Produsen Roster Raup Untung Jutaan Rupiah

PATUK, kabarhandayani.– Minimnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi memaksa mereka berfikir dan bekerja keras dalam mencukupi kebutuhan hidup. Ijazah pendidikan setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) pun tidak laku di dunia kerja selain untuk menjadi buruh yang gajinya cukup rendah.

Berwiraswasta menjadi satu pilihan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Seperti halnya yang dilakukan Anton (30) warga Padukuhan Gambiran, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunungkidul yang memilih menjadi produsen roster.

Roster adalah bagian dari bangunan yang secara fungsional merupakan elemen sirkulasi udara pada bangunan. Roster umumnya memiliki motif-motif tertentu yang bila disusun akan membentuk pola geometris tersendiri, pemakaian roster dalam dunia arsitektur berkembang bukan hanya sebagai ventilasi, namun juga sebagai bagian dari keindahan bangunan eksterior seperti pagar dan aksesoris geometris nan unik untuk bangunan masjid, gereja, taman rekreasi maupun bangunan-bangunan lainnya.

Anton menjelaskan, dalam sehari setiap pegawai mampu membuat sekitar 50 roster dengan bahan baku berupa pasir dan semen yang diaduk menjadi satu. Adonan yang sudah tercampur kemudian dicetak sesuai ukurannya dengan cetakan yang sudah tersedia.

Berdasarkan penuturan Anton, ia sudah menggeluti pekerjaan ini selama 4 tahun. Awalnya ia hanya mengerjakan sendiri, hingga saat ini ia mempunyai 5 pegawai tetap dan 3 pegawai antar barang. Produksi yang dulunya hanya bertempat di rumahnya kini sudah berkembang menjadi 4 lokasi yang tersebar di Desa Bunder dan Putat.

Selain sebagai produsen roster, ia juga membuat batako dan list. Namun ia mengaku, roster merupakan barang buatannya yang paling menguntungkan. Pasalnya, produsen roster dari bahan pasir dan semen di Gunungkidul baru ditempatnya ini sehingga peminatnya cukup banyak. Hingga saat ini ia sudah menjadi penyuplai 7 toko bangunan.

“Setiap hari bikin batako, list dan roster. Sekarang dicetak besuk pagi sudah dikirim sehingga hampir tidak ada stok,” ungkapnya pada Sabtu (12/7/2014).

Khusus untuk roster buatannya ini dijual dengan harga mulai dari Rp 4.000,00, tergantung dari ukuran dan motifnya. Dari usahanya ini, Anton mengaku mendapat laba sekitar 7 juta setiap bulannya dan mampu mempekerjakan warga di sekitar yang dulunya hanya pengangguran.

Rudi (18) salah satu pekerjanya hanya lulusan SMP mengaku sangat terbantu dalam ekonomi. “Dulunya lulus SMP cuma nganggur, mau meneruskan sekolah gak punya biaya. Dan sekarang saya menjadi pegawai tetap dengan upah Rp 50.000,00 per hari,” ungkapnya seraya sibuk mencetak batako. (Mutiya/Hfs)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.