Prihatin Siswa SD Mainan Smartphone, Sekolah Ini Tingkatkan Kegiatan Tambahan

Kegiatan ekstra baca kitab suci digalakkan di MI Yappi Karang. KH

SAPTOSARI, (KH),– Menuruti berbagai fasilitas sesuai permintaan anak tidak sepenuhnya benar. Bukannya memperoleh manfaat, hal tersebut justru dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan psikis dan mengganggu konsentrasi belajar.

Misalnya saja pemberian fasilitas gadget berupa smartphone. Bagi orang tua yang memiliki anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sepantasnya berfikir ulang jika ingin memberikan fasilitas smartphone.

Ungkapan prihatin disampaikan salah satu sekolah setara SD di Saptosari, MI YAPPI Karang. Bagaimana tidak, siswa yang masih duduk di kelas 3 hingga kelas 6 diantaranya sudah memiliki telepon pintar.

“HP anak terkadang lebih bagus dari punya guru. Kalau pengaruh negatif yang dapat timbul dari kemajuan teknologi ini tidak di imbangi dengan upaya penanaman karakter sekaligus memperteguh iman serta ketaqwaan yang kuat, anak-anak akan dapat semakin jauh dengan budaya dan agama yang disebabkab oleh teknologi,“ Kata Laily Fauziah Kepala MI YAPPI Karang, Kamis, (14/9/2017).

Menurutnya, bukan tidak boleh akan tetapi kepemilikan handphone yang belum saatnya atau sesuai umur dinilai tidak baik. Penggunaan teknologi tersebut harus dalam pengawasan orang dewasa. Sekolah, juga berupaya mengambil peran untuk menanggulanginya.

Selain ilmu pengetahuan umum, orientasi pendidikan di MI YAPPI Karang lebih ditekankan kepada ilmu agama. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan budaya serta mempertebal keimanan dan ketaqwaan anak-anak yang terancam luntur akibat berbenturan denganh arus modernisasi.

Dengan sumber daya 6 guru kelas dan 3 guru mapel agama, program kegiatan pembelajaran lebih ditingkatkan. Di antaranya, Madrasah memiliki target siswa hafal juz 30 sebelum lulus kelas 6, selain itu harus tuntas iqro’ untuk kelas 1. Kedua program pencapaian tersebut merupakan kegiatan ekstra yang diberikan sebelum siswa pulang sekolah.

“Siswa juga kami ajak rutin sholat dhuha bersama setiap hari sebelum istirahat pertama. Ada pula kegiatan ekstra hadroh. Madrasah juga memberikan beberapa ekstra wajib diluar bidang agama seperti ekstrakurikuler Drumband dan Pramuka,” imbuh ketua Fatayat Kabupaten Gunungkidul ini.

Dengan pelayanan penyelenggaraan pendidikan yang maksimal, kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan ini meningkat. Hal tersebut terlihat pada tahun pelajaran 2017/ 2018 ini, dimana MI YAPPI Karang untuk pertama kalinya mendapatkan siswa baru diatas 20 anak.

“Murid baru masuk sebanyak 22 murid pada penerimaan siswa baru kemarin. Pada tahun-tahun sebelumnya biasanya hanya mendapat 10 peserta didik,” terang Laily lagi. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar