taufik Ahmad Sholeh mengatakan, beberapa peserta drama diantaranya berasal dari kelompok paduan suara dari Gereja Kristen Jawa Wonosari, Pemuda Katholik, Pemuda Budha serta Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHBI Gunungkidul.

Taufik mengatakan, pelibatan lintas agama yang dikoordiir oleh Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul dalam kegitan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Hari Santri Nasional 2017. Sebelumnya juga diadakan apel akbar, istighosah kubro, orasi kebangsaan, serta ijazah jalbur rizki,” terangnya.

Menurut sutradara drama, Gondhol Sumargiyono, pertunjukan tersebut secara garis besar mengambarakan perjuangan para santri terhadulu dalam beruang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Drama merupakan kisah santri pada resolusi jihad 22 Oktober 1945 saat melawan penjajah yang dideklarasikan KH Hasyim Asy’ari,” ungkapnya.

Peringatan Hari Santri dengan penampilan drama kolosal seribu santri ini tersebut baru pertama kali dilakukan di Indoenesia. Hal tersebut disampaikan oleh Aminudin Aziz, koordinator Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama atau LESBUMI – NU Gunungkidul.

“Pagelaran drama kolosal ini juga membuktikan kepada masyarakat bahwa santri buka hanya memiliki ilmu agama, namun juga bakat seni dan kreatifitas,” tuturnya.

Pagelaran drama kolosal Kiblat Bumi Nusa tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat. Turut menyaksikan drama kolosal diantaranya Bupati Gunungkidul, Badingah, Wakil Bupati, Immawan Wahyudi, Ketua DPRD Gunungkidul, Suharno, serta tokoh dilingkup Pemkab dan seluruh pemuka agama. (Wibowo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar